HAK PEMOTOR UNTUK ELUS-ELUS DENGKUL DI JALANAN UTAMA JAKARTA

Tulisan ini disadur dari Mojok Institute

 

Motor akan dilarang lewat di kawasan Rasuna Said dan Sudirman, Jakarta. Larangan tersebut akan diterapkan mulai 11 Oktober 2017.

Argumen pemerintah, pertumbuhan motor lebih tinggi dibanding pertambahan ruas jalan. Selama 5 tahun terakhir, motor bertambah rata-rata 9,7 – 11 persen, mobil tumbuh lebih sedikit dengan rata-rata 7,9 – 8,75 persen. Sedangkan luas jalan rata-rata 0,01 persen saja.

Membandingkan pertumbuhan saja sebetulnya tidak akurat. Kita tahu mobil memakan lebih banyak tempat dibanding motor. Anggap saja semua mobil adalah Avanza dan semua motor adalah Supra untuk memudahkan. Dimensi motor Supra adalah 1,907 x 0,702 m = 1,33 m2. Sedangkan Avanza adalah 4,140 x 1,660 m = 6,87 m2.

Apa artinya? Artinya 1 mobil setidaknya memakan ruang lima kali lebih banyak dibanding 1 motor.

Mari gabungkan dengan laju pertumbuhan keduanya. Memang, jumlah motor bertambah sekitar 2 persen lebih cepat dibanding mobil setiap tahunnya. Namun, dengan memperhitungkan dimensi kendaraan, sesungguhnya mobil tumbuh 4,1 – 4,2 kali lebih cepat dalam menghabiskan tempat di jalanan.

“Tapi kan mobil bisa muat lebih banyak?” Tidak.

Avanza, dengan dimensi di atas, jika ditumpangi oleh 9 orang pun, 1 orangnya tetap memakan tempat 0,76 m2. Supra, ditumpangi oleh dua orang, memakan 0,66 m2 per orang. Dan kita tahu, sangat jarang 1 mobil diisi oleh 9 orang. Bahkan, menurut sebuah studioccupancy rate mobil pribadi turun dari rata-rata 1,95 menjadi 1,75 penumpang per mobil.

“Tapi kan jumlah motor di Jakarta lebih banyak? Kepemilikan motor di Jakarta 74 persen, sedang mobil cuma 18 persen.”

Betul, tapi tidak semua motor dan mobil itu berbarengan tumplek blek di jalanan. Bahkan kalau tumplek blek sekalipun (dengan rasio 74 motor dibanding 18 mobil ada di satu ruas jalan secara bersamaan), dengan memperhitungkan dimensinya, mobil tetap memakan tempat 1,25 x lebih banyak dibanding motor. Dan kalau mau akurat, di area metropolitan Jakarta, sebetulnya lebih banyak persentase penduduk yang pakai mobil (31 persen) dibanding pakai motor (14 persen).

Situ juga ndak boleh lupa, motor itu lebih lincah di jalan. Ia lebih cepat sampai ke tujuan di saat mobil-mobil masih ngendon di jalanan. Di kota lain seperti Melbourne, berkendara dengan motor bisa 3 kali lebih cepat dibandingkan mobil. Dengan menggunakan data di Bandung dan hitungan di sini sebagai dasar, setidaknya motor bisa melaju 1,21 kali – 3 kali lebih cepat. Penelitian lain di Brusel pun menunjukkan, kalau 10 persen mobil pribadi diganti sepeda motor, waktu tempuh berkurang sebanyak 40 persen.

Kita belum ngomong bagaimana polutifnya mobil. Studi-studi yang saya sebutkan di atas membuktikan, mobil lebih mengotori udara dibandingkan motor. Survei Susenas pada 2009 juga menunjukkan, mobil rata-rata menghabiskan 4 kali lebih banyak bensin dibanding motor tiap harinya.

Tanpa perlu mikir abot sekalipun, Anda bisa paham motor lebih “bersih” dibandingkan mobil. Motor lebih gesit (tidak menghabiskan banyak waktu di kemacetan dan membakar lebih banyak bensin ketika idling), kapasitas mesinnya juga lebih kecil.

“Tapi kan pengendara motor kelakuannya sering bikin macet, kayak berhenti di bawah fly over kalau hujan?”

Yaelah, Bray. Kalau main salah-salahan, memangnya mobil-mobil yang sering parkir di bahu jalan gak bikin macet? Lagian kalau itu masalahnya, solusinya adalah penertiban, bukan pelarangan. Jangan minum obat diare kalau sakitnya migren.

Solusinya Gimana?

Saya bukan gubernur Jakarta, jadi Anda sebetulnya salah tanya. Tapi, sebelum saya ditegur netijen karena tidak memberikan solusi, mari berandai-andai bahwa saya calon gubernur Jakarta yang lagi debat publik. Tentu, seperti politisi lain, pertama-tama saya akan menjawab pembenahan transportasi umum tetap yang paling utama. Tak hanya dari segi keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu, tetapi juga konektivitas. Artinya, kalau udah turun di stasiun/terminal, kita nggak kesusahan nyari transportasi lanjutan ke kantor.

Kedua, kita perlu adil sejak dalam pikiran. Betul bahwa mobil juga diatur oleh Pemda Jakarta. Dulu dengan 3-in-one, sekarang ganjil genap. Tapi bagaimana dengan Electronic Road Pricing? Itu alat ERP (seperti di depan Setiabudi One) mangkrak begitu saja. Kalau motor dilarang lewat Rasuna Said, mobil pribadi juga harus membayar untuk lewat situ.

Tetapi, mari kita mikir begini: kenapa tidak pernah ada pelarangan total untuk mobil? Motor saja sudah dilarang lewat di Medan Merdeka, Sudirman, dan Thamrin. Belum lagi mobil punya privilese lewat di jalan tol dan beberapa fly over seperti Kasablanka dan Antasari. Masak cuma pemotor yang diharuskan naik transportasi umum? Ini ndak adil.

Kalau mau mengurangi kemacetan sambil tetap adil terhadap pemotor, pemerintah bisa membangun jalur khusus sepeda motor. Bahkan ini pun win-win solution juga bagi pemilik mobil. Waktu tempuh jadi lebih cepat dengan solusi ini.

Ketiga, kita memang harus membenahi pola konsumsi masyarakat. Di Indonesia dan negara Asia lain, banyak orang yang tetap membeli mobil, meskipun naik mobil di jalanan kota lebih lambat dari motor. Bagi rumah tangga yang punya mobil, rata-rata kepemilikannya adalah 1,2 mobil per rumah tangga. Ini kan tidak logis? Sudah lebih lelet, punyanya lebih dari satu pula. Rupanya, studi menunjukkan kalau memang orang beli mobil itu buat gaya-gayaan. Anda tidak perlu heran, pameran mobil di Jakarta kemarin bisa menyedot 400.000 pengunjung, bahkan menjual 17.000 unit dalam 10 hari.

Selama kelas menengah ngehek tidak mengubah pola konsumsinya, percuma saja kita membenahi transportasi umum. Solusinya? Kita bisa menaikkan pajaknya, atau mengenakan cukai pada kendaraan bermotor. Duitnya lalu di-earmark ke transportasi publik. Kalau masih gagal, ya mau tidak mau kita kasih kuota produksi sekalian pabrik-pabrik itu.

Berani tidaknya melawan industri otomotif itu ya urusan pemerintah. Tapi karena saya naik motor, tentu saya punya kepentingan buat membela sesama pemotor.

Kalau yang naik mobil bisa saling menggenggam tangan di atas perseneling sambil nglencer di jalanan Rasuna Said, di mana hak pemotor untuk rangkulan atau mengelus-elus dengkul di jalanan yang sama?

Advertisements

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Sebab Ini Bukan Lagi Soal Rivalitas Yang Hanya Berlangsung Selama 90 Menit

prsija

Pada tanggal 22 Juli kemarin publik dari kedua kota yang terpisah oleh ruas Tol Cipularang mengalami lagi sebuah ajang adu gengsi lewat kancah persepakbolaan tanah air. Kedua kesebelasan dari kedua kota tersebut beradu peluh didalam lapangan guna memperbaiki posisi aman didalam klasemen Liga besutan kerjasama antar korporat ojek online dan aplikasi gawai penyedia piknik.

Pertandingan berlangsung sangat panas, tempo permainan dipaksa keras, pemain antar dua kesebelasan pun saling beradu ego antar satu sama lain. Ya wajar sih namanya juga Derby, skill mengecoh bola urusan belakang, yang penting lawan jadi tumbang (entah itu lawan tim yang bertanding  maupun para pendukungnya)

Sebetulnya menurut dari sudut pandang saya api rivalitas dari kedua kubu yang dipisah oleh adat istiadat berbeda ini sudah mencapai titik paling memuakkan. Bagaimana tidak, disetiap pertandingan Persija dan Persib melawan tim manapun kejadian pengroyokan oleh (mengambil istilah pak polisi) Oknum pasti selalu terdengar di semua kanal berita maupun social media, mereka yang hidup diantara kedua kota Jakarta dan Bandung maupun dikota-kota lain pun kena imbasnya, sialnya juga hampir rata-rata korban pengroyokan hanya salah sasaran Oknum yang terlanjur kalap. Tentunya banyak pihak yang dirugikan setiap kejadian tersebut terjadi, gaung gegap gempita perdamaian pun terdengar hanya seperti omong kosong belaka.

Tapi saya angkat topi tinggi-tinggi untuk para petinggi dari kedua pendukung kesebelasan tersebut..

Paska tiga hari sebelum pertandingan, ketua umum The Jak Mania Ir. Ferry Indrasjarief atau akrab disebut Bung Ferry menyambangi rumah pentolan Viking Bandung yaitu Heru Joko dengan niatan bersilahturahmi sekaligus nyekar ke makam salah satu korban kekerasan saat Derby Elclasico alm. Rangga dan juga dirigen bobotoh yg sangat disegani alm. Ayi Beutik. Menurut saya pertemuan ini adalah salah satu psy-war paling positif, kedua orang yang sangat dihormati dimasing-masing kubunya tersebut meninggalkan semua jubah ke egoan untuk kemudian bersatu dalam alam perdamaian tanpa sekalipun timbul hasrat untuk saling membunuh, yang kalo menurut bahasa John Lennon “I don’t believe in killing whatever the reason!”
Sebab rasa persatuan didalam balutan perdamaian adalah konsekuensi tanpa kompromi menurut mereka.

Tapi sejujurnya saya sangat menyayangkan sekali kejadian yang terjadi sehabis pertandingan itu, sehabis wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan tensi tinggi layaknya sehabis memakan daging kambing 2 Kilogram, salah satu penyerang Persib instan langsung memukul gelandang persija Sutanto Tan. Karena dipicu oleh tekel keras yang dilakukan Sutanto, semua official tim pun berjibaku ke dalam lapangan untuk saling baku hantam maupun melerai. Buntut dari kekisruhan didalam lapangan tersebut, para Bobotoh terpancing emosi, timpukan botol, flare, serta jutaan kata maki meluncur deras menuju kubu Persija Jakarta. Sungguh sebuah kejadian yang sangat memalukan, dimana seharusnya momen derby sarat adu gengsi ini menjadi wadah bagi publik kedua kota untuk bersatu, tapi malah seperti adegan Crow Zero versi suporter.

Nasi sudah menjadi bubur, dan tukang buburnya pun sudah menjadi haji. Cerita lama soal permusuhan ini mungkin akan bertahan hingga puluhan tahun mendatang, hingga papan nisan menjadi saksi bagaimana tindakan ala suku barbar tak lagi kompeten dalam menunjukan eksistensi diri.

Salam Jempol Telunjuk.

 

 

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Tingkat Akhir yang Kebablasan

Mahasiswa tingkat akhir? Hmm.. bukankah sebuah kata yang cukup “menyeramkan” bagi sebagian dari kalian yg sedang genting2nya mencari jati diri di umur 20-sekian?
Yak selamat, kamu never walk alone…

Bagaimana bisa begitu menyedihkannya coba, disaat kebutuhan pokok melambung tinggi, harga pasar tidak stabil yang selalu bikin rakyat miskin mati tercekik secara perlahan dibanding kita para mahasiswa akhir yang sudah pasti terpapar dengan kondisi ekonomi tersebut pasti terkadang ada pikiran yang membatin

“Duh, si anu sepatunya baru…”

“Hadeh ini tempat keren, liburan yuk!”

Dan segala macam keinginan lain-yang sialnya tak terlalu dibutuhkan. Nah, jika sudah begini maka hasrat endofermin {eh, bener gak sih?} yang tertimbun di lapisan otak paling belakang akan cepat berkerja untuk memaksimalkan hasrat kebendaan yang subhanallah duniawi sekali. Padahal dipikir-pikir lagi justru keinginan tersebut bikin kita jadi lebih semangat lagi untuk bekerja, serta memaksimalkan soft maupun hard skill {jika punya}.

Lalu hubungannya apa dengan Mahasiswa Tingkat Akhir?

Ingat wahai mahasiswa yang sedang diujung tanduk D.O…
Masygul peradaban maju ada ditangan kalian, kalianlah sang juru martyr, kalian penguasa matahari!
Mungkin aja kan jika kita lulus tepat waktu tidak ada penemuan baru yang tercipta? Dan ini mengacu kepada bung Bill Gates sang ekspatriat itu, beliau mungkin bukan yang terpandai diantara teman2nya, tapi atas izin Gusti Allah serta niat yang sudah kepalang gigih, beliau membuktikannya. Dan terbukti sekarang sebagian dari kita menjadi penjilat bagi produk2 beliau.

Tapi sebenernya peran universitas penting juga sih kalo dipikir-pikir lagi, bagaimana mungkin logikanya, nyusun skripsi yang maha dahsyat merepotkan itu harus berakhir menjadi barang kiloan sampah? Ya mungkin niatnya bagus, Recycle Use biar go green gitu lho.. etapi ya jangan skripsi juga kalik~ mungkin aja ya kan suatu hari nanti timbul dendam yang amat kesumat bagi Universitas? Disini saya dengan sangat sengaja tidak menulis nama “Universitas” yang dimaksud. Ditambah lagi mungkin Departemen Pendidikan kita belom terlalu tegas memberikan peraturan yang sifatnya untuk kebaikan mahasiswa itu sendiri, seperti contohnya; menghilangkan sistim kejar sks sesuai ipk, karena hal ini sangat menyusahkan mahasiswa waktu mengejar skripsi. Jadi solusi alternatif yang bisa saya berikan mungkin menerapkan peraturan tetap paket sks tidak mempengaruhi ipk, jadi seperti sekolah dulu. Niscaya jika itu diterapkan para koboy-koboy kampus yang rupa nya masya allah oldskool tersebut dapat menghirup udara bebas akademik, untuk sementara sebelum dilepas di belantara rimba kehidupan. Segala sektor di negri kita dipastikan bakal maju, karena fresh graduate nya {diharapkan} menerapkan ilmu yang didapat semasa kuliahnya kepada negara dan bangsa ini tanpa mau disebut sebagai nasionalis.

Yak, diantara segelintir pelik kehidupan yang ada, kita sebagai mahasiswa tua ini harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan ini. Ingat, skripsi tidak akan selesai dengan sendirinya. Jumlah SKS tak akan bertambah sesuai harapan jika kita tidak menjalankan studi jam kuliah yang memuakkan.

Salam Kecebong!

Leave a comment

Filed under Uncategorized, Unmind, Unwriting

Cara Cerdas Melawan Permusuhan

Tulisan ini dikutip dari Mojok

 

Ada beragam cara membalas permusuhan, pelecehan, dan bullying.

Cara pertama dilakukan dengan sepadan: balas dengan telak. Cara ini berpotensi melahirkan dendam kesumat yang diwariskan turun-temurun. Secara psikologis, cara pertama ini juga kurang bagus karena bakal memunculkan paranoid, fobia, hingga trauma.

Cara kedua, balas dengan cinta kasih. Ini cara elegan nan cakep yang dilakukan oleh mereka yang punya mental baja dan ketahanan berproses. Di Liberia dan Sudan Selatan, ibu-ibu yang capek dengan konflik beraroma sektarian melakukan perlawanan dengan cara mogok seks. Mereka nggak bakal mau disetubuhi, kecuali papa-papa itu mau menimbun dulu bedilnya di luar kampung terlebih dulu. Jelas, bapak-bapak memilih kelonan dengan istrinya daripada mencumbu senapan. Aksi ini turut andil menghentikan perang saudara di negara kawasan Afrika tersebut.

Aksi lebih elegan juga dilakukan Nelson Mandela. Saat dilantik sebagai presiden, ia mengundang bekas sipir penjara yang dulu sering melecehkannya di bangku undangan paling depan.

Stok kisah semacam ini banyak kok. Sekali lagi, hanya mereka yang punya ketangguhan mental yang oke yang bisa melakukannya.

Cara ketiga: balas dengan kocak. Apabila balasan dengan senyuman belum cukup, keluarkan pertahanan humor. Ini cara yang sungguh-sungguh membangkitkan tawa sekaligus juga membuat jengkel pihak lawan. Soal ini Haji Agoes Salim, negarawan sepuh pendiri republik ini banyak melakukannya saat berkonfrontasi dengan kelompok komunis maupun dengan politisi negara asing. Spontanitas dan kecerdasannya bermain olah kata membuat pengejek mati kutu dan wajah memerah padam. Google menyimpan banyak kisah tentang kecerdasan Old Great Man ini. Cari saja sendiri.

Di lapangan hijau, Dani Alves melakukannya dengan elegan. Di saat ia bersiap-siap mengambil tendangan sudut, di belakangnya riuh suara pendukung Villareal menirukan suara monyet. Apakah bek Barcelona itu marah karena tindakan rasis suporter lawan yang juga melemparinya dengan pisang? Jelas, ia tersinggung. Tapi ia melakukan tindakan keren: ia ambil pisang yang nyaris mengenai dirinya, mengupasnya lalu menyantapnya. Kemudian ia melaksanakan tugas sebagai penendang sudut. Ini cara melawan rasisme lapangan hijau ala Alves di penghujung April 2014 silam, yang membuat petinggi FIFA angkat topi buat dirinya.

Sebelum Alves melakukan aksi cerdas ini, Samuel Eto’o sudah mengawalinya. Saat berkostum Barcelona dan bertandang di markas lawan, Eto’o adalah target utama rasisme. Ketika ia menggiring bola, teriakan ala monyet bersahutan di stadion. Apakah ia langsung ngambek lalu keluar lapangan seperti yang dilakukan Kevin Prince Boateng di AC Milan? Tidak. Eto’o malah menceploskan gol dan merayakannya dengan menirukan gerakan monyet di hadapan pengejeknya! Ahaaa, aksi tarian monyet ala Eto’o membungkam para suporter rasis.

Bagi saya, hanya mereka yang punya mental tangguh dan cita rasa humor berkelas yang punya gaya unik membalas cemoohan. Tahu bagaimana anak-anak Jokowi bermain olah kata saat di-bully di medsos? Kasihan juga nih orang, mereka di-bullyhanya karena mereka anak Jokowi.

Tapi, saya salut juga dengan cara mereka merespons para pembencinya. Saya ngakak membaca tindakan Gibran dan Kaesang dalam menghadapi kebencian yang dipadupadankan dengan cemoohan itu bukan hanya dengan santai, tapi dengan cerdas dan jenaka.

Papa Doyan Lontong adalah istilah dari Gibran untuk “membalas” tindakan dosen pengecut yang membuat tagar Papa Doyan Lonte. Ada juga istilah “kecebong”, “Oey Hong Liong”, dan “Herbertus”. Di foto terbaru, Kaesang malah pake topi bertuliskan “Kolektor Kecebong”. Pembela Jokowi dan Prabowo pasti sudah paham dengan istilah ini. Tapi, oleh anak-anak Jokowi, ketiga istilah ini malah digunakan secara kocak. Hahaha ….

Ada beragam cara menyikapi segenap kebencian dan serangan verbal. Bisa dengan serius bertele-tele, diiringi seringai dan emosi yang memuncak, atau dengan kelembutan kasih sayang. Bisa juga dengan cara santai, tak terduga, kocak, dan membuat lawan merasa gemas. Cara terakhir ini yang bagi saya unik.

Kini, Kaesang yang lucu itu katanya dilaporkan kepada polisi soal penodaan agama gara-gara bilang “ndeso” saat melihat anak-anak kecil yang dikomando untuk bilang “Bunuh Ahok … bunuh Ahok”. Entah yang dinodai apanya. Sekalian dibikin film sajalah. Bintangnya siapa lagi kalau nggak Reza Rahadian dan Chuck Norris, sama adik saya Chelsea Islan atau sepupu saya si Natasha Wilona itu. Judulnya, “Kaesang yang Ternodai Laporan Polisi”.

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Menghidupkan Thukul Melalui Film

tirtoid-antarafoto-istirahatlah-kata-kata-180117-zk-3_ratio-16x9
Film tentang seorang penyair yang dihilangkan oleh rezim Soeharto, mengambil masa saat bersembunyi dari kejaran tentara dan intelijen Orde Baru. Personal sekaligus politis: menuntut negara untuk segera menuntaskan kasus kejahatan atas kemanusiaan.

“Film ini adalah pengeling-eling. Pengeling-eling bukan sekadar pengingat Wiji Thukul,” kata Yosep Anggi Noen, sutradara Istirahatlah Kata-Kata.

Pengeling-eling dalam bahasa Indonesia berarti pengingat, peringatan, atau kenangan. Namun bagi Anggi, yang lahir dan besar di Yogyakarta dan ketika peristiwa penculikan orang tahun 1997-98 berusia 14 tahun, kata pengeling-eling lebih dari sekadar makna harfiahnya.

“Pokoknya ini pengeling-eling, jangan diterjemahkan, ini maknanya lebih tinggi dari pengingat,” celetuk Anggi.

Sulit bagi Anggi untuk memaknai film Istirahatlah Kata-Kata itu. Kesulitan itu lantaran sosok Wiji Thukul, lakon utama film tersebut, tidak pernah dikenalnya secara langsung. Seperti kebanyakan anak Indonesia generasi tahun 1980-an dan sesudahnya, Anggi mengenal Thukul lewat puisi-puisinya, dan segelintir orang lagi yang tahu Thukul hanya lewat cerita mulut ke mulut para sahabatnya.

Thukul adalah seniman sekaligus aktivis. Ia bagian dari mayoritas masyarakat Indonesia dari pulau Jawa yang miskin, tinggal di pinggiran Kota Solo, yang punya cita-cita keadilan bagi seluruh rakyat di negara kepulauan ini. Ia terlibat dalam satu gelombang besar dari semua kalangan—mahasiswa, pemuda, intelektual, seniman, kalangan terdidik, orang-orang terkenal dan orang-orang tanpa nama—dalam organisasi maupun bukan, yang melihat Indonesia saat itu, sebuah negara yang digerakkan oleh rezim otoriter, telah seenaknya diatur untuk menopang kekayaan pribadi dan jaringan kekuasaan Soeharto sejak 1967.

Kekuasaan itu bernama Orde Baru dan ia ditopang oleh istana, tangsi militer, dan partai tunggal penguasa. Kekuasaan ini lahir lewat pembantaian massal pada 1965-1967, dan selama 30 tahun berikutnya menciptakan pola pembangunan dengan membungkam suara kritis lewat pemenjaraan bahkan pembunuhan. Orang seperti Thukul melihat simbol kekuasaan saat itu, Soeharto, harus ditumbangkan.

Momennya krusial. Pada 1997 krisis finansial menghajar Asia. Indonesia-nya Orde Baru, yang bergantung pada modal asing, sempoyongan menghadapi krisis ekonomi tersebut. Nilai tukar rupiah ke dolar empat kali lebih rendah dari tahun sebelumnya. Inflasi meroket, harga pangan melonjak, dan nilai tukar rupiah terjerembab. Indonesia menghadapi dua agenda politik besar: Pemilu 1997 dan Sidang Umum pada Maret 1998.

Kelompok pro-demokrasi, yang tumbuh pada 1980-an, melihat perlu ada kebebasan politik yang lebih besar.

Thukul dihilangkan pada kurun gelombang protes anti-Orde Baru pada akhir 1990-an itu. Ketika Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, ia tidak terlihat dalam ratusan ribu mahasiswa dan rakyat biasa yang merayakan keruntuhan simbol rezim otoriter itu dengan gegap-gempita. Namanya muncul dalam pemberitaan saat teman-temannya, dan organisasi hak asasi manusia, mulai menyoroti kasus penghilangan secara paksa pada 1997-1998.

Sampai sekarang, bersama 12 aktivis, pemuda, dan mahasiswa lainnya, Thukul tak pernah kembali. Pria berperawakan ceking dengan gigi tonggos dan rambut ikal itu tak pernah dikembalikan oleh negara—institusi yang paling bertanggung jawab untuk menyelidiki kasus ini kepada publik dan terutama bagi keluarga korban.

Saat sebagian besar orang Indonesia membicarakannya, Wiji Thukul adalah nama, tetapi sosoknya sendiri tidak ada.

Bagi Yosep Anggi Noen, apa yang sulit itu—dalam menghadirkan Thukul lewat layar lebar—adalah masa yang hilang justru ketika seharusnya Thukul bisa menikmati kebebasan yang ia cita-citakan. Karenanya, di tengah kampanye agar negara secepatnya melakukan proses pencarian kasus penghilangan orang secara paksa, di saat orang membicarakan puisi-puisi Thukul, Anggi mengambil pilihan yang lebih personal. Ia melihat, bagaimanapun, Thukul ialah manusia biasa.

“Wiji mengalami ketakutan, kesepian, dia punya cinta untuk anak dan istrinya,” ujar Anggi.

Justru karena Thukul adalah manusia biasa, film berdurasi 97 menit yang menceritakan pelarian Thukul di Pontianak itu lahir. Ia juga menjadi sebuah tuntutan agar kasus-kasus kejahatan terhadap kemanusiaan di masa lalu segera dituntaskan.

Riset di Balik Film

Gagasan memfilmkan Wiji Thukul semula datang dari Yulia Evina Bhara, Tunggal Pawestri, dan Okky Madasari.

“Pada 2014, Wiji mendapat penghargaan dari ASEAN Literasi Award. Dari situ kita berpikir, kenapa kita enggak bikin film Wiji? Okky yang punya ide. Saya dan Tunggal langsung setuju,” ujar Yulia Evina Bhara, produser Istirahatlah Kata-Kata usai penayangan perdana di Epicentrum, 16 Januari lalu.

Sebelum ide itu diwujudkan, mereka bertiga mengajak sejumlah aktivis untuk mengapresiasi karya-karya Thukul. Pada 2015, bersama adik Thukul, Wahyu Susilo, mereka terlibat dalam gerakan “Barisan Pengingat”. Ide gerakan ini mengampanyekan kasus penghilangan paksa lewat simbol Wiji Thukul dengan membuat mural di sejumlah titik di Jakarta.

Banyak aktivis yang bergabung dalam gerakan itu. Beberapa diskusi soal Thukul digelar. Puisi-puisi Thukul dibacakan. Gerakan ini juga menerbitkan buku kumpulan puisi Wiji Thukul berjudul Nyanyian Akar Rumput, terbit pada Maret 2014.

Setelah ide membuat film itu muncul, Ebe—sapaan akrab Yulia Evina Bhara—dan teman-temannya melakukan riset tentang Thukul. Mereka mencari literasi yang membahas Thukul, menemui para sahabat, dan mengumpulkan sejumlah puisi Thukul.

Sebelum memulai riset, mereka sudah sepakat menunjuk Yosep Anggi Noen sebagai sutradara.

Pemilihan Anggi tanpa perdebatan. Perdebatan panjang justru terjadi di saat riset, yang memakan waktu nyaris 1,5 tahun sebelum naskah film ditulis Anggi.

Riset itu akhirnya mengarah pada satu fragmen hidup Thukul ketika bersembunyi di Pontianak dari kejaran para tentara dan intelijen Orde Baru. Thukul dicari-cari penguasa karena dituduh “pembuat onar” pada peristiwa 27 Juli 1996—dikenal “Kudatuli”, sebuah serangan yang direncanakan oleh orang-orang pro-Soeharto terhadap kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

“Fragmen saat Wiji di Pontianak ini menunjukkan kegelisahannya, ketakutan. Di situ terlihat bahwa Wiji itu manusia biasa, sama seperti kita,” tutur Anggi.

Untuk mendapat cerita tentang kehidupan Thukul di Pontianak, tim produksi film menemui Martin Siregar, sahabat Thukul, aktivis yang menyembunyikan Thukul di Pontianak. Martin menjadi saksi hidup bagaimana kehidupan Thukul selama di sana.

Dari Martin, tim produksi mendapat banyak cerita. Salah satunya tentang ketakutan Thukul saat bertemu dengan tentara di tempat potong rambut. Thukul yang menyamar dengan nama Paul cuma diam ketika ditanya si tentara tentang asalnya. Fragmen itu tergambar dalam film Istirahatlah Kata-Kata.

Berbeda dengan riset yang berselang lama, pengambilan gambar justru berlangsung 15 hari. Ada dua tempat yang dipakai: Pontianak dan Yogyakarta. Selama 12 hari, kru film mengambil latar Kota Pontianak dan Sungai Kakap. Sementara syuting di Yogyakarta berlangsung dua hari di Kali Duren dan Terban.

“Ada beberapa titik di Pontianak. Kalau di Yogyakarta di kampungnya Anggi. Kalau di Pontianak dipilih karena memang ceritanya tentang Pontianak. Kecuali di Yogyakarta itu karena faktor lebih mudah menjangkaunya,” ungkap Ebe.

Menghidupkan Thukul Melalui Film

Pemilihan Pemeran

Satu malam pada awal tahun 2016, Marissa Anita menerima satu pesan singkat dari Yosep Anggi Noen: “Mar, kamu bisa bahasa Jawa, kan?”

“Iya bisa, kenapa, Nggi? Kamu mau ngajak aku main film?” jawab Marissa.

Tanpa basa-basi, Anggi langsung menawari Marissa untuk memerankan salah satu tokoh dalam film itu. Marissa langsung mengiyakan tanpa pikir panjang begitu mengetahui film tersebut mengangkat sosok Wiji Thukul.

“Saya waktu itu ditawari peran pembantu saja, bukan Sipon, istrinya Wiji. Saya tetap saja mau, karena ini tentang Wiji Thukul. Adalah kehormatan bagi saya bisa terlibat dalam film ini,” kata Marisa sesudah penayangan perdana Istirahatlah Kata-Kata.

Namun, saat proses lokakarya bersama para pemeran lain, Anggi justru meminta Marissa memerankan Sipon. Marissa kaget.

“Saya bilang ke Anggi, ‘Enggak bisa gitu, dong. Ini, kan, peran besar. Enggak bisa gitu saja.’ Tapi Anggi meyakinkan saya, pokoknya bisa,” ujar Marissa.

Marisa memang tidak ada mirip-miripnya dengan Sipon. Sipon bertubuh semok, sedangkan Marissa lebih ramping. Dialek bahasa mereka berbeda. Sipon dengan logat Solo, Marissa akrab dengan dialek Surabaya yang lebih lugas. Perbedaan itu sempat membuat Marissa khawatir. Anggi sendiri meminta Marissa untuk tidak meniru Sipon.

“Saya bahkan tidak boleh bertemu dengan Mbak Sipon supaya saya tidak mengimitasi. Saya diberi kebebasan untuk menginterpretasikan perasaan lakon,” kata Marissa.

Sementara untuk pemeran Wiji Thukul, Anggi mempercayakan kepada Gunawan ‘Cindil’ Maryanto, penulis dan pelakon teater Garasi di Yogyakarta. Dari perawakan, Cindil sedikit mirip dengan Thukul. Mukanya sama-sama terkesan tengil, rambutnya sama ikalnya. Bedanya, Cindil sedikit lebih pendek dan lebih berisi dibanding Thukul yang kerempeng. Untuk lebih membuat mirip, dokter memasang gigi tonggos palsu pada Cindil. Gigi palsu itu membuat Gunawan menjadi cadel, persis seperti Thukul.

Dua peran penting dalam film itu dipilih Anggi karena alasan yang sama. Keduanya sama-sama menguasai panggung. “Marissa sudah terbiasa di depan kamera. Mas Gunawan, enggak usah ditanya, dia itu salah satu pendiri teater Garasi,” ujar Anggi.

Untuk pemeran lain, Anggi menerapkan kriteria yang sama. Edwart ‘Edo’ Boang Manalu, yang memeran Martin, juga pemain teater. Edo sudah terbiasa tampil di panggung. Begitupula Melanie Subono yang memerankan tokoh Ida, istri Martin. Melanie sudah terbiasa di atas panggung sebagai musisi.

“Edo itu memeran Martin menjiwai sekali, bahkan saat adegan ngelap motor, enggak ada falsnya,” kata Anggi.

Melipatgandakan Wiji Thukul

Setelah melalui proses panjang dan memakan waktu nyaris tiga tahun, film Istirahatlah Kata-Kata akhirnya tayang perdana di Festival Film Locarno pada Agustus 2016. Berturut-turtu film lalu diputar di beberapa festival film, di antaranya The Pacific Meridian International Film Festival, Filmfest Hamburg, Festival Des 3 Contines, dan International Film Festival Rotterdam.

Di Locarno, film ini mendapatkan sambutan cukup meriah. Anggi mengungkapkan, ada banyak penonton yang mengikuti sesi diskusi usai pemutaran film. “Kebanyakan mereka penasaran soal siapa itu Wiji Thukul, bagaimana sekarang kasusnya?” ujar Anggi.

Pada saat penayangan perdana di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, film ini mendapat perhatian dari sejumlah pejabat, aktivis, dan selebritas. Beberapa pejabat di antaranya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, dan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid. Dari kalangan artis ada Dian Sastrowardoyo, Fadli Padi, Sarah Sechan, dan Hannah Al Rashid.

Pemutaran perdana itu untuk menyambut penayangan serentak pada 19 Januari di 15 kota di 19 bioskop. Lima belas kota ialah Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Mojokerto, Makasar, Kupang, Pontianak, Medan, Purwokerto, dan Denpasar.

Konsekuensi pemutaran Istirahatlah Kata-Kata di bioskop komersial: ia harus mendapatkan banyak penonton. Jika tidak, napas tayang di bioskop takkan panjang. Karena itu Anggi mengajak warga Indonesia, khususnya anak muda, untuk berbondong-bondong ke bioskop menyaksikan film ini.

“Setelah tidak di bioskop, film ini masih akan terus berjuang untuk bertemu dengan para penonton. Karena itu ajaklah orang-orang terkasih untuk menonton, sebab sejatinya film ini bercerita tentang kehilangan orang yang kita cintai,” ujar Anggi.

Kalaupun film ini tidak bertahan lama di bioskop komersial, Anggi tetap percaya bahwa film Thukul akan memberikan sesuatu bagi demokrasi di Indonesia. Anggi yakin film ini tidak hanya menghidupkan Thukul, tapi juga melipatgandakan sosok Wiji Thukul.

“Ia akan tetap ada dan berlipat ganda,” tutur Anggi.

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Semua Ini Mulai Menyebalkan, Bukan?!

fuk

Sore itu kabut tipis mulai turun di atas punggungan sebuah bukit. Disertai embun yang tipis-tipis menampar wajah. Saya terus berjalan sambil memanggul ransel di punggung dan menenteng tas berisi tenda dome di tangan kanan. Melewati gerbang bambu yang berdesain artsy, memasuki sebuah tenda besar, lalu melintasi beberapa meja kayu yang ditata zig-zag. Ada banyak kesibukan di sana. Saya menyapa sejumlah kawan yang kebetulan berpapasan. Hai kawan, sehat?!…

Sampai akhirnya saya tiba di sebuah area terbuka dengan penampakan panggung musik di ujung sana. Kabut tipis masih memenuhi udara dan sedikit menggangggu pandangan. Hawa dingin mulai menerpa kulit. Pepohonan rindang, rerumputan hijau dan panorama pegunungan tersebar di sekelilingnya. Adem. Sejuk. Saat itu pula, sayup-sayup terdengar lagu “Hoppipolla”-nya Sigur Ros di telinga. Syahdu.

Sebentar, apakah saya sedang berada di dataran tinggi Islandia?!…

Seperti itu momen kedatangan saya pada acara Pena Hitam Art & Music Camp Fest, 24 Januari 2015 yang lalu. Terlalu sempurna, dan sulit untuk dilupakan. Saya hanya bisa berdiri diam dan menikmati lagu “Hoppipolla” hingga usai. Lalu berjalan lagi mencari lahan yang tepat untuk mendirikan tenda. Saya berencana menginap selama dua malam bersama beberapa teman baik. Kemping tipis-tipis.

Well, cerita seru serta ulasan soal kegiatan ini bisa anda telusuri lewat tulisan dan foto-foto milik teman-teman yang sudah dipublikasikan via internet. Coba googlingsaja, saya lagi malas sertakan tautannya. Ya, saya memahami penyesalan anda yang tidak bisa datang ke acara tersebut. So sorry about that.

Memang hidup itu tidak melulu indah seperti yang kita alami saat bersama-sama di Gunung Banyak, Paralayang Batu, kemarin. Pulang dari sana, kita toh kembali menjalani rutinitas yang menjemukan dan bergumul dengan kekacauan yang kerap bikin sebal. Lihat saja apa yang terjadi di sekeliling kita. We’re so fucked up, yeah?!…

Menurut Urban Dictionary, kata Fucked Up bisa diartikan sebagai “A level of status. Typically used in reference to being physically, mentally, morally/asthetically, performance-wise, or even theoretically damaged in some way. It, in and of itself has many gradient levels, such as ‘slightly fucked up’, or ‘extremely fucked up’, but all versions have to do with describing the level of damage. A wonderfully universal root word, to be sure.”

Sementara yang paling saya ingat, Fucked Up adalah band punk/hardcore asal Toronto Kanada yang cukup keren. Saya suka lagu-lagunya. Live-nya juga menarik. Beda dengan band punk/hardcore kebanyakan. Simak saja di YouTube kalau tidak percaya. Saya rekomendasikan semua albumnya, terutama David Comes To Life.

xxxxx

Oke, mari saya ceritakan sedikit soal kondisi kota yang biasanya nampak indah jika dilihat dari atas bukit tempat kami kemping kemarin. Sebuah kota yang sudah saya diami selama hampir seumur hidup saya hingga sekarang. Kota yang entah.

Belakangan, saya mulai sebal tinggal di kota Malang yang makin membingungkan. Yang paling terasa, mulai macet di sana-sini. Apalagi saat akhir pekan ketika para pelancong dari luar kota membanjiri setiap sudut jalan dan spot wisata – Halo Bandung dan Jogja, yuk toss dulu!

“Separah apa sih kemacetan di Malang kok elu sampai mengeluh kayak gitu? Itu sih santapan gua tiap hari di sini,” sindir kenalan saya yang hidup dan tinggal di Jakarta. Dia sinis menertawakan kegelisahan saya yang menurutnya itu adalah perilaku lemah dan cengeng penduduk kota kecil, yang tidak sebanding dengan kesemrawutan hidup di kota Jakarta.

Well, begini Bung, tentunya saya tidak mau menunggu kota Malang jadi ‘separah’ Jakarta, Bandung, Jogja, atau kota-kota besar lainnya untuk menyadari semua masalah itu. Minimal kudu ada yang aware kalau terdapat banyak ketidakberesan di kota ini yang perlu diatasi. Sebelum terlambat.

Di jalanan, kendaraan bermotor sudah terlalu banyak dan dikendarai dengan seenaknya sendiri. Tidak ada yang mau mengalah. Waspadalah dengan ibu-ibu yang mengendarai motor matic, begitu tweet kocak yang saya baca di Twitter kemarin. Zebra cross selalu ‘dimakan’ oleh roda-roda kendaraan, lampu masih kuning sudah pencet klakson berkali-kali. Hari ini, jangankan kita yang manusia, kucing saja sudah kesulitan untuk menyeberang jalan di kota ini.

Urusan rute lalu lintas saja bisa menjadi problem yang rumit dan hampir tak terpecahkan. Seperti rute di Lingkar UB; awalnya dua arah, lalu jadi satu arah, trus balik lagi jadi dua arah. Kemudian ditambah lagi polemik soal bis sekolah (Bus Halokes, kalau kata Pemkot). Sebenarnya itu ide yang bagus, jika tidak malah bikin siswa terlambat masuk kelas atau sudah dibicarakan baik-baik dengan (asosiasi) sopir angkot.

Di kota ini, jalur pedestrian juga semakin minim. Trotoar sudah banyak dikikis demi memberi ruang yang lebih lebar bagi para pengendara bermotor. Jadi siap-siap saja disenggol kendaraan saat berjalan kaki di tepi jalan atau trotoar. Atau mungkin, justru kita sendiri yang sering menyerobot hak para pejalan kaki itu?!

Belum lagi tata kota yang makin simpang-siur. Zonasinya tidak jelas. Ruko dan papan reklame di mana-mana. Pertumbuhan mini market sudah melampaui nalar belanja ibu-ibu di kompleks perumahan. Bangunan-bangunan tua yang bersejarah atau so-called-heritage itu juga kadang dirobohkan, beralih fungsi jadi bangunan modern yang tidak jelas. Perda soal tata ruang, bangunan tua atau cagar budaya seperti semacam mitos di sini.

Oke, mulai ada beberapa taman dan ruang publik di tengah kota. Itu bagus asal dikelola dengan baik dan tepat sasaran. Tapi belakangan saya baca di surat kabar kalau taman-taman itu juga kurang terawat dan fasilitasnya mulai rusak di sana-sini. Eh, ini kota yang berjuluk “Kota Bunga” tapi justru membeli bunga plastik seharga miliaran rupiah untuk tamannya, dipajang di depan gedung balai kota lagi.Huft. Cerdas!

Saya sempat baca komentar dari seorang pakar planologi yang bilang bahwa kota Malang ini semakin tidak jelas karakter dan identitasnya. Benar juga sih. Lha wongbranding-nya juga gak jelas. Jauh sekali dari angan-angan sebagai smart city,apalagi creative city. Sementara soal city branding hanya berakhir pada desain,hashtag, dan trending topic sesaat. Menuju kota yang bermartabat? Mmmh, entah mau dibawa ke mana kota ini sebenarnya…

Jumlah pelajar dan mahasiswa juga makin melimpah, memadati setiap sudut wilayah pendidikan di kota ini. Kampus-kampus hanya menarik mahasiswa sebanyak-banyaknya dengan biaya tinggi. Ada perguruan tinggi di mana rektornya bahkan tidak berani membela kebebasan akademik kampus dan independensi mahasiswanya. Mereka justru tunduk pada kekuatan yang entah, dan ikut serta mematikan daya nalar kritis anak didiknya. Salah satunya adalah “PT Brawijaya, Tbk”, istilah yang dipopulerkan oleh kawan saya yang suka ngopi dan menyanyi lagu-lagu balada, Iksan Skuter.

Di jalanan, mulai muncul ormas-ormas sayap kanan yang tidak jelas. Entah mereka dari mana datangnya. Mereka tiba-tiba saja suka ‘bermain tuhan’ dengan cara sweeping atau menolak apapun yang tidak enak di mata dan batin mereka. Akhir tahun lalu, sejumlah ormas dibantu dengan kekuatan ‘militer’ sukses membubarkan pemutaran film Senyap di beberapa titik.

Lalu juga ada acara diskusi film Samin vs Semen dan Alkinemokiye yang dibubarkan oleh Satpam atas nama petinggi kampus dengan argumen khas Orba Baru. Kampus itu sudah seperti Markas Kodam. Alasannya, muatan film tersebut dinilai tidak sesuai dengan ideologi kebangsaan dan ketuhanan? Paranoia yang tidak logis dan mengada-ada. My ass.

Disadari atau tidak, begitulah kurang lebih gambaran umum kota Malang, belakangan ini. Banyak yang gelisah dan mulai menggerutu. Keluhan itu mulai terdengar, meski pelan, di berbagai sudut-sudut kedai kopi, di ruang makan keluarga, di kantin kampus, hingga di kolom-kolom sosial media.

Ah, atau saya mungkin yang terlalu banyak mengeluh. Hanya bisa menggerutu tanpa kasih solusi. Ada baiknya saya segera menyeduh segelas kopi atau menambah sebotol bir lagi, sembari menaruh tiga lagu yang tepat di playlist; “Malang Nominor Sursum Moveor” (No Man’s Land), “Malang Yang Malang” (Iksan Skuter), atau “Puing” (Neurosesick). Tambahkan lagu-lagu berirama thrash metal agar semua ini semakin ‘fucked up’. Seperti misalnya, mmmh, Municipal Waste?!

xxxxx

Saya teringat sesi diskusi dan open mic yang terjadi di tenda besar dalam kondisi hujan deras pada hari kedua Pena Hitam Art & Music Camp Fest, 25 Januari 2015 lalu. Anak-anak muda dari berbagai daerah itu bergantian menyampaikan opini, kesan dan harapannya. Mereka berbicara banyak soal cara berjejaring, berkarya, bergerak, serta pengalaman mereka mengorganisir komunitasnya. Mereka adalah anak-anak muda yang kreatif, sedikit bandel dan susah diatur, tapi tulus berkarya, jarang mengeluh, serta tidak pernah mengemis pada penguasa.

Kalau sudah begini, siapa yang masih butuh negara atau pemerintah?!

Yeah, we’re gonna fucked ’em up. 

 

*Esai ini rencananya untuk sebuah kolom di Penahitam Fanzine edisi “Fucked Up” (2015), namun gagal muat karena tidak masuk kriteria redaksi. Saya bisa memahami alasannya dan memang kudu belajar (menulis) lebih banyak lagi. Oya, sketsa dasar tulisan ini juga berasal dari salah satu esai yang pernah ada di blog personal penulis.

 

Dikutip dari : sesikopipait.wordpress.com

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Antisipasi Paham ISIS dengan Pemahaman Toleransi Islam

 

Antisipasi tersebut dilakukan dengan memasukkan pemahaman ajaran Islam yang toleran, saling menghormati, dan menghargai nilai-nilai keberagaman dalam kurikulum wajib.

tokoh lintas agama,isis,konferensi persTokoh lintas agama perwakilan HKBP Philadelphia Pendeta Palty Panjaitan, Jamaah Ahmadiyah Indonesia Maulana Zafrullah Pontoh, Ketua Dewan Syura Ijabi-Syiah Jallaludin Rakhmat, Forum Masyarakat Kristiani Indonesia Jerry Rumahtalu, dan Ketua Persatuan Gereja Indonesia Pendeta Phil Erari (kanan ke kiri) mengangkat poster anti-Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dalam konferensi pers penolakan kehadiran ISIS di Indonesia, Senin (4/8) (Dany Permana/Tribunnews).

Seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mengantisipasi munculnya gerakan radikal negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Antisipasi tersebut dilakukan dengan memasukkan pemahaman ajaran Islam yang toleran, saling menghormati, dan menghargai nilai-nilai keberagaman suku, agama, ras, dan budaya, dalam kurikulum wajib di semua lembaga pendidikan.

“Dalam kurikulum kita, ada mata pelajaran wajib yang kita ajarkan yakni Islam Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja). Di mana, pola pikir yang diajarkan terutama untuk pemahamaan agama, yakni dengan cara mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli dengan kaum ekstrim naqli. Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur’an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik,” kata M Syaeful Bahar, Ketua LP Maarif NU Bondowoso, Minggu (10/8).

Diharapkan kata dia, dengan cara berpikir seperti itu, kaum muda NU tidak mudah tergoyahkan dengan paham-paham keagaamaan baru, yang masuk ke Indonesia.

“Jadi memang akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan pemahaman agama Islam “impor” yang sangat radikal, jauh dari wajah Islam yang sesungguhnya. Islam yang menghargai sebuah perbedaan, Islam yang mengajarkan sikap toleransi, sikap saling menghormati, dan tidak memaksakan suatu kehendak. Untuk itu kita proteksi sejak dini, dengan memberikan pemahaman Islam, yang Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi semua manusia dan alam), bukan Islam garis keras,” ujar alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid ini.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) LP Maarif NU Bondowoso, Daris Wibisono, membenarkan jika seluruh lembaga pendidikan di bawah LP Maarif NU sudah menerapkan pelajaran Aswaja dalam kegiatan belajar mengajar.

“Kami sudah mengajarkan mata pelajaran (Aswaja) di seluruh lembaga pendidikan kamu. Saat ini tercatat ada 32 lembaga pendidikan formal yang berdiri dibawah LP Maarif NU. Lembaga itu mulai dari tingkat SD hingga SMA,” ucap dia.

Daris berharap, dengan mata pelajaran Aswaja yang diajarkan di seluruh lembaga pendidikan NU, seluruh peserta didiknya mampu berfikir luas, sehingga tidak mudah dimasuki dengan paham-paham Islam baru.

(Ahmad Winarno/Kompas.com)

dikutip dari NatGeo Indonesia

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting