Sebab Ini Bukan Lagi Soal Rivalitas Yang Hanya Berlangsung Selama 90 Menit

prsija

Pada tanggal 22 Juli kemarin publik dari kedua kota yang terpisah oleh ruas Tol Cipularang mengalami lagi sebuah ajang adu gengsi lewat kancah persepakbolaan tanah air. Kedua kesebelasan dari kedua kota tersebut beradu peluh didalam lapangan guna memperbaiki posisi aman didalam klasemen Liga besutan kerjasama antar korporat ojek online dan aplikasi gawai penyedia piknik.

Pertandingan berlangsung sangat panas, tempo permainan dipaksa keras, pemain antar dua kesebelasan pun saling beradu ego antar satu sama lain. Ya wajar sih namanya juga Derby, skill mengecoh bola urusan belakang, yang penting lawan jadi tumbang (entah itu lawan tim yang bertanding  maupun para pendukungnya)

Sebetulnya menurut dari sudut pandang saya api rivalitas dari kedua kubu yang dipisah oleh adat istiadat berbeda ini sudah mencapai titik paling memuakkan. Bagaimana tidak, disetiap pertandingan Persija dan Persib melawan tim manapun kejadian pengroyokan oleh (mengambil istilah pak polisi) Oknum pasti selalu terdengar di semua kanal berita maupun social media, mereka yang hidup diantara kedua kota Jakarta dan Bandung maupun dikota-kota lain pun kena imbasnya, sialnya juga hampir rata-rata korban pengroyokan hanya salah sasaran Oknum yang terlanjur kalap. Tentunya banyak pihak yang dirugikan setiap kejadian tersebut terjadi, gaung gegap gempita perdamaian pun terdengar hanya seperti omong kosong belaka.

Tapi saya angkat topi tinggi-tinggi untuk para petinggi dari kedua pendukung kesebelasan tersebut..

Paska tiga hari sebelum pertandingan, ketua umum The Jak Mania Ir. Ferry Indrasjarief atau akrab disebut Bung Ferry menyambangi rumah pentolan Viking Bandung yaitu Heru Joko dengan niatan bersilahturahmi sekaligus nyekar ke makam salah satu korban kekerasan saat Derby Elclasico alm. Rangga dan juga dirigen bobotoh yg sangat disegani alm. Ayi Beutik. Menurut saya pertemuan ini adalah salah satu psy-war paling positif, kedua orang yang sangat dihormati dimasing-masing kubunya tersebut meninggalkan semua jubah ke egoan untuk kemudian bersatu dalam alam perdamaian tanpa sekalipun timbul hasrat untuk saling membunuh, yang kalo menurut bahasa John Lennon “I don’t believe in killing whatever the reason!”
Sebab rasa persatuan didalam balutan perdamaian adalah konsekuensi tanpa kompromi menurut mereka.

Tapi sejujurnya saya sangat menyayangkan sekali kejadian yang terjadi sehabis pertandingan itu, sehabis wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan tensi tinggi layaknya sehabis memakan daging kambing 2 Kilogram, salah satu penyerang Persib instan langsung memukul gelandang persija Sutanto Tan. Karena dipicu oleh tekel keras yang dilakukan Sutanto, semua official tim pun berjibaku ke dalam lapangan untuk saling baku hantam maupun melerai. Buntut dari kekisruhan didalam lapangan tersebut, para Bobotoh terpancing emosi, timpukan botol, flare, serta jutaan kata maki meluncur deras menuju kubu Persija Jakarta. Sungguh sebuah kejadian yang sangat memalukan, dimana seharusnya momen derby sarat adu gengsi ini menjadi wadah bagi publik kedua kota untuk bersatu, tapi malah seperti adegan Crow Zero versi suporter.

Nasi sudah menjadi bubur, dan tukang buburnya pun sudah menjadi haji. Cerita lama soal permusuhan ini mungkin akan bertahan hingga puluhan tahun mendatang, hingga papan nisan menjadi saksi bagaimana tindakan ala suku barbar tak lagi kompeten dalam menunjukan eksistensi diri.

Salam Jempol Telunjuk.

 

 

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Tingkat Akhir yang Kebablasan

Mahasiswa tingkat akhir? Hmm.. bukankah sebuah kata yang cukup “menyeramkan” bagi sebagian dari kalian yg sedang genting2nya mencari jati diri di umur 20-sekian?
Yak selamat, kamu never walk alone…

Bagaimana bisa begitu menyedihkannya coba, disaat kebutuhan pokok melambung tinggi, harga pasar tidak stabil yang selalu bikin rakyat miskin mati tercekik secara perlahan dibanding kita para mahasiswa akhir yang sudah pasti terpapar dengan kondisi ekonomi tersebut pasti terkadang ada pikiran yang membatin

“Duh, si anu sepatunya baru…”

“Hadeh ini tempat keren, liburan yuk!”

Dan segala macam keinginan lain-yang sialnya tak terlalu dibutuhkan. Nah, jika sudah begini maka hasrat endofermin {eh, bener gak sih?} yang tertimbun di lapisan otak paling belakang akan cepat berkerja untuk memaksimalkan hasrat kebendaan yang subhanallah duniawi sekali. Padahal dipikir-pikir lagi justru keinginan tersebut bikin kita jadi lebih semangat lagi untuk bekerja, serta memaksimalkan soft maupun hard skill {jika punya}.

Lalu hubungannya apa dengan Mahasiswa Tingkat Akhir?

Ingat wahai mahasiswa yang sedang diujung tanduk D.O…
Masygul peradaban maju ada ditangan kalian, kalianlah sang juru martyr, kalian penguasa matahari!
Mungkin aja kan jika kita lulus tepat waktu tidak ada penemuan baru yang tercipta? Dan ini mengacu kepada bung Bill Gates sang ekspatriat itu, beliau mungkin bukan yang terpandai diantara teman2nya, tapi atas izin Gusti Allah serta niat yang sudah kepalang gigih, beliau membuktikannya. Dan terbukti sekarang sebagian dari kita menjadi penjilat bagi produk2 beliau.

Tapi sebenernya peran universitas penting juga sih kalo dipikir-pikir lagi, bagaimana mungkin logikanya, nyusun skripsi yang maha dahsyat merepotkan itu harus berakhir menjadi barang kiloan sampah? Ya mungkin niatnya bagus, Recycle Use biar go green gitu lho.. etapi ya jangan skripsi juga kalik~ mungkin aja ya kan suatu hari nanti timbul dendam yang amat kesumat bagi Universitas? Disini saya dengan sangat sengaja tidak menulis nama “Universitas” yang dimaksud. Ditambah lagi mungkin Departemen Pendidikan kita belom terlalu tegas memberikan peraturan yang sifatnya untuk kebaikan mahasiswa itu sendiri, seperti contohnya; menghilangkan sistim kejar sks sesuai ipk, karena hal ini sangat menyusahkan mahasiswa waktu mengejar skripsi. Jadi solusi alternatif yang bisa saya berikan mungkin menerapkan peraturan tetap paket sks tidak mempengaruhi ipk, jadi seperti sekolah dulu. Niscaya jika itu diterapkan para koboy-koboy kampus yang rupa nya masya allah oldskool tersebut dapat menghirup udara bebas akademik, untuk sementara sebelum dilepas di belantara rimba kehidupan. Segala sektor di negri kita dipastikan bakal maju, karena fresh graduate nya {diharapkan} menerapkan ilmu yang didapat semasa kuliahnya kepada negara dan bangsa ini tanpa mau disebut sebagai nasionalis.

Yak, diantara segelintir pelik kehidupan yang ada, kita sebagai mahasiswa tua ini harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan ini. Ingat, skripsi tidak akan selesai dengan sendirinya. Jumlah SKS tak akan bertambah sesuai harapan jika kita tidak menjalankan studi jam kuliah yang memuakkan.

Salam Kecebong!

Leave a comment

Filed under Uncategorized, Unmind, Unwriting

Cara Cerdas Melawan Permusuhan

Tulisan ini dikutip dari Mojok

 

Ada beragam cara membalas permusuhan, pelecehan, dan bullying.

Cara pertama dilakukan dengan sepadan: balas dengan telak. Cara ini berpotensi melahirkan dendam kesumat yang diwariskan turun-temurun. Secara psikologis, cara pertama ini juga kurang bagus karena bakal memunculkan paranoid, fobia, hingga trauma.

Cara kedua, balas dengan cinta kasih. Ini cara elegan nan cakep yang dilakukan oleh mereka yang punya mental baja dan ketahanan berproses. Di Liberia dan Sudan Selatan, ibu-ibu yang capek dengan konflik beraroma sektarian melakukan perlawanan dengan cara mogok seks. Mereka nggak bakal mau disetubuhi, kecuali papa-papa itu mau menimbun dulu bedilnya di luar kampung terlebih dulu. Jelas, bapak-bapak memilih kelonan dengan istrinya daripada mencumbu senapan. Aksi ini turut andil menghentikan perang saudara di negara kawasan Afrika tersebut.

Aksi lebih elegan juga dilakukan Nelson Mandela. Saat dilantik sebagai presiden, ia mengundang bekas sipir penjara yang dulu sering melecehkannya di bangku undangan paling depan.

Stok kisah semacam ini banyak kok. Sekali lagi, hanya mereka yang punya ketangguhan mental yang oke yang bisa melakukannya.

Cara ketiga: balas dengan kocak. Apabila balasan dengan senyuman belum cukup, keluarkan pertahanan humor. Ini cara yang sungguh-sungguh membangkitkan tawa sekaligus juga membuat jengkel pihak lawan. Soal ini Haji Agoes Salim, negarawan sepuh pendiri republik ini banyak melakukannya saat berkonfrontasi dengan kelompok komunis maupun dengan politisi negara asing. Spontanitas dan kecerdasannya bermain olah kata membuat pengejek mati kutu dan wajah memerah padam. Google menyimpan banyak kisah tentang kecerdasan Old Great Man ini. Cari saja sendiri.

Di lapangan hijau, Dani Alves melakukannya dengan elegan. Di saat ia bersiap-siap mengambil tendangan sudut, di belakangnya riuh suara pendukung Villareal menirukan suara monyet. Apakah bek Barcelona itu marah karena tindakan rasis suporter lawan yang juga melemparinya dengan pisang? Jelas, ia tersinggung. Tapi ia melakukan tindakan keren: ia ambil pisang yang nyaris mengenai dirinya, mengupasnya lalu menyantapnya. Kemudian ia melaksanakan tugas sebagai penendang sudut. Ini cara melawan rasisme lapangan hijau ala Alves di penghujung April 2014 silam, yang membuat petinggi FIFA angkat topi buat dirinya.

Sebelum Alves melakukan aksi cerdas ini, Samuel Eto’o sudah mengawalinya. Saat berkostum Barcelona dan bertandang di markas lawan, Eto’o adalah target utama rasisme. Ketika ia menggiring bola, teriakan ala monyet bersahutan di stadion. Apakah ia langsung ngambek lalu keluar lapangan seperti yang dilakukan Kevin Prince Boateng di AC Milan? Tidak. Eto’o malah menceploskan gol dan merayakannya dengan menirukan gerakan monyet di hadapan pengejeknya! Ahaaa, aksi tarian monyet ala Eto’o membungkam para suporter rasis.

Bagi saya, hanya mereka yang punya mental tangguh dan cita rasa humor berkelas yang punya gaya unik membalas cemoohan. Tahu bagaimana anak-anak Jokowi bermain olah kata saat di-bully di medsos? Kasihan juga nih orang, mereka di-bullyhanya karena mereka anak Jokowi.

Tapi, saya salut juga dengan cara mereka merespons para pembencinya. Saya ngakak membaca tindakan Gibran dan Kaesang dalam menghadapi kebencian yang dipadupadankan dengan cemoohan itu bukan hanya dengan santai, tapi dengan cerdas dan jenaka.

Papa Doyan Lontong adalah istilah dari Gibran untuk “membalas” tindakan dosen pengecut yang membuat tagar Papa Doyan Lonte. Ada juga istilah “kecebong”, “Oey Hong Liong”, dan “Herbertus”. Di foto terbaru, Kaesang malah pake topi bertuliskan “Kolektor Kecebong”. Pembela Jokowi dan Prabowo pasti sudah paham dengan istilah ini. Tapi, oleh anak-anak Jokowi, ketiga istilah ini malah digunakan secara kocak. Hahaha ….

Ada beragam cara menyikapi segenap kebencian dan serangan verbal. Bisa dengan serius bertele-tele, diiringi seringai dan emosi yang memuncak, atau dengan kelembutan kasih sayang. Bisa juga dengan cara santai, tak terduga, kocak, dan membuat lawan merasa gemas. Cara terakhir ini yang bagi saya unik.

Kini, Kaesang yang lucu itu katanya dilaporkan kepada polisi soal penodaan agama gara-gara bilang “ndeso” saat melihat anak-anak kecil yang dikomando untuk bilang “Bunuh Ahok … bunuh Ahok”. Entah yang dinodai apanya. Sekalian dibikin film sajalah. Bintangnya siapa lagi kalau nggak Reza Rahadian dan Chuck Norris, sama adik saya Chelsea Islan atau sepupu saya si Natasha Wilona itu. Judulnya, “Kaesang yang Ternodai Laporan Polisi”.

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Menghidupkan Thukul Melalui Film

tirtoid-antarafoto-istirahatlah-kata-kata-180117-zk-3_ratio-16x9
Film tentang seorang penyair yang dihilangkan oleh rezim Soeharto, mengambil masa saat bersembunyi dari kejaran tentara dan intelijen Orde Baru. Personal sekaligus politis: menuntut negara untuk segera menuntaskan kasus kejahatan atas kemanusiaan.

“Film ini adalah pengeling-eling. Pengeling-eling bukan sekadar pengingat Wiji Thukul,” kata Yosep Anggi Noen, sutradara Istirahatlah Kata-Kata.

Pengeling-eling dalam bahasa Indonesia berarti pengingat, peringatan, atau kenangan. Namun bagi Anggi, yang lahir dan besar di Yogyakarta dan ketika peristiwa penculikan orang tahun 1997-98 berusia 14 tahun, kata pengeling-eling lebih dari sekadar makna harfiahnya.

“Pokoknya ini pengeling-eling, jangan diterjemahkan, ini maknanya lebih tinggi dari pengingat,” celetuk Anggi.

Sulit bagi Anggi untuk memaknai film Istirahatlah Kata-Kata itu. Kesulitan itu lantaran sosok Wiji Thukul, lakon utama film tersebut, tidak pernah dikenalnya secara langsung. Seperti kebanyakan anak Indonesia generasi tahun 1980-an dan sesudahnya, Anggi mengenal Thukul lewat puisi-puisinya, dan segelintir orang lagi yang tahu Thukul hanya lewat cerita mulut ke mulut para sahabatnya.

Thukul adalah seniman sekaligus aktivis. Ia bagian dari mayoritas masyarakat Indonesia dari pulau Jawa yang miskin, tinggal di pinggiran Kota Solo, yang punya cita-cita keadilan bagi seluruh rakyat di negara kepulauan ini. Ia terlibat dalam satu gelombang besar dari semua kalangan—mahasiswa, pemuda, intelektual, seniman, kalangan terdidik, orang-orang terkenal dan orang-orang tanpa nama—dalam organisasi maupun bukan, yang melihat Indonesia saat itu, sebuah negara yang digerakkan oleh rezim otoriter, telah seenaknya diatur untuk menopang kekayaan pribadi dan jaringan kekuasaan Soeharto sejak 1967.

Kekuasaan itu bernama Orde Baru dan ia ditopang oleh istana, tangsi militer, dan partai tunggal penguasa. Kekuasaan ini lahir lewat pembantaian massal pada 1965-1967, dan selama 30 tahun berikutnya menciptakan pola pembangunan dengan membungkam suara kritis lewat pemenjaraan bahkan pembunuhan. Orang seperti Thukul melihat simbol kekuasaan saat itu, Soeharto, harus ditumbangkan.

Momennya krusial. Pada 1997 krisis finansial menghajar Asia. Indonesia-nya Orde Baru, yang bergantung pada modal asing, sempoyongan menghadapi krisis ekonomi tersebut. Nilai tukar rupiah ke dolar empat kali lebih rendah dari tahun sebelumnya. Inflasi meroket, harga pangan melonjak, dan nilai tukar rupiah terjerembab. Indonesia menghadapi dua agenda politik besar: Pemilu 1997 dan Sidang Umum pada Maret 1998.

Kelompok pro-demokrasi, yang tumbuh pada 1980-an, melihat perlu ada kebebasan politik yang lebih besar.

Thukul dihilangkan pada kurun gelombang protes anti-Orde Baru pada akhir 1990-an itu. Ketika Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, ia tidak terlihat dalam ratusan ribu mahasiswa dan rakyat biasa yang merayakan keruntuhan simbol rezim otoriter itu dengan gegap-gempita. Namanya muncul dalam pemberitaan saat teman-temannya, dan organisasi hak asasi manusia, mulai menyoroti kasus penghilangan secara paksa pada 1997-1998.

Sampai sekarang, bersama 12 aktivis, pemuda, dan mahasiswa lainnya, Thukul tak pernah kembali. Pria berperawakan ceking dengan gigi tonggos dan rambut ikal itu tak pernah dikembalikan oleh negara—institusi yang paling bertanggung jawab untuk menyelidiki kasus ini kepada publik dan terutama bagi keluarga korban.

Saat sebagian besar orang Indonesia membicarakannya, Wiji Thukul adalah nama, tetapi sosoknya sendiri tidak ada.

Bagi Yosep Anggi Noen, apa yang sulit itu—dalam menghadirkan Thukul lewat layar lebar—adalah masa yang hilang justru ketika seharusnya Thukul bisa menikmati kebebasan yang ia cita-citakan. Karenanya, di tengah kampanye agar negara secepatnya melakukan proses pencarian kasus penghilangan orang secara paksa, di saat orang membicarakan puisi-puisi Thukul, Anggi mengambil pilihan yang lebih personal. Ia melihat, bagaimanapun, Thukul ialah manusia biasa.

“Wiji mengalami ketakutan, kesepian, dia punya cinta untuk anak dan istrinya,” ujar Anggi.

Justru karena Thukul adalah manusia biasa, film berdurasi 97 menit yang menceritakan pelarian Thukul di Pontianak itu lahir. Ia juga menjadi sebuah tuntutan agar kasus-kasus kejahatan terhadap kemanusiaan di masa lalu segera dituntaskan.

Riset di Balik Film

Gagasan memfilmkan Wiji Thukul semula datang dari Yulia Evina Bhara, Tunggal Pawestri, dan Okky Madasari.

“Pada 2014, Wiji mendapat penghargaan dari ASEAN Literasi Award. Dari situ kita berpikir, kenapa kita enggak bikin film Wiji? Okky yang punya ide. Saya dan Tunggal langsung setuju,” ujar Yulia Evina Bhara, produser Istirahatlah Kata-Kata usai penayangan perdana di Epicentrum, 16 Januari lalu.

Sebelum ide itu diwujudkan, mereka bertiga mengajak sejumlah aktivis untuk mengapresiasi karya-karya Thukul. Pada 2015, bersama adik Thukul, Wahyu Susilo, mereka terlibat dalam gerakan “Barisan Pengingat”. Ide gerakan ini mengampanyekan kasus penghilangan paksa lewat simbol Wiji Thukul dengan membuat mural di sejumlah titik di Jakarta.

Banyak aktivis yang bergabung dalam gerakan itu. Beberapa diskusi soal Thukul digelar. Puisi-puisi Thukul dibacakan. Gerakan ini juga menerbitkan buku kumpulan puisi Wiji Thukul berjudul Nyanyian Akar Rumput, terbit pada Maret 2014.

Setelah ide membuat film itu muncul, Ebe—sapaan akrab Yulia Evina Bhara—dan teman-temannya melakukan riset tentang Thukul. Mereka mencari literasi yang membahas Thukul, menemui para sahabat, dan mengumpulkan sejumlah puisi Thukul.

Sebelum memulai riset, mereka sudah sepakat menunjuk Yosep Anggi Noen sebagai sutradara.

Pemilihan Anggi tanpa perdebatan. Perdebatan panjang justru terjadi di saat riset, yang memakan waktu nyaris 1,5 tahun sebelum naskah film ditulis Anggi.

Riset itu akhirnya mengarah pada satu fragmen hidup Thukul ketika bersembunyi di Pontianak dari kejaran para tentara dan intelijen Orde Baru. Thukul dicari-cari penguasa karena dituduh “pembuat onar” pada peristiwa 27 Juli 1996—dikenal “Kudatuli”, sebuah serangan yang direncanakan oleh orang-orang pro-Soeharto terhadap kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

“Fragmen saat Wiji di Pontianak ini menunjukkan kegelisahannya, ketakutan. Di situ terlihat bahwa Wiji itu manusia biasa, sama seperti kita,” tutur Anggi.

Untuk mendapat cerita tentang kehidupan Thukul di Pontianak, tim produksi film menemui Martin Siregar, sahabat Thukul, aktivis yang menyembunyikan Thukul di Pontianak. Martin menjadi saksi hidup bagaimana kehidupan Thukul selama di sana.

Dari Martin, tim produksi mendapat banyak cerita. Salah satunya tentang ketakutan Thukul saat bertemu dengan tentara di tempat potong rambut. Thukul yang menyamar dengan nama Paul cuma diam ketika ditanya si tentara tentang asalnya. Fragmen itu tergambar dalam film Istirahatlah Kata-Kata.

Berbeda dengan riset yang berselang lama, pengambilan gambar justru berlangsung 15 hari. Ada dua tempat yang dipakai: Pontianak dan Yogyakarta. Selama 12 hari, kru film mengambil latar Kota Pontianak dan Sungai Kakap. Sementara syuting di Yogyakarta berlangsung dua hari di Kali Duren dan Terban.

“Ada beberapa titik di Pontianak. Kalau di Yogyakarta di kampungnya Anggi. Kalau di Pontianak dipilih karena memang ceritanya tentang Pontianak. Kecuali di Yogyakarta itu karena faktor lebih mudah menjangkaunya,” ungkap Ebe.

Menghidupkan Thukul Melalui Film

Pemilihan Pemeran

Satu malam pada awal tahun 2016, Marissa Anita menerima satu pesan singkat dari Yosep Anggi Noen: “Mar, kamu bisa bahasa Jawa, kan?”

“Iya bisa, kenapa, Nggi? Kamu mau ngajak aku main film?” jawab Marissa.

Tanpa basa-basi, Anggi langsung menawari Marissa untuk memerankan salah satu tokoh dalam film itu. Marissa langsung mengiyakan tanpa pikir panjang begitu mengetahui film tersebut mengangkat sosok Wiji Thukul.

“Saya waktu itu ditawari peran pembantu saja, bukan Sipon, istrinya Wiji. Saya tetap saja mau, karena ini tentang Wiji Thukul. Adalah kehormatan bagi saya bisa terlibat dalam film ini,” kata Marisa sesudah penayangan perdana Istirahatlah Kata-Kata.

Namun, saat proses lokakarya bersama para pemeran lain, Anggi justru meminta Marissa memerankan Sipon. Marissa kaget.

“Saya bilang ke Anggi, ‘Enggak bisa gitu, dong. Ini, kan, peran besar. Enggak bisa gitu saja.’ Tapi Anggi meyakinkan saya, pokoknya bisa,” ujar Marissa.

Marisa memang tidak ada mirip-miripnya dengan Sipon. Sipon bertubuh semok, sedangkan Marissa lebih ramping. Dialek bahasa mereka berbeda. Sipon dengan logat Solo, Marissa akrab dengan dialek Surabaya yang lebih lugas. Perbedaan itu sempat membuat Marissa khawatir. Anggi sendiri meminta Marissa untuk tidak meniru Sipon.

“Saya bahkan tidak boleh bertemu dengan Mbak Sipon supaya saya tidak mengimitasi. Saya diberi kebebasan untuk menginterpretasikan perasaan lakon,” kata Marissa.

Sementara untuk pemeran Wiji Thukul, Anggi mempercayakan kepada Gunawan ‘Cindil’ Maryanto, penulis dan pelakon teater Garasi di Yogyakarta. Dari perawakan, Cindil sedikit mirip dengan Thukul. Mukanya sama-sama terkesan tengil, rambutnya sama ikalnya. Bedanya, Cindil sedikit lebih pendek dan lebih berisi dibanding Thukul yang kerempeng. Untuk lebih membuat mirip, dokter memasang gigi tonggos palsu pada Cindil. Gigi palsu itu membuat Gunawan menjadi cadel, persis seperti Thukul.

Dua peran penting dalam film itu dipilih Anggi karena alasan yang sama. Keduanya sama-sama menguasai panggung. “Marissa sudah terbiasa di depan kamera. Mas Gunawan, enggak usah ditanya, dia itu salah satu pendiri teater Garasi,” ujar Anggi.

Untuk pemeran lain, Anggi menerapkan kriteria yang sama. Edwart ‘Edo’ Boang Manalu, yang memeran Martin, juga pemain teater. Edo sudah terbiasa tampil di panggung. Begitupula Melanie Subono yang memerankan tokoh Ida, istri Martin. Melanie sudah terbiasa di atas panggung sebagai musisi.

“Edo itu memeran Martin menjiwai sekali, bahkan saat adegan ngelap motor, enggak ada falsnya,” kata Anggi.

Melipatgandakan Wiji Thukul

Setelah melalui proses panjang dan memakan waktu nyaris tiga tahun, film Istirahatlah Kata-Kata akhirnya tayang perdana di Festival Film Locarno pada Agustus 2016. Berturut-turtu film lalu diputar di beberapa festival film, di antaranya The Pacific Meridian International Film Festival, Filmfest Hamburg, Festival Des 3 Contines, dan International Film Festival Rotterdam.

Di Locarno, film ini mendapatkan sambutan cukup meriah. Anggi mengungkapkan, ada banyak penonton yang mengikuti sesi diskusi usai pemutaran film. “Kebanyakan mereka penasaran soal siapa itu Wiji Thukul, bagaimana sekarang kasusnya?” ujar Anggi.

Pada saat penayangan perdana di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, film ini mendapat perhatian dari sejumlah pejabat, aktivis, dan selebritas. Beberapa pejabat di antaranya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, dan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid. Dari kalangan artis ada Dian Sastrowardoyo, Fadli Padi, Sarah Sechan, dan Hannah Al Rashid.

Pemutaran perdana itu untuk menyambut penayangan serentak pada 19 Januari di 15 kota di 19 bioskop. Lima belas kota ialah Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Mojokerto, Makasar, Kupang, Pontianak, Medan, Purwokerto, dan Denpasar.

Konsekuensi pemutaran Istirahatlah Kata-Kata di bioskop komersial: ia harus mendapatkan banyak penonton. Jika tidak, napas tayang di bioskop takkan panjang. Karena itu Anggi mengajak warga Indonesia, khususnya anak muda, untuk berbondong-bondong ke bioskop menyaksikan film ini.

“Setelah tidak di bioskop, film ini masih akan terus berjuang untuk bertemu dengan para penonton. Karena itu ajaklah orang-orang terkasih untuk menonton, sebab sejatinya film ini bercerita tentang kehilangan orang yang kita cintai,” ujar Anggi.

Kalaupun film ini tidak bertahan lama di bioskop komersial, Anggi tetap percaya bahwa film Thukul akan memberikan sesuatu bagi demokrasi di Indonesia. Anggi yakin film ini tidak hanya menghidupkan Thukul, tapi juga melipatgandakan sosok Wiji Thukul.

“Ia akan tetap ada dan berlipat ganda,” tutur Anggi.

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Semua Ini Mulai Menyebalkan, Bukan?!

fuk

Sore itu kabut tipis mulai turun di atas punggungan sebuah bukit. Disertai embun yang tipis-tipis menampar wajah. Saya terus berjalan sambil memanggul ransel di punggung dan menenteng tas berisi tenda dome di tangan kanan. Melewati gerbang bambu yang berdesain artsy, memasuki sebuah tenda besar, lalu melintasi beberapa meja kayu yang ditata zig-zag. Ada banyak kesibukan di sana. Saya menyapa sejumlah kawan yang kebetulan berpapasan. Hai kawan, sehat?!…

Sampai akhirnya saya tiba di sebuah area terbuka dengan penampakan panggung musik di ujung sana. Kabut tipis masih memenuhi udara dan sedikit menggangggu pandangan. Hawa dingin mulai menerpa kulit. Pepohonan rindang, rerumputan hijau dan panorama pegunungan tersebar di sekelilingnya. Adem. Sejuk. Saat itu pula, sayup-sayup terdengar lagu “Hoppipolla”-nya Sigur Ros di telinga. Syahdu.

Sebentar, apakah saya sedang berada di dataran tinggi Islandia?!…

Seperti itu momen kedatangan saya pada acara Pena Hitam Art & Music Camp Fest, 24 Januari 2015 yang lalu. Terlalu sempurna, dan sulit untuk dilupakan. Saya hanya bisa berdiri diam dan menikmati lagu “Hoppipolla” hingga usai. Lalu berjalan lagi mencari lahan yang tepat untuk mendirikan tenda. Saya berencana menginap selama dua malam bersama beberapa teman baik. Kemping tipis-tipis.

Well, cerita seru serta ulasan soal kegiatan ini bisa anda telusuri lewat tulisan dan foto-foto milik teman-teman yang sudah dipublikasikan via internet. Coba googlingsaja, saya lagi malas sertakan tautannya. Ya, saya memahami penyesalan anda yang tidak bisa datang ke acara tersebut. So sorry about that.

Memang hidup itu tidak melulu indah seperti yang kita alami saat bersama-sama di Gunung Banyak, Paralayang Batu, kemarin. Pulang dari sana, kita toh kembali menjalani rutinitas yang menjemukan dan bergumul dengan kekacauan yang kerap bikin sebal. Lihat saja apa yang terjadi di sekeliling kita. We’re so fucked up, yeah?!…

Menurut Urban Dictionary, kata Fucked Up bisa diartikan sebagai “A level of status. Typically used in reference to being physically, mentally, morally/asthetically, performance-wise, or even theoretically damaged in some way. It, in and of itself has many gradient levels, such as ‘slightly fucked up’, or ‘extremely fucked up’, but all versions have to do with describing the level of damage. A wonderfully universal root word, to be sure.”

Sementara yang paling saya ingat, Fucked Up adalah band punk/hardcore asal Toronto Kanada yang cukup keren. Saya suka lagu-lagunya. Live-nya juga menarik. Beda dengan band punk/hardcore kebanyakan. Simak saja di YouTube kalau tidak percaya. Saya rekomendasikan semua albumnya, terutama David Comes To Life.

xxxxx

Oke, mari saya ceritakan sedikit soal kondisi kota yang biasanya nampak indah jika dilihat dari atas bukit tempat kami kemping kemarin. Sebuah kota yang sudah saya diami selama hampir seumur hidup saya hingga sekarang. Kota yang entah.

Belakangan, saya mulai sebal tinggal di kota Malang yang makin membingungkan. Yang paling terasa, mulai macet di sana-sini. Apalagi saat akhir pekan ketika para pelancong dari luar kota membanjiri setiap sudut jalan dan spot wisata – Halo Bandung dan Jogja, yuk toss dulu!

“Separah apa sih kemacetan di Malang kok elu sampai mengeluh kayak gitu? Itu sih santapan gua tiap hari di sini,” sindir kenalan saya yang hidup dan tinggal di Jakarta. Dia sinis menertawakan kegelisahan saya yang menurutnya itu adalah perilaku lemah dan cengeng penduduk kota kecil, yang tidak sebanding dengan kesemrawutan hidup di kota Jakarta.

Well, begini Bung, tentunya saya tidak mau menunggu kota Malang jadi ‘separah’ Jakarta, Bandung, Jogja, atau kota-kota besar lainnya untuk menyadari semua masalah itu. Minimal kudu ada yang aware kalau terdapat banyak ketidakberesan di kota ini yang perlu diatasi. Sebelum terlambat.

Di jalanan, kendaraan bermotor sudah terlalu banyak dan dikendarai dengan seenaknya sendiri. Tidak ada yang mau mengalah. Waspadalah dengan ibu-ibu yang mengendarai motor matic, begitu tweet kocak yang saya baca di Twitter kemarin. Zebra cross selalu ‘dimakan’ oleh roda-roda kendaraan, lampu masih kuning sudah pencet klakson berkali-kali. Hari ini, jangankan kita yang manusia, kucing saja sudah kesulitan untuk menyeberang jalan di kota ini.

Urusan rute lalu lintas saja bisa menjadi problem yang rumit dan hampir tak terpecahkan. Seperti rute di Lingkar UB; awalnya dua arah, lalu jadi satu arah, trus balik lagi jadi dua arah. Kemudian ditambah lagi polemik soal bis sekolah (Bus Halokes, kalau kata Pemkot). Sebenarnya itu ide yang bagus, jika tidak malah bikin siswa terlambat masuk kelas atau sudah dibicarakan baik-baik dengan (asosiasi) sopir angkot.

Di kota ini, jalur pedestrian juga semakin minim. Trotoar sudah banyak dikikis demi memberi ruang yang lebih lebar bagi para pengendara bermotor. Jadi siap-siap saja disenggol kendaraan saat berjalan kaki di tepi jalan atau trotoar. Atau mungkin, justru kita sendiri yang sering menyerobot hak para pejalan kaki itu?!

Belum lagi tata kota yang makin simpang-siur. Zonasinya tidak jelas. Ruko dan papan reklame di mana-mana. Pertumbuhan mini market sudah melampaui nalar belanja ibu-ibu di kompleks perumahan. Bangunan-bangunan tua yang bersejarah atau so-called-heritage itu juga kadang dirobohkan, beralih fungsi jadi bangunan modern yang tidak jelas. Perda soal tata ruang, bangunan tua atau cagar budaya seperti semacam mitos di sini.

Oke, mulai ada beberapa taman dan ruang publik di tengah kota. Itu bagus asal dikelola dengan baik dan tepat sasaran. Tapi belakangan saya baca di surat kabar kalau taman-taman itu juga kurang terawat dan fasilitasnya mulai rusak di sana-sini. Eh, ini kota yang berjuluk “Kota Bunga” tapi justru membeli bunga plastik seharga miliaran rupiah untuk tamannya, dipajang di depan gedung balai kota lagi.Huft. Cerdas!

Saya sempat baca komentar dari seorang pakar planologi yang bilang bahwa kota Malang ini semakin tidak jelas karakter dan identitasnya. Benar juga sih. Lha wongbranding-nya juga gak jelas. Jauh sekali dari angan-angan sebagai smart city,apalagi creative city. Sementara soal city branding hanya berakhir pada desain,hashtag, dan trending topic sesaat. Menuju kota yang bermartabat? Mmmh, entah mau dibawa ke mana kota ini sebenarnya…

Jumlah pelajar dan mahasiswa juga makin melimpah, memadati setiap sudut wilayah pendidikan di kota ini. Kampus-kampus hanya menarik mahasiswa sebanyak-banyaknya dengan biaya tinggi. Ada perguruan tinggi di mana rektornya bahkan tidak berani membela kebebasan akademik kampus dan independensi mahasiswanya. Mereka justru tunduk pada kekuatan yang entah, dan ikut serta mematikan daya nalar kritis anak didiknya. Salah satunya adalah “PT Brawijaya, Tbk”, istilah yang dipopulerkan oleh kawan saya yang suka ngopi dan menyanyi lagu-lagu balada, Iksan Skuter.

Di jalanan, mulai muncul ormas-ormas sayap kanan yang tidak jelas. Entah mereka dari mana datangnya. Mereka tiba-tiba saja suka ‘bermain tuhan’ dengan cara sweeping atau menolak apapun yang tidak enak di mata dan batin mereka. Akhir tahun lalu, sejumlah ormas dibantu dengan kekuatan ‘militer’ sukses membubarkan pemutaran film Senyap di beberapa titik.

Lalu juga ada acara diskusi film Samin vs Semen dan Alkinemokiye yang dibubarkan oleh Satpam atas nama petinggi kampus dengan argumen khas Orba Baru. Kampus itu sudah seperti Markas Kodam. Alasannya, muatan film tersebut dinilai tidak sesuai dengan ideologi kebangsaan dan ketuhanan? Paranoia yang tidak logis dan mengada-ada. My ass.

Disadari atau tidak, begitulah kurang lebih gambaran umum kota Malang, belakangan ini. Banyak yang gelisah dan mulai menggerutu. Keluhan itu mulai terdengar, meski pelan, di berbagai sudut-sudut kedai kopi, di ruang makan keluarga, di kantin kampus, hingga di kolom-kolom sosial media.

Ah, atau saya mungkin yang terlalu banyak mengeluh. Hanya bisa menggerutu tanpa kasih solusi. Ada baiknya saya segera menyeduh segelas kopi atau menambah sebotol bir lagi, sembari menaruh tiga lagu yang tepat di playlist; “Malang Nominor Sursum Moveor” (No Man’s Land), “Malang Yang Malang” (Iksan Skuter), atau “Puing” (Neurosesick). Tambahkan lagu-lagu berirama thrash metal agar semua ini semakin ‘fucked up’. Seperti misalnya, mmmh, Municipal Waste?!

xxxxx

Saya teringat sesi diskusi dan open mic yang terjadi di tenda besar dalam kondisi hujan deras pada hari kedua Pena Hitam Art & Music Camp Fest, 25 Januari 2015 lalu. Anak-anak muda dari berbagai daerah itu bergantian menyampaikan opini, kesan dan harapannya. Mereka berbicara banyak soal cara berjejaring, berkarya, bergerak, serta pengalaman mereka mengorganisir komunitasnya. Mereka adalah anak-anak muda yang kreatif, sedikit bandel dan susah diatur, tapi tulus berkarya, jarang mengeluh, serta tidak pernah mengemis pada penguasa.

Kalau sudah begini, siapa yang masih butuh negara atau pemerintah?!

Yeah, we’re gonna fucked ’em up. 

 

*Esai ini rencananya untuk sebuah kolom di Penahitam Fanzine edisi “Fucked Up” (2015), namun gagal muat karena tidak masuk kriteria redaksi. Saya bisa memahami alasannya dan memang kudu belajar (menulis) lebih banyak lagi. Oya, sketsa dasar tulisan ini juga berasal dari salah satu esai yang pernah ada di blog personal penulis.

 

Dikutip dari : sesikopipait.wordpress.com

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Antisipasi Paham ISIS dengan Pemahaman Toleransi Islam

 

Antisipasi tersebut dilakukan dengan memasukkan pemahaman ajaran Islam yang toleran, saling menghormati, dan menghargai nilai-nilai keberagaman dalam kurikulum wajib.

tokoh lintas agama,isis,konferensi persTokoh lintas agama perwakilan HKBP Philadelphia Pendeta Palty Panjaitan, Jamaah Ahmadiyah Indonesia Maulana Zafrullah Pontoh, Ketua Dewan Syura Ijabi-Syiah Jallaludin Rakhmat, Forum Masyarakat Kristiani Indonesia Jerry Rumahtalu, dan Ketua Persatuan Gereja Indonesia Pendeta Phil Erari (kanan ke kiri) mengangkat poster anti-Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dalam konferensi pers penolakan kehadiran ISIS di Indonesia, Senin (4/8) (Dany Permana/Tribunnews).

Seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mengantisipasi munculnya gerakan radikal negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Antisipasi tersebut dilakukan dengan memasukkan pemahaman ajaran Islam yang toleran, saling menghormati, dan menghargai nilai-nilai keberagaman suku, agama, ras, dan budaya, dalam kurikulum wajib di semua lembaga pendidikan.

“Dalam kurikulum kita, ada mata pelajaran wajib yang kita ajarkan yakni Islam Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja). Di mana, pola pikir yang diajarkan terutama untuk pemahamaan agama, yakni dengan cara mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli dengan kaum ekstrim naqli. Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur’an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik,” kata M Syaeful Bahar, Ketua LP Maarif NU Bondowoso, Minggu (10/8).

Diharapkan kata dia, dengan cara berpikir seperti itu, kaum muda NU tidak mudah tergoyahkan dengan paham-paham keagaamaan baru, yang masuk ke Indonesia.

“Jadi memang akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan pemahaman agama Islam “impor” yang sangat radikal, jauh dari wajah Islam yang sesungguhnya. Islam yang menghargai sebuah perbedaan, Islam yang mengajarkan sikap toleransi, sikap saling menghormati, dan tidak memaksakan suatu kehendak. Untuk itu kita proteksi sejak dini, dengan memberikan pemahaman Islam, yang Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi semua manusia dan alam), bukan Islam garis keras,” ujar alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid ini.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) LP Maarif NU Bondowoso, Daris Wibisono, membenarkan jika seluruh lembaga pendidikan di bawah LP Maarif NU sudah menerapkan pelajaran Aswaja dalam kegiatan belajar mengajar.

“Kami sudah mengajarkan mata pelajaran (Aswaja) di seluruh lembaga pendidikan kamu. Saat ini tercatat ada 32 lembaga pendidikan formal yang berdiri dibawah LP Maarif NU. Lembaga itu mulai dari tingkat SD hingga SMA,” ucap dia.

Daris berharap, dengan mata pelajaran Aswaja yang diajarkan di seluruh lembaga pendidikan NU, seluruh peserta didiknya mampu berfikir luas, sehingga tidak mudah dimasuki dengan paham-paham Islam baru.

(Ahmad Winarno/Kompas.com)

dikutip dari NatGeo Indonesia

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Misteri Kematian Elisa Lam di Hotel Cecil – Terpecahkan?

Di sebuah hotel yang memiliki sejarah kelam di pusat kota Los Angeles, mayat seorang perempuan ditemukan di dalam tangki air di atap hotel dan akses menuju atap hanya bisa dilakukan lewat tangga darurat dan sebuah pintu yang terkunci rapat. 

Ini bukan bagian dari naskah buku detektif Conan. Peristiwa ini benar-benar terjadi dan telah memicu perbincangan hangat di seluruh dunia. Para penggemar misteri hingga pengguna internet untuk seketika lamanya bermain menjadi detektif dunia maya. Semuanya dilakukan dalam usaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Elisa Lam.
 
Peristiwanya dimulai pada tanggal 19 Februari 2013 ketika para penghuni hotel Cecil di pusat kota Los Angeles mengajukan komplain kepada pengurus hotel mengenai aliran air yang terlalu kecil. Jadi seorang petugas pemeliharaan segera mengambil kunci pintu menuju atap hotel dimana tangki penampungan air berada.
 
Apa yang ditemukannya segera menimbulkan gelombang kejut ke seluruh penghuni hotel. 
 
Di dalam salah satu dari empat tangki yang ada di atap itu, ditemukan sesosok mayat yang diidentifikasi sebagai Elisa Lam, salah satu penghuni hotel yang telah dinyatakan hilang selama lebih kurang 19 hari.
Elisa Lam adalah seorang mahasiswi di University of British Columbia, Kanada. Usianya 21 tahun dan pada tanggal 26 Januari 2013 pergi ke Los Angeles seorang diri dan check in ke hotel Cecil. Ia terlihat terakhir kali oleh staf hotel pada tanggal 31 Januari.
 
Pada tanggal 13 Februari, kepolisian Los Angeles merilis sebuah rekaman CCTV lift hotel untuk meminta bantuan masyarakat yang mungkin melihat Elisa.
 
Pada tanggal 19 Februari, mayat Elisa Lam ditemukan di dalam tangki air.
 
Ada dua hal yang menjadi misteri utama dalam kasus ini. Yang pertama adalah apa yang sedang dilakukan Elisa di dalam lift yang terekam oleh CCTV dan yang kedua adalah bagaimana Elisa bisa naik ke atap dan masuk ke dalam tangki.
Dalam rekaman CCTV yang dirilis pihak kepolisian, terlihat kalau Elisa Lam bertingkah cukup aneh. 
 
Ia masuk ke lift di lantai 14, kemudian menekan beberapa tombol sekaligus sambil mendekatkan kepalanya. 

Lalu ia menunggu pintu lift tertutup.

Pintu Lift tidak kunjung tertutup. Jadi Elisa memeriksa keluar dengan cara yang tidak biasa.

Setelah memastikan tidak ada yang aneh, ia kembali masuk ke lift, berdiri sebentar, lalu merapat ke sudut lift seakan-akan sedang bersembunyi dari seseorang.

Lalu ia keluar lift lagi, melihat ke kiri kanan dan masuk kembali ke dalam lift sambil menekan-nekan ulang tombol lift.

Setelah itu ia kembali keluar. Di sebelah kiri lift, ia menggerak-gerakkan tangan seperti sedang menari atau berenang. Lalu ia pergi dan pintu lift tertutup.

 
 
 
Berikut videonya:
 
Apa yang sedang terjadi pada Elisa Lam di dalam lift tersebut? Mengapa ia bertindak begitu aneh?
 
Lalu, bagaimana ia bisa berada di dalam tangki? bagaimana caranya naik ke atap yang terkunci?
 
Jika Elisa Lam dibunuh, maka lokasi dan kondisi yang menyertai penemuan mayatnya menunjukkan kalau pembunuhan ini adalah sebuah kejahatan yang sempurna.
 
Menurut pihak kepolisian, mereka memiliki lebih dari 100 jam rekaman CCTV di dalam hotel Cecil, namun memutuskan hanya merilis rekaman di dalam lift tersebut untuk mempermudah warga yang mengenalinya karena Elisa Lam yang terlihat di rekaman tersebut agak berbeda dengan foto-foto di facebooknya.
 
Pada tanggal 22 Februari 2013, pihak kepolisian menyelesaikan otopsi dan mengumumkan kalau penyebab kematian Elisa belum bisa dipastikan dan pengumuman selanjutnya akan menunggu hasil pemeriksaan toksikologi terlebih dahulu.
 
Pada tanggal 21 Juni 2013, seluruh pemeriksaan selesai dan pihak kepolisian mengumumkan bahwa kematian Elisa Lam terjadi akibat “Accidental Drowning” atau tenggelam karena kecelakaan. Pemeriksaan ini juga menemukan kalau Elisa menderita Bipolar Disorder (Penyakit mental yang berhubungan dengan perubahan mood yang drastis) yang yang bisa jadi berkontribusi terhadap kecelakaan ini. Pihak kepolisian tidak mengelaborasi lebih lanjut. 
 
 
 
Jadi tidak ada aksi “kejahatan sempurna” seperti yang diperkirakan banyak orang. 
 
Pengumuman ini membuat keluarga Elisa cukup kecewa karena tidak ada keterangan bagaimana Elisa bisa sampai ke atap.
 
Apakah pihak kepolisian benar-benar telah menyelesaikan kasus ini? ataukah ada kemungkinan lain?
 
Sebelum kita berspekulasi yang aneh-aneh, kita perlu menyadari satu hal.Kasus ini tidak akan bisa dipecahkan hanya dengan melihat beberapa foto dan rekaman serta membaca beberapa cuplikan berita. Bahkan di dalam film-film fiksi, para detektif brilian membutuhkan akses ke berbagai informasi untuk memecahkan suatu kasus pembunuhan.
 
Dalam kasus Elisa Lam, kita butuh semua rekaman CCTV dari hotel Cecil. Kita juga butuh transkrip wawancara dengan semua karyawan dan tamu hotel. Lalu, hasil pemeriksaan lokasi tangki dan jalur menuju atap, sidik jari yang ditemukan, hasil pemeriksaan kamar tempat Elisa menginap, ponsel Elisa dan masih banyak lagi. 
 
Tanpa semua itu kita hanya memiliki spekulasi. 
 

Namun, untuk membuka pikiran kita, saya kira tidak ada salahnya untuk mereview kembali kasus ini. Sama seperti postingan saya sebelumnya mengenai tabrakan pesawat Boeing Air China, tulisan ini hanya untuk melihat beberapa kemungkinan dan tidak bertujuan untuk memastikan apa yang sesungguhnya terjadi terhadap Elisa Lam.

 
Kemungkinan  Pertama – Pembunuhan oleh Iluminati
Saya tidak sedang mengada-ngada. Teori ini diajukan oleh banyak penganut teori konspirasi di internet. Alasannya adalah nama “Elisa Lam”. Tidak berapa lama sebelum kematian Elisa, di wilayah itu terjadi wabah TBC. Salah satu metode untuk mendiagnosa keberadaan penyakit tersebut pada pasien HIV adalah “LAM-ELISA“. 
Jika kalian tidak percaya, kalian bisa menggooglingnya dan menemukan keterangan tentang metode ini.
Berdasarkan pada kesamaan ini, para penganut teori konspirasi mengambil kesimpulan bahwa kematian Elisa digunakan oleh Iluminati untuk memperingati warga Los Angeles mengenai serangan senjata biologis yang akan segera datang.
Bingung?
Saya juga. Tapi, tidak bisa disangkal, ada kebetulan yang luar biasa disitu.
Kemungkinan kedua – Pembunuhan oleh Hantu
Para pengguna internet di Asia mulai menghubungkan kematian Elisa dengan hantu. Sebabnya adalah karena rekaman CCTV yang misterius tersebut dan adanya kesamaan antara kondisi kematian Elisa dengan adegan dalam film horor “Dark Water“.
Lalu, sejarah kelam hotel Cecil menunjukkan adanya kematian-kematian misterius lainnya. Hotel Cecil berdiri pada tahun 1927. Richard Ramirez dan Jack Unterweger, dua pembunuh berantai termashyur diketahui tinggal di hotel itu sementara melakukan kejahatannya. Tahun 1950an hingga 1960an, hotel ini menjadi sangat terkenal karena beberapa pengunjung bunuh diri dengan melompat dari jendela.
Apakah mungkin roh-roh penasaran dari masa lampau kembali datang dan menghantui Elisa?
Kemungkinan ketiga – Pembunuhan (bukan oleh Iluminati atau hantu)
Beberapa media menyebutkan kalau Elisa ditemukan di dalam tangki dalam keadaan telanjang.

Sebelum mayatnya ditemukan, pihak kepolisian sudah pernah mencari Elisa ke atap hotel dan mereka tidak menemukan pakaian disana. Ini berarti Elisa mengalami kejahatan seksual dan pembunuhnya membawa pakaiannya pergi untuk menghapus jejak, atau minimal untuk menunda penemuan mayat supaya ia punya waktu untuk melarikan diri.

Jika ini yang terjadi, pembunuhnya pastilah seorang pria berbadan besar karena dibutuhkan kekuatan yang cukup besar untuk mengangkat mayatnya lewat tangga ke dalam tangki. 

 
Atau… bisa juga pembunuhnya tidak berbadan besarJIka demikian adanya, maka kemungkinan besar Elisa mengenalnya.
Bisa saja ia bertemu dengan seseorang yang dikenalnya di hotel. Lalu pembunuh itu mengirimnya pesan untuk bertemu di lantai 14, mungkin dengan ajakan untuk melihat pemandangan kota Los Angeles di malam hari lewat jendela kecil di lantai itu.  Atau sang pembunuh memang tinggal di lantai tersebut (Elisa tinggal di lantai 4 dan lift yang terlihat di CCTV adalah di lantai 14).

Di lift, Elisa memutuskan untuk bermain-main sebentar. Ia membuka lift, lalu menekan tombol door hold, bersembunyi di sudut lift. Tujuannya untuk mengagetkan sang teman jika ia masuk ke dalam lift. Karena tidak kunjung datang, Elisa memutuskan untuk membatalkan permainannya.

Mengenai gerakan anehnya di dalam lift, mungkin karena Elisa bosan dan sedang ingin sedikit merilekskan pikirannya.

Walaupun ia gagal mengagetkan temannya, namun, acara melihat pemandangan tetap berlanjut.  Elisa keluar lift, bertemu dengannya di lantai 14. 

Sang pembunuh mengusulkan untuk naik ke atap demi mendapatkan pemandangan Los Angeles yang lebih jelas. Setelah Menyadari pintu menuju atap terkunci, mereka naik ke atas lewat tangga darurat. 

Sesampainya di atap, pembunuh itu mengajaknya naik ke “storage room”. Lalu disana Elisa dibunuh, mungkin dengan memberinya semacam obat yang membuatnya kehilangan kesadaran. Dari situ, tidak terlalu sulit memasukkan mayat Elisa ke dalam tangki, seperti yang terlihat pada foto di bawah ini. 

Karena obat yang diberikan hanya dalam dosis ringan, mayat yang sudah membusuk selama belasan hari akan melenyapkan jejak-jejaknya sehingga lolos dari penyelidikan petugas toksikologi.

Kemungkinan terjadinya pembunuhan memang menjadi spekulasi banyak orang. Namun, sebaik apapun teori mengenai cara pembunuhan dilakukan akan menjadi tidak masuk akal. Alasannya sederhana.

Seperti yang saya katakan, pihak kepolisian memiliki akses terhadap seluruh CCTV gedung. Jika pihak hotel memasang CCTV di dalam lift, bisa dipastikan kalau mereka juga memasangnya di lorong hotel. Apabila Elisa memang bersama seseorang pada hari itu, pastilah CCTV akan menangkapnya dan polisi sudah akan memiliki seorang tersangka. Jika Elisa tidak bersama seseorang, pastilah polisi juga sudah memeriksa CCTV untuk melihat siapa saja yang pernah naik ke atap atau turun dari atap. 

Namun, tidak ada rilis mengenai semua ini yang berarti kemungkinan memang tidak ada pembunuh.

Kemungkinan keempat – Kecelakaan 

Seperti yang sudah saya katakan di atas, pihak kepolisian mengumumkan kalau kematian Elisa disebabkan oleh “Accidental Drowning”.  Jawaban ini tidak memuaskan banyak pihak, termasuk keluarga Elisa sendiri.

Bagaimana mungkin kasus seaneh ini dianggap sebagai kecelakaan? Mungkinkah pihak kepolisian salah dalam mengambil kesimpulan?

Memang ada kemungkinan itu. 

Melakukan otopsi terhadap mayat yang diambil dari air bukan sesuatu yang mudah. Untuk menentukan apakah seseorang tewas karena tenggelam, tim forensik umumnya akan melihat air di dalam paru-paru atau keberadaan diatom (sejenis algae mikro) di dalam jaringan tubuh. Bukan hanya itu, tim forensik juga akan melihat apakah ada vegetasi di telapak tangan korban. 

Jika seseorang tenggelam, maka reaksi pertamanya adalah menjangkau benda atau permukaan yang bisa disentuhnya. Karena itu, seringkali korban tenggelam  memiliki sisa-sisa vegetasi air di tangannya (Untuk kasus Elisa, hal itu menjadi tidak mungkin karena ia bukan tenggelam di sungai, melainkan di sebuah tangki penampungan air yang tidak bervegetasi).

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, pihak kepolisian akan meminta bantuan toksikologis untuk memeriksa apakah ada zat-zat kimia atau obat-obatan di dalam mayat. Jika mayat telah mengalami pembusukan, maka toksikologis bisa memeriksa Vitreous Humor (sejenis gel yang berada di antara lensa dan retina mata) atau bahkan bakteri dan belatung yang ditemukan.

Untuk mendapatkan hasil yang akurat, pihak toksikologis perlu mendapatkan riwayat kesehatan korban untuk mencocokkan obat-obatan yang ada di dalam sistem tubuhnya. Inilah yang menyebabkan hasil toksikologis Elisa baru bisa keluar empat bulan setelah kematiannya. Pihak kepolisian mengaku mengalami kesulitan mendapatkan riwayat kesehatan itu. 

Intinya, yang ingin saya katakan adalah teknologi masa kini mampu mendeteksi keberadaan zat-zat kimia di dalam mayat, bahkan yang telah membusuk sekalipun.

Jika tidak ditemukan tanda-tanda seperti alkohol, obat-obatan, serangan jantung atau pukulan benda tumpul, maka mereka mengambil kesimpulan kalau korban tewas karena tenggelam. Jadi, memang pihak kepolisian bisa salah karena mereka hanya mengeliminasi beberapa kemungkinan untuk sampai kepada kesimpulan tenggelam. Tapi kemungkinan kesalahan itu sangat kecil.

Dalam kasus Elisa, pihak forensik tidak menemukan tanda-tanda kekerasan atau adanya obat-obatan di dalam tubuhnya sehingga kesimpulan kecelakaan pun diambil.

Jika mereka mengambil kesimpulan seperti itu, pastilah dengan alasan yang kuat. Jika mereka tidak mengelaborasi lebih lanjut, kemungkinan karena memang tidak ditemukan unsur kriminal sehingga penyelidikan dihentikan. Wajar saja. 

Namun, kesimpulan ini punya lubang. Jika memang kematiannya diakibatkan karena kecelakaan, bagaimana mayat itu bisa berada di dalam tangki? Apakah Elisa naik ke atap untuk melihat pemandangan malam dan kemudian terpeleset ke dalam tangki? Bukankah tangki airnya tertutup? 

Karena itu, ada kemungkinan terakhir yang mungkin lebih masuk akal dibanding karena kecelakaan. 

Kemungkinan kelima – Bunuh Diri
Sampai sejauh ini kita bisa mengetahui kalau pihak kepolisian memiliki informasi sebagai berikut:

1. Tidak ada tanda-tanda pembunuhan pada mayat.
2. Tidak ada tanda-tanda overdosis obat atau racun pada mayat.
3. Tidak ada tanda-tanda kalau Elisa bertemu dengan seseorang di hotel.
4. Elisa Lam memiliki riwayat Bipolar Disorder. 

Dari keempat informasi ini, jelas kalau kemungkinan pembunuhan bisa dieliminasi sehingga hanya tinggal dua yang paling mungkin, yaitu karena kecelakaan dan karena bunuh diri. Diantara keduanya, saya lebih condong ke bunuh diri. Jika kesimpulan bunuh diri diambil, maka banyak pertanyaan yang bisa terjawab dengan mudah. Misalnya beberapa pertanyaan sebagai berikut:

1. Mengapa Elisa Lam bepergian sendiri ke Los Angeles?

Memang tidak ada yang bisa memberikan jawaban yang pasti soal ini. Namun kemungkinannya adalah karena ia ingin menyepi. 

Menurut Michaelshouse.com, salah satu organisasi yang berhubungan dengan kecanduan alkohol, obat-obatan dan masalah mental, gejala-gejala yang bisa dijumpai pada penderita Bipolar Disdorder adalah:  

“The symptoms of bipolar disorder and drug addiction are often similar, including: depression, mood swings, hopeless feelings, social withdrawal, anxiety and other behaviors.” 

Saya tidak akan heran jika Elisa pergi ke Los Angeles sendirian karena memang sedang ingin menyendiri. 

 
2. Mengapa Elisa Lam bertingkah aneh di dalam lift? 

Sebelum saya menjawab pertanyaan ini, ada yang perlu kita ketahui terlebih dahulu. Rekaman CCTV tersebut bisa saja menjadi kunci pemecahan misteri ini atau tidak sama sekali. Soalnya kita tidak tahu pasti tanggal berapa rekaman itu diambil. 

Namun karena Elisa check in ke hotel pada tanggal 26 Januari dan terakhir terlihat pada tanggal 31 Januari, maka kita bisa menyimpulkan kalau rekaman itu kemungkinan diambil pada tanggal 31 Januari.

Kita tahu Elisa ditemukan pada tanggal 19 Februari, namun forensik tidak bisa memastikan kapan Elisa tewas. Udara dingin dan tidak adanya serangga di dalam tangki bisa memperlambat proses pembusukan sehingga mempersulit identifikasi waktu tewasnya.
 
Jadi, bisa saja ada selang beberapa hari antara terjadinya peristiwa lift dengan tewasnya Elisa sehingga rekaman tersebut tidak berarti bisa memberikan kepada kita sebuah petunjuk. 

 Namun bagaimanapun juga perilaku yang ditunjukkan di dalam lift tetap menarik karena sangat tidak umum. Yang bisa saya berikan adalah beberapa kemungkinan lagi.

a. Elisa sedang mabuk obat atau alkohol. 
  
Teori ini akan kembali kepada Bipolar Disorder yang diidapnya. Sebelum hasil toksikologi Elisa keluar, rekaman CCTV di lift tersebut diperlihatkan kepadaTrinka Porrata, seseorang yang ahli dalam masalah obat bius. Walaupun ia tidak bisa memastikannya, namun Trinka menduga bahwa Elisa berada di bawah pengaruh obat-obatan. 

Ketika hasil toksikologisnya keluar, kita bisa mengetahui bahwa ternyata obat-obatan bukan faktor yang menyebabkan Elisa bertingkah seperti itu. Kalau begitu apa? 

Kemungkinannya adalah Elisa sedang mabuk alkohol. Jawaban ini sangat sederhana dan terkesan menunjukkan kemalasan berpikir. Tapi saya punya dasar untuk mendukungnya.

Menurut statistik, sekitar 60% dari penderita Bipolar Disorder mengalami kecanduan obat-obatan atau alkohol. Ini disebabkan karena mereka biasa lari ke alkohol untuk mengurangi depresi.

Lalu mengapa laporan toksikologis tidak menyinggung apa-apa soal alkohol?

 Jika peristiwa lift memiliki selang waktu beberapa hari dengan kematian Elisa, maka jejak-jejak alkohol bisa tidak ditemukan di tubuhnya.

Jika kita meminum alkohol, maka jejak-jejak alkohol tersebut akan lenyap lewat nafas, keringat, urin dan metabolisme. Jejak-jejak tersebut bisa segera hilang dari tubuh kita dalam tempo 10 jam hingga beberapa hari (Tergantung berapa banyak kita meminumnya).

Persoalan dengan teori ini adalah Elisa tidak atau kurang terlihat seperti orang mabuk. Cara ia berjalan tidak seperti seseorang yang sempoyongan. Satu-satunya tindakan yang membuatnya terlihat seperti orang mabuk adalah gerakan tangannya.

b. Tindakan Elisa hanya iseng.

Berapa banyak dari antara kalian yang sering melakukan gerakan aneh atau lucu jika sedang sendirian? Berapa banyak di antara kalian yang suka membuat ekspresi lucu ketika sedang bercermin? Saya yakin cukup banyak. 

Perilaku aneh Elisa bisa jadi hanya karena ia seorang yang cukup “animated”. Mungkin terpengaruh oleh Bipolar Disorder yang diidapnya.

c. Bipolar Disordernya kambuh karena tidak meminum obat.

Ini adalah kemungkinan yang paling kuat. Penderita Bipolar Disorder seringkali memiliki gejala yang mirip dengan pengguna Obat bius dan penderita ADHD sehingga tindakan aneh Elisa di dalam lift bukan lagi menjadi sebuah misteri.

Itu adalah tiga kemungkinan untuk menjawab perilaku aneh Elisa di dalam lift. 

3. Kalau memang ia bunuh diri, mengapa aktivitasnya sebelum kematian tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bunuh diri? 
Benar. Sebelum kematiannya, Elisa mampir ke sebuah toko buku di sekitar hotel yang ironisnya bernama “The Last Book Store” dan membeli beberapa buku dan piringan. Ia mengatakan kepada penjaga toko bahwa buku dan piringan tersebut akan diberikan kepada orang tuanya sebagai oleh-oleh. 

Orang yang berniat bunuh diri tidak akan membeli oleh-oleh. 

 
Namun ada kemungkinan lain. 

Keinginan untuk bunuh diri itu bisa muncul tiba-tiba jika ia mendapatkan kabar yang membuatnya depresi atau jika Bipolar Disordernya kambuh. 

Menurut statistik, di kalangan penderita Bipolar Disorder, tingkat bunuh diri tahunannya 20 kali lebih besar dibanding populasi pada umumnya. Sedangkan 25%-50% penderita Bipolar Disorder pernah mencoba untuk bunuh diridan keinginan untuk bunuh diri tersebut bisa muncul secara tiba-tiba.

4. Lalu bagaimana Elisa bisa sampai ke atap? Bukankah pintu menuju atap selalu terkunci dengan alarm? 
 
Banyak orang mempermasalahkan akses ke atap gedung yang sepertinya tidak mungkin. Tapi, seringkali kita lupa bahwa akses menuju atap tidak hanya bisa dilakukan lewat pintu atap. Akses itu juga bisa dilakukan lewat tangga darurat.Dan percaya atau tidak, pintu menuju atap gedung sebenarnya tidak selalu terkunci. Jadi, menurut saya ini bukan masalah. 

Di youtube, ada sebuah video dari seorang citizen journalist yang merekam pemandangan tangki air yang diambil dari atap hotel Cecil. Saya tidak tahu apakah ia memiliki ijin untuk naik ke atas. Namun jika tidak, ini menunjukkan bahwa akses menuju atap tidaklah begitu sulit.

Berikut videonya:

Ada satu hal lagi yang menarik dari video ini. Jika kalian memperhatikan baik-baik rekaman ini, kalian bisa menemukan banyak coretan-coretan di atap hotel dan di tangki air. Coretan-coretan tersebut terlihat seperti dibuat oleh orang-orang iseng. 
 

Jika demikian, bukankah itu menunjukkan bahwa akses menuju atap bisa ditembus dengan mudah?

5. Jika Elisa memang bunuh diri, mengapa ia melakukannya dalam keadaan telanjang?

Jika kita melihat kembali pada kasus-kasus bunuh diri di masa lampau, kita bisa menemukan kasus-kasus unik dimana bunuh diri dilakukan dalam keadaan telanjang. Fenomena ini dikenal dengan sebutan Naked suicide. Jadi, bukan sesuatu yang aneh. Fenomena ini memang belum bisa dipahami sepenuhnya sehingga membuat para psikolog secara khusus mempelajarinya. 
 
Selain itu, ada lagi kemungkinan lain. Yaitu tubuhnya tidak ditemukan dalam keadaan telanjang. Ini memang agak simpang siur dan media pun menjadi sedikit kebingungan. Contohnya berita dari examiner.com berikut ini.
Dari url yang saya lingkari, terlihat kalau examiner.com awalnya memberitakan bahwa mayat Elisa ditemukan dalam keadaan telanjang. Namun sepertinya mereka telah mengkoreksinya dan menghilangkan kata “Naked” dari headlinenya walaupun kemudian mengutip CBS Los Angeles yang memberitakan bahwa Elisa ditemukan dalam keadaan telanjang (nude). Namun jika kita masuk ke website CBS Los Angeles dan memutar video yang ada disitu, kita tidak akan menemukan kata nude disebutkan.Hanya media yang mengutip penyiar radio Claudia Peschiutta yang menyebutnya telanjang. Media-media lain tidak menyebutkan kondisi tersebut.

Maksud saya adalah, ada kemungkinan kalau media salah memberitakan kondisi penemuan mayat karena memang tidak ada rilis resmi dari pihak kepolisian yang menyebutkan soal itu. Namun kalaupun benar Elisa ditemukan dalam keadaan telanjang, maka jauh lebih masuk akal mengatakan ia tewas karena bunuh diri dibanding karena kecelakaan.

6. Jika Elisa bunuh diri, mengapa tangki air tertutup ketika ditemukan? Bukankah mustahil bisa menutup tangki air dari dalam?

Masalah tutup tangki memang menjadi sangat penting. Jika tutup tangki ditemukan dalam kondisi tertutup, maka kemungkinan terjadinya pembunuhan menjadi sangat besar. Namun seperti yang sudah saya katakan di atas, saya berasumsi bahwa polisi sudah melakukan tugasnya meneliti semua rekaman CCTV di dalam hotel dan tidak menemukan unsur pembunuhan dari sana. Dengan demikian kemungkinan keduanya adalah bunuh diri.

Kebanyakan orang akan berpendapat bahwa mustahil menutup tangki dari dalam. Namun sebenarnya tidak demikian. Ketika mayat Elisa ditemukan, tangki memang ditemukan dalam keadaan tertutup (dikonfirmasi oleh wawancara dengan pihak kepolisian). Namun jangan melupakan satu hal, yaitu faktor air.

Ketika mayat ditemukan, air tangki penuh sekitar 75%. Dengan kondisi ini,sangat mungkin pada saat Elisa masuk ke dalam tangki, airnya masih penuh.

Jika kita melihat desain tutup tangki, kita bisa melihat ada dua tonjolan di salah satu sisinya. Kemungkinan dua tonjolan ini adalah engsel. Artinya pintu tersebut seperti sebuah jendela yang terkait di salah satu sisinya. Jika Elisa masuk ke dalam tangki yang penuh dengan air, ia bisa mengambang dan menarik tutup tersebut. Sama sekali tidak mustahil.

7. Kalau memang Elisa bunuh diri, mengapa ia menenggelamkan diri ke dalam tangki dan bukan melompat saja dari atap gedung? 
 
Sebelum menjawab ini, saya akan berikan satu lagi alasan mengapa saya menganggap kematian karena bunuh diri lebih mungkin karena kecelakaan.
Ini karena di masa lampau, kasus penemuan mayat di dalam tangki umumnya terjadi karena bunuh diri. Luar biasanya, salah satu yang mirip dengan kasus Elisa Lam adalah kasus yang menimpa pekerja wanita, warga negara Indonesia, di Singapura.
Bulan mei 2011, mayat Ruliyati ditemukan di dalam tangki air blok 686B, apartemen Woodland, Singapura. Ketika ditemukan, pertanyaan yang muncul sama dengan kasus Elisa. 

 

Deja Vu?

Awalnya, kasus ini dianggap sebagai pembunuhan. Namun belakangan terungkaplah masalahnya yang sebenarnya. Ruliyati memiliki seorang kekasih bernama Repon Mustafa. Majikannya yang tidak suka melihatnya berhubungan kemudian meminta Ruliyati untuk memutuskan hubungan dengan pria tersebut. Ruliyati yang depresi kemudian berencana bunuh diri bersama Repon dan keduanya sepakat untuk melakukannya di tangki air. Pada detik terakhir, Repon berubah pikiran sedangkan Ruliyati menyelesaikan niatnya dengan menenggelamkan dirinya sendiri. (baca disini)

Mungkin diantara kalian ada yang bertanya, “Mengapa Ruliyati (ataupun Elisa) memutuskan untuk bunuh diri di dalam tangki? mengapa tidak terjun saja dari atap apartemen? Bukankah lebih mudah?” 

Well, pertanyaan seperti itu tidak akan pernah bisa dijawab. Ada yang memilih bunuh diri dengan racun, ada yang dengan membakar diri, ada yang menembak kepalanya, ada yang gantung diri dan ada yang terjun dari ketinggian. Semuanya tergantung pilihan masing-masing dan kita yang tidak memahaminya memang akan terus mempertanyakannya. Tapi itulah kenyataannya.

Kesimpulan

Karena pihak kepolisian sudah menyebutnya sebagai kasus kecelakaan, maka saya rasa kita tidak akan bisa berharap adanya penyelidikan lebih lanjut sehingga satu-satunya cara agar kasus ini bisa menjadi lebih jelas adalah: Pihak keluarga perlu menyewa detektif swasta. 

Ia bisa memeriksa kembali petunjuk-petunjuk yang dimiliki oleh pihak kepolisian dan mengambil kesimpulannya sendiri.

Namun jika kalian menanyakan pendapat saya, maka saya lebih condong ke kasus bunuh diri dibanding kecelakaan. Tapi kesimpulan dari pihak kepolisian pun tidak akan saya permasalahkan. 
 
 
Dikutip dari Blog X-files Enigma

Leave a comment

Filed under Unmind