Di Balik Kisah Foto Tragedi Ketapang

Tulisan ini dikutip dari Vice Indonesia

Tawuran bermotif agama di sudut Jakarta itu menyulut konflik sosial parah setelah 1998, sekaligus melahirkan bibit kelompok intoleran yang kini merongrong demokrasi Indonesia.

Berbekal sebuah foto mencekam yang dijepret fotografer perang legendaris James Nachtwey, kami menyusuri ruas Jalan Pembangunan I yang sesak dengan geliat kegiatan warga. Ada banyak pedagang kaki lima menjual makanan dari pagi hingga malam, hotel-hotel melati berjejer, di sela-selanya berdiri bangunan indekos, ditambah sekolah suasana jadi makin ramai.

Yang seliweran di sana ada bermacam-macam. Ada orang Betawi santai saja berinteraksi dengan para pendatang Minang yang berjualan rendang. Orang Jawa Muslim berjualan soto tangkar di depan sekolah Kristen yang ramai oleh orang Tionghoa. Semua berbaur tanpa ada masalah. Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa tempat ini pernah jadi saksi bisu konflik ras dan agama paling berdarah sepanjang sejarah Jakarta pasca tumbangnya Suharto.

“Saya seminggu enggak tidur dulu, karena jaga-jaga di rumah,” kata seorang warga yang kami temui di sebuah kios jual minuman, menceritakan ulang peristiwa traumatik yang terjadi persis 20 tahun lalu, tepatnya Minggu 22 November 1998. Ia enggan menyebutkan namanya, Ia juga enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai apa yang persisnya ia alami dalam pertikaian berdarah yang terkenal dengan nama Peristiwa Ketapang itu. Satu peristiwa kerusuhan berdarah yang direkam dengan sangat dramatik oleh Nachtwey. Aku mengajak serta kawanku, Audy Bernadus, mengunjungi kembali lokasi fotografer James Nachtwey mengambil gambar dalam kerusuhan Ketapang.

Dalam pencarian, kami bertanya pada beberapa warga. Hampir orang yang kami tanyai ragu-ragu untuk menjawab soal kejadian tersebut. Kami berupaya mendatangi Ketua RT dan RW setempat, tapi sayangnya mereka tidak ada di rumah.

“Percuma kalau mau ke RW, pasti dia enggak ngerti. RW yang dulu sudah meninggal,” kata seorang Bapak. Saat itu ia sedang duduk-duduk di depan sebuah kios minuman. Aku menunjukkan foto-foto yang diambil James Nachtwey saat Peristiwa Ketapang terjadi. Ia membalas dengan memberikan petunjuk. “Oh itu sih di belakang Plaza Gadjah Mada, ada gang di situ,” katanya.

Kami memutuskan mengikuti arahan si Bapak. Persis sebelum kami beranjak pergi, seorang lelaki berusia akhir 50-an penasaran ingin ikut melihat foto-foto Nachtwey yang kami bawa. Di dalam foto itu ada banyak orang bersenjatakan pedang dan parang mengejar-ngejar korban. Sebagian terlihat sudah mengangkat parang dan bersiap membacok. Di antara para pengejar, terlihat ada laki-laki yang bagian pergelangan kakinya bengkok ke dalam. Si bapak yang penasaran itu tampak mengenalinya.

Sambil menunjuk ke arah pos ronda yang terletak 30 meter dari tempat kami berada, Ia spontan berkata, “Lah itu kan dia yang kakinya begitu, tuh lagi tidur orangnya.”

Kami cuma bisa terdiam, bergidik, merinding.

***

Minggu, 22 November 1998. Sekelompok orang yang duduk di meja sudut itu tampak tak pernah habis tenaganya. Hingga lewat tengah malam mereka masih sempat minum-minum bir, sesekali tertawa-tawa lepas. Gerombolan itu kerap terlihat di Cafe Pisa kawasan Sarinah. Sebagian dari mereka orang kulit putih. Mereka jauh dari kesan necis. Sebaliknya, malah tampak dekil. Pakaian yang mereka kenakan serupa satu sama lain, sekilas macam seragam. Mereka mengenakan kemeja kanvas, celana jins, dan tas punggung besar. Setelah ngobrol ngalor-ngidul semalaman, dua orang dari rombongan itu pamit pulang. Tinggal seorang pria kulit putih berambut metalik kehitaman dan seorang pria berwajah Melayu yang saban hari terlihat bersamanya.

Kedua orang itu adalah fotografer perang kawakan James Nachtwey dan asisten sekaligus penunjuk arahnya, Dwi Abiyantoro alias Abi. Saat itu Abi bertugas mendampingi Nachtwey setiap hari. Ke mana pun Nachtwey pergi ia yang mengantar. “Kami kayak nyapu jakarta aja keliling-keliling. Hampir 350 kilometer per hari,” katanya. Tak peduli situasi apapun, Abi selalu ada di samping Nachtwey. Bahkan, di tengah kerusuhan dan hujan peluru, Abi hampir selalu ada satu meter di belakang Nachtwey turut menjaga separuh hidupnya selama di Jakarta: film, kamera, dompet, lensa, dan telepon genggamnya.

Abi tidak hanya akrab dengan Nachtwey, tapi juga dengan fotografer konflik kenamaan lainnya seperti seperti Christopher Morris dan John Stanmayer yang sering turut serta kumpul-kumpul malam di Cafe Pisa. Sejak Suharto lengser lima bulan sebelumnya, minum-minum itu jadi rutin sebagai kegiatan pelepas lelah. Maklum, dalam masa transisi reformasi, kerusuhan bisa terjadi kapan saja, pecah dalam waktu yang tidak terduga. Sehabis dari Cafe Pisa, Abi bersama Nachtwey pulang dengan taksi ke hotel kecil di kawasan Gondangdia.

Mereka pulang tanpa sepeda motor Honda dan helm biru tua Abi yang sebelumnya ditinggalkan di hotel Cemara Gondangdia tempat Nachtwey menginap. Di dalam taksi, Abi mendengar arahan lewat radio agar tidak melintas ke arah Ketapang, Jakarta Pusat. Belum juga tiba, Abi bilang pada Nachtwey yang tidak paham bahasa Indonesia agar putar arah dan bergegas menuju Ketapang. Abi yakin betul sesuatu sedang terjadi di sana, tanda peristiwa besar menanti.

1511329843078-NACHTWEY-13

Kondisi gang Ketapang, lokasi terjadinya pembunuhan 20 tahun lalu. Foto oleh Arzia Tivany Wargadiredja.

“Jim, sepertinya ada masalah,” ujar Abi sambil memaksa Nachtwey bergegas. Kelihatan Nachtwey agak kesal karena tidak sempat tidur. “Awas kalau enggak ada masalah ya, elo tahu kan gue bangun dan tidur jam berapa?” balas Nachtwey, awalnya agak ogah-ogahan, sambil beranjak mengikuti arahan Abi.

Pukul 05.30, mereka bergegas pergi.

***

Saat Nachtwey dkk nongkrong di Cafe Pisa, peristiwa penting memang terjadi di Ketapang. Sekitar jam 22.00 malam, seorang warga ditonjok oleh penjaga parkir tempat judi karena masalah saling pandang yang berlanjut jadi saling tantang. Masalah awalnya amat sepele. Pertikaian berlanjut tapi berhasil didamaikan oleh petugas RW setempat. Sekitar pukul 03.00 situasi mereda. Terdengar seperti perselisihan pribadi yang seharusnya tidak berlanjut jadi masalah besar.

Tapi yang terjadi kemudian malah sebaliknya.

Pertengkaran kecil itu memicu kedatangan segerombolan preman yang membuat rusuh suasana. Niat mereka—yang sebagian besar asal Ambon itu—adalah membela penjaga parkir yang menonjok warga. Isu miring segera berembus di sekujur kampung: Para preman penjaga parkir dan rumah judi hendak menyerang warga muslim. Situasi yang tadinya dingin jadi panas kembali.

Ada satu peristiwa yang menyulut konflik jadi lebih besar. Gerombolan preman yang datang ke Ketapang sempat membuat ribut-ribut kecil. Gara-gara keributan itu, kaca jendela masjid Khairul Biqa yang terletak di tengah kampung pecah. Peristiwa itu terjadi saat ibadah salat subuh sedang berlangsung. Isu miring kembali berhembus, membuat situasi bukan hanya panas tapi membara. “Isu yang menyebar ada masjid dibakar,” kata Abi. “Kalau seorang muslim mendengar seperti itu pasti emosinya langsung terbakar.”

Pertengkaran kecil yang sebetulnya biasa terjadi kapan saja di Jakarta itu segera tereskalasi jadi konflik ras dan agama.

1511335326985-NACHTWEY-03

Di depan rumah ini, Abi menyebutkan beberapa pria keturunan Ambon dibantai massa. Foto oleh Arzia Tivany Wargadiredja.

Dalam laporannya yang dimuat Majalah Pantau, Amelia Pulungan menuturkan betapa kabar angin soal penyerbuan masjid cepat beredar. Pengeras suara masjid digunakan untuk membangun solidaritas warga muslim setempat. Mereka tidak hanya membela diri, tapi mencoba menyerang para preman. Sambil mengangkat samurai, celurit, dan parang mereka mengejar-ngejar para preman.

Dalam situasi seperti inilah Nachtwey dan Abi tiba di dekat Gadjah Mada Plaza. Anehnya, mereka tak mendapati tanda-tanda adanya kerusuhan. Lewat setengah jam mondar-mandir memantau keadaan, hasilnya nihil. Tak mereka ketahui bahwa massa yang bertikai akan segera melintas di hadapan. Tiba-tiba saja Abi dan Nachtwey melihat segerombolan orang membawa golok datang dari arah arah Tanah Abang. Bersamaan dengan itu, datang pula segerombolan orang dari arah Kota.

“Wah, kejadian sih ini!” Abi berujar dalam hati. Ia sadar situasi bisa berkembang jadi amat berbahaya.

 

Pengejaran dan penyerangan berlangsung lama. Dari pagi hingga sore hari. Mereka yang dikejar-kejar berusaha bersembunyi di got-got dan merayap senyap. Namun keadaan berubah drastis menjadi kacau ketika seorang anak yang sedang bermain sepeda berseru, “Ada orang di got!”

“Itu langsung ditusuk-tusuk gotnya pakai golok,” ujar Abi, yang hingga kini masih merasa ngeri melihat insiden Ketapang dari dekat. “Di situ aku ngelihat mereka enggak mengenal kasihan sama sekali ke sesama orang.”

Abi menuturkan, Ia melihat ada sekitar sepuluh orang yang sebagian besar keturunan Ambon diburu, sebagian dibunuh saat itu juga. Berkali-kali Nachtwey, yang terjebak di tengah kerusuhan, bersujud menyembah penyerang berusaha mencegah pembunuhan.

Nachtwey dan Abi ikut serta dalam pengejaran tersebut, dari awal buruan mereka lari, dipukuli dan dibacok hingga korban tak bernyawa. Nachtwey berkali-kali memohon agar mereka menghentikan aksi tersebut sebelum mereka tewas. Sementara Abi panik tak tahu harus melakukan apa. Ia hanya bisa menangis. Berbeda dengan Nachtwey yang terbiasa pergi ke daerah konflik, hari itu merupakan pengalaman traumatis baginya. Ternyata massa yang kalap tidak bergeming.

1511420345219-NACHTWEY-08

Gereja Kristus sekarang, yang sempat dibakar dalam insiden Ketapang. Foto oleh Audy Bernadus.

“Ketika itu terjadi, saya mencoba menghentikan massa. Dua kali mereka seakan-akan hendak menghentikan serangan mereka. Tapi mereka menunjukkan sikap tak bersahabat pada saya,” kata Nachtwey seperti dikutip dari Pantau. “Di sisi lain saya hanya seorang diri. Saya juga tak menguasai bahasa setempat.”

“Yang aku bingung, salah satu kubu yang bertikai punya pita dengan warna sama dibelit di tangan, pitanya sama. Pita merah di tangan, sampai sekarang saya enggak tahu untuk apa pita-pita itu,” kata Abi kepada VICE Indonesia.

Belakangan diketahui, merujuk makalah yang ditulis peneliti sosial George Aditjondro, pita merah melambangkan simbol masyarakat Ambon yang berakar dalam kultur Alifuru, dan sering digunakan ketika mereka berkelahi. Kebanyakan dari para penjaga usaha judi tersebut merupakan masyarakat keturunan Ambon meskipun tidak semuanya.

Hari itu, belasan orang tewas, lusinan gereja, sekolah, bank, dan toko dihancurkan dalam peristiwa yang disebut tragedi Ketapang yang terjadi pada hari Minggu dan Senin 22-23 November 1998. James Nachtwey mengabadikan semua peristiwa penting, khususnya yang berdarah-darah, dalam foto-foto ikonik hitam putih. Beberapa bulan setelahnya, Nachtwey diganjar penghargaan dari World Press Photo untuk foto-foto yang ia ambil di Ketapang.

***

Jakarta sedang panas saat peristiwa Ketapang terjadi.

Sepuluh hari sebelumnya, tepatnya 12 November 1998, ada kerusuhan besar di daerah Semanggi. Mahasiswa yang menggelar long march menuju gedung DPR/MPR dihadang aparat. Bentrokan pun tak terhindarkan. Kelak kerusuhan yang menewaskan 17 orang itu dikenal dengan nama Peristiwa Semanggi I. Hari itu, Nezar Patria—aktivis pro demokrasi yang sekarang menjabat Pemimpin Redaksi Jakarta Post versi digital—baru saja kembali lagi turun ke jalan setelah lima bulan terbebas dari penculikan Kopassus.

1511351627947-November_1998_Semanggi_demonstrations

Mahasiswa menggelar unjuk rasa menolak Sidang Istimewa DPR dekat Universitas Katolik Atma Jaya di Semanggi, Jakarta Pusat. Foto dari arsip Kementerian Pertahanan/Public Domain

Di jalanan, ia kembali berhadapan dengan molotov dan desing peluru yang ditembakkan aparat. Nezar ingat, kala itu yang menghadang mahasiswa berunjuk rasa tatkala Sidang Istimewa MPR sedang digelar bukan hanya aparat. Ada juga personel-personel Pasukan Pengamanan Masyarakat (PAM) Swakarsa yang dibentuk untuk membendung aksi aktivis pro-demokrasi.

Menurut Nezar embrio PAM Swakarsa sudah terbentuk sejak Orde Baru. Di zaman Orba bentuknya masih sebatas jaringan kriminal yang terserak dan tak terorganisir. Baru setelah Soeharto tumbang, dibarengi dengan kepentingan menanggulangi besarnya pengangguran pasca ’98, preman-preman ini diorganisir sehingga jadilah PAM Swakarsa. Misinya, menghadang pergerakan pro demokrasi yang merongrong pemerintah.

“Dibentuklah (misalnya) organisasi seperti Pemuda Pancasila. Jadi kelompok yang dianggap geng-geng liar, diorganisir, masuk ke dalam Pemuda Pancasila,” ujar Nezar. “Enggak semua masuk ke Pemuda Pancasila, beberapa yang lain tetap sebatas geng-geng, tapi ketika ada konsolidasi untuk membentuk Pam Swakarsa, mereka sepertinya diajak serta.”

Peristiwa Ketapang yang dipotret dengan amat lugas oleh James Nachtwey juga tak bisa dilepaskan dari arus pengorganisasian itu. Nezar, lewat bukuPremanisme Politik (2000)—yang ditulis bersama Rudy Gunawan—menyatakan bahwa peristiwa Ketapang adalah debut pertama Front Pembela Islam (FPI). Hanya saja Nezar tak mau buru-buru loncat pada kesimpulan bahwa FPI adalah bagian dari PAM Swakarsa.

“Mengambil kesimpulan seperti itu adalah tindakan yang gegabah, perlu ada penelitian lebih lanjut,” kata Nezar. “PAM Swakarsa adalah satu gerakan yang ad hoc, sedangkan FPI mengonsolidasikan diri, memformat gerakannya untuk lebih panjang karena memanfaatkan satu momentum kekacauan politik pada 1998 dan saat itu tidak ada yang bicara dengan lugas dan berani untuk membela komunitas Islam.”

Cendekiawan kritikus Orde Baru George Aditjondro punya teori yang bisa melanjutkan cerita Nezar. Ia menulis makalah 26 halaman dipublikasi secara online berjudul Orang-orang Jakarta di Balik Tragedi Maluku. Lewat tulisan itu George berteori peristiwa Ketapang kemudian memicu salah satu konflik agama terbesar di Indonesia, yakni konflik Ambon.

Konflik itu, menurut George, secara sistematis dipicu ataupun dipelihara sejumlah tokoh politik dan militer di Jakarta.

Setelah peristiwa Ketapang, aparat keamanan di Jakarta kemudian menangkapi orang-orang Maluku yang tidak memiliki kartu identitas untuk dipulangkan. Peristiwa inilah yang konon membuat preman Ambon Muslim dan Kristen sama-sama bertekad balas dendam di kampung halaman mereka. Hasilnya tragedi berskala lebih luas.

Lebih dari 1.000 orang terbunuh di Ambon dan sekitarnya, akibat provokasi orang-orang yang dipulangkan dari Jakarta. Mereka menyebar informasi parsial tentang kejadian di Jakarta beberapa bulan sebelumnya ke kampung masing-masing. Ambon sempat terbelah dua, menjadi wilayah muslim dan Kristen, sebelum akhirnya konflik komunal ini dapat diakhiri pada 2002 oleh semua pihak.

1511351032403-1999-03-05T120000Z_1654541076_RP1DRIMDFZAB_RTRMADP_3_INDONESIA-PROTEST

Sekelompok muslim di Jakarta berunjuk rasa, mengecam kegagalan militer dan pemerintah menghentikan kekerasan sektarian di Ambon, Maluku. Foto dari arsip Reuters Photo.

Situasi memanas tak hanya di Maluku. Desember 1998, warga Timor berjarak 2.700 kilometer dari Jakarta, membakar beberapa masjid sebagai balasan insiden di Ketapang. Hubungan antar penganut agama maupun antar etnis di pelbagai provinsi memburuk memasuki 1999. Sulawesi Tengah, tepatnya di Poso, menyusul berikutnya tertimpa rentetan kekerasan yang disusul bangkitnya sel teroris sayap kanan. Rakyat Provinsi Timor Timur di tahun yang sama menuntut kemerdekaan dari Indonesia, sampai akhirnya mereka akhirnya menggelar referendum ikonik yang mendorong berdirinya negara baru Timor Leste.

Indonesia sempat diprediksi akan pecah seperti Yugoslavia. Ramalan itu bisa dihindari karena pemerintah sesudah reformasi segera menjalankan desentralisasi dan pemberian status otonomi khusus.

“Waktu itu Suharto baru jatuh, semua pihak di Indonesia berusaha menemukan ekuilibrium baru, titik keseimbangan baru,” ujar Andreas Harsono, dari Human Rights Watch.

***

Dua minggu berselang setelah kunjungan pertama kami ke Ketapang, aku memberanikan diri menemui lelaki di dalam foto yang siang itu sedang tidur di Pos Ronda. Aku bukan perokok, tapi di siang yang sangat terik itu, sekitar pukul 2 siang, sengaja kunyalakan sebatang rokok sebagai pembuka perbincangan dengan orang-orang yang sedang nongkrong di pos ronda. Tak berapa lama si laki-laki dalam foto terbangun. Ia nimbrung dalam obrolan tongkrongan. Aku sempat menawarkan rokokku tapi ia menolak.

“Saya ke warung dulu, rokok saya harus kretek,” ujarnya. Niatku murni bertanya soal kejadian Ketapang kepadanya. Lelaki itu, diduga sebagai salah satu pelaku pembacokan yang wajahnya terekam jelas oleh foto Nachtwey, sadar akan kehadiranku dua minggu sebelumnya.

Aku bertanya banyak hal kepadanya, termasuk bagaimana keadaan 22 November 1998. Ia tersenyum ramah. Namun ternyata dia menolak menjelaskan detail pembantaian preman-preman Ambon. Ia enggan disebut namanya, dan hanya mengaku sebagai warga yang turut menjadi saksi Peristiwa Ketapang. Dia tidak membenarkan ataupun menolak konfirmasi bahwa sosok dalam foto Nachtwey adalah dirinya. Bagi lelaki itu, tragedi November 1998 merupakan luka bagi semua masyarakat Ketapang. Dia ingin lembaran lama ditutup saja.

Aku mematikan ujung batang rokok keempat yang kuisap siang itu dan memutuskan mengakhiri perbincangan kami. Sebelum aku beranjak meninggalkan pos ronda, ia menyelaku, sejenak mengulang alasannya tak mau membicarakan keterlibatannya dalam Tragedi Ketapang.

“[Pembantaian Ketapang] adalah kejadian kelam, sejarah yang kelam, sudah saya tidak mau diungkit lagi,” ujarnya. “Itu sesuatu yang sebaiknya dilupakan, selupa-lupanya. Karena sudah tidak ada ketegangan, aman, damai.”

*Audy Bernadus turut berkontribusi dalam pengerjaan artikel ini.

Leave a comment

Filed under Uncategorized, Unmind, Unwriting

HAK PEMOTOR UNTUK ELUS-ELUS DENGKUL DI JALANAN UTAMA JAKARTA

Tulisan ini disadur dari Mojok Institute

 

Motor akan dilarang lewat di kawasan Rasuna Said dan Sudirman, Jakarta. Larangan tersebut akan diterapkan mulai 11 Oktober 2017.

Argumen pemerintah, pertumbuhan motor lebih tinggi dibanding pertambahan ruas jalan. Selama 5 tahun terakhir, motor bertambah rata-rata 9,7 – 11 persen, mobil tumbuh lebih sedikit dengan rata-rata 7,9 – 8,75 persen. Sedangkan luas jalan rata-rata 0,01 persen saja.

Membandingkan pertumbuhan saja sebetulnya tidak akurat. Kita tahu mobil memakan lebih banyak tempat dibanding motor. Anggap saja semua mobil adalah Avanza dan semua motor adalah Supra untuk memudahkan. Dimensi motor Supra adalah 1,907 x 0,702 m = 1,33 m2. Sedangkan Avanza adalah 4,140 x 1,660 m = 6,87 m2.

Apa artinya? Artinya 1 mobil setidaknya memakan ruang lima kali lebih banyak dibanding 1 motor.

Mari gabungkan dengan laju pertumbuhan keduanya. Memang, jumlah motor bertambah sekitar 2 persen lebih cepat dibanding mobil setiap tahunnya. Namun, dengan memperhitungkan dimensi kendaraan, sesungguhnya mobil tumbuh 4,1 – 4,2 kali lebih cepat dalam menghabiskan tempat di jalanan.

“Tapi kan mobil bisa muat lebih banyak?” Tidak.

Avanza, dengan dimensi di atas, jika ditumpangi oleh 9 orang pun, 1 orangnya tetap memakan tempat 0,76 m2. Supra, ditumpangi oleh dua orang, memakan 0,66 m2 per orang. Dan kita tahu, sangat jarang 1 mobil diisi oleh 9 orang. Bahkan, menurut sebuah studioccupancy rate mobil pribadi turun dari rata-rata 1,95 menjadi 1,75 penumpang per mobil.

“Tapi kan jumlah motor di Jakarta lebih banyak? Kepemilikan motor di Jakarta 74 persen, sedang mobil cuma 18 persen.”

Betul, tapi tidak semua motor dan mobil itu berbarengan tumplek blek di jalanan. Bahkan kalau tumplek blek sekalipun (dengan rasio 74 motor dibanding 18 mobil ada di satu ruas jalan secara bersamaan), dengan memperhitungkan dimensinya, mobil tetap memakan tempat 1,25 x lebih banyak dibanding motor. Dan kalau mau akurat, di area metropolitan Jakarta, sebetulnya lebih banyak persentase penduduk yang pakai mobil (31 persen) dibanding pakai motor (14 persen).

Situ juga ndak boleh lupa, motor itu lebih lincah di jalan. Ia lebih cepat sampai ke tujuan di saat mobil-mobil masih ngendon di jalanan. Di kota lain seperti Melbourne, berkendara dengan motor bisa 3 kali lebih cepat dibandingkan mobil. Dengan menggunakan data di Bandung dan hitungan di sini sebagai dasar, setidaknya motor bisa melaju 1,21 kali – 3 kali lebih cepat. Penelitian lain di Brusel pun menunjukkan, kalau 10 persen mobil pribadi diganti sepeda motor, waktu tempuh berkurang sebanyak 40 persen.

Kita belum ngomong bagaimana polutifnya mobil. Studi-studi yang saya sebutkan di atas membuktikan, mobil lebih mengotori udara dibandingkan motor. Survei Susenas pada 2009 juga menunjukkan, mobil rata-rata menghabiskan 4 kali lebih banyak bensin dibanding motor tiap harinya.

Tanpa perlu mikir abot sekalipun, Anda bisa paham motor lebih “bersih” dibandingkan mobil. Motor lebih gesit (tidak menghabiskan banyak waktu di kemacetan dan membakar lebih banyak bensin ketika idling), kapasitas mesinnya juga lebih kecil.

“Tapi kan pengendara motor kelakuannya sering bikin macet, kayak berhenti di bawah fly over kalau hujan?”

Yaelah, Bray. Kalau main salah-salahan, memangnya mobil-mobil yang sering parkir di bahu jalan gak bikin macet? Lagian kalau itu masalahnya, solusinya adalah penertiban, bukan pelarangan. Jangan minum obat diare kalau sakitnya migren.

Solusinya Gimana?

Saya bukan gubernur Jakarta, jadi Anda sebetulnya salah tanya. Tapi, sebelum saya ditegur netijen karena tidak memberikan solusi, mari berandai-andai bahwa saya calon gubernur Jakarta yang lagi debat publik. Tentu, seperti politisi lain, pertama-tama saya akan menjawab pembenahan transportasi umum tetap yang paling utama. Tak hanya dari segi keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu, tetapi juga konektivitas. Artinya, kalau udah turun di stasiun/terminal, kita nggak kesusahan nyari transportasi lanjutan ke kantor.

Kedua, kita perlu adil sejak dalam pikiran. Betul bahwa mobil juga diatur oleh Pemda Jakarta. Dulu dengan 3-in-one, sekarang ganjil genap. Tapi bagaimana dengan Electronic Road Pricing? Itu alat ERP (seperti di depan Setiabudi One) mangkrak begitu saja. Kalau motor dilarang lewat Rasuna Said, mobil pribadi juga harus membayar untuk lewat situ.

Tetapi, mari kita mikir begini: kenapa tidak pernah ada pelarangan total untuk mobil? Motor saja sudah dilarang lewat di Medan Merdeka, Sudirman, dan Thamrin. Belum lagi mobil punya privilese lewat di jalan tol dan beberapa fly over seperti Kasablanka dan Antasari. Masak cuma pemotor yang diharuskan naik transportasi umum? Ini ndak adil.

Kalau mau mengurangi kemacetan sambil tetap adil terhadap pemotor, pemerintah bisa membangun jalur khusus sepeda motor. Bahkan ini pun win-win solution juga bagi pemilik mobil. Waktu tempuh jadi lebih cepat dengan solusi ini.

Ketiga, kita memang harus membenahi pola konsumsi masyarakat. Di Indonesia dan negara Asia lain, banyak orang yang tetap membeli mobil, meskipun naik mobil di jalanan kota lebih lambat dari motor. Bagi rumah tangga yang punya mobil, rata-rata kepemilikannya adalah 1,2 mobil per rumah tangga. Ini kan tidak logis? Sudah lebih lelet, punyanya lebih dari satu pula. Rupanya, studi menunjukkan kalau memang orang beli mobil itu buat gaya-gayaan. Anda tidak perlu heran, pameran mobil di Jakarta kemarin bisa menyedot 400.000 pengunjung, bahkan menjual 17.000 unit dalam 10 hari.

Selama kelas menengah ngehek tidak mengubah pola konsumsinya, percuma saja kita membenahi transportasi umum. Solusinya? Kita bisa menaikkan pajaknya, atau mengenakan cukai pada kendaraan bermotor. Duitnya lalu di-earmark ke transportasi publik. Kalau masih gagal, ya mau tidak mau kita kasih kuota produksi sekalian pabrik-pabrik itu.

Berani tidaknya melawan industri otomotif itu ya urusan pemerintah. Tapi karena saya naik motor, tentu saya punya kepentingan buat membela sesama pemotor.

Kalau yang naik mobil bisa saling menggenggam tangan di atas perseneling sambil nglencer di jalanan Rasuna Said, di mana hak pemotor untuk rangkulan atau mengelus-elus dengkul di jalanan yang sama?

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Sebab Ini Bukan Lagi Soal Rivalitas Yang Hanya Berlangsung Selama 90 Menit

prsija

Pada tanggal 22 Juli kemarin publik dari kedua kota yang terpisah oleh ruas Tol Cipularang mengalami lagi sebuah ajang adu gengsi lewat kancah persepakbolaan tanah air. Kedua kesebelasan dari kedua kota tersebut beradu peluh didalam lapangan guna memperbaiki posisi aman didalam klasemen Liga besutan kerjasama antar korporat ojek online dan aplikasi gawai penyedia piknik.

Pertandingan berlangsung sangat panas, tempo permainan dipaksa keras, pemain antar dua kesebelasan pun saling beradu ego antar satu sama lain. Ya wajar sih namanya juga Derby, skill mengecoh bola urusan belakang, yang penting lawan jadi tumbang (entah itu lawan tim yang bertanding  maupun para pendukungnya)

Sebetulnya menurut dari sudut pandang saya api rivalitas dari kedua kubu yang dipisah oleh adat istiadat berbeda ini sudah mencapai titik paling memuakkan. Bagaimana tidak, disetiap pertandingan Persija dan Persib melawan tim manapun kejadian pengroyokan oleh (mengambil istilah pak polisi) Oknum pasti selalu terdengar di semua kanal berita maupun social media, mereka yang hidup diantara kedua kota Jakarta dan Bandung maupun dikota-kota lain pun kena imbasnya, sialnya juga hampir rata-rata korban pengroyokan hanya salah sasaran Oknum yang terlanjur kalap. Tentunya banyak pihak yang dirugikan setiap kejadian tersebut terjadi, gaung gegap gempita perdamaian pun terdengar hanya seperti omong kosong belaka.

Tapi saya angkat topi tinggi-tinggi untuk para petinggi dari kedua pendukung kesebelasan tersebut..

Paska tiga hari sebelum pertandingan, ketua umum The Jak Mania Ir. Ferry Indrasjarief atau akrab disebut Bung Ferry menyambangi rumah pentolan Viking Bandung yaitu Heru Joko dengan niatan bersilahturahmi sekaligus nyekar ke makam salah satu korban kekerasan saat Derby Elclasico alm. Rangga dan juga dirigen bobotoh yg sangat disegani alm. Ayi Beutik. Menurut saya pertemuan ini adalah salah satu psy-war paling positif, kedua orang yang sangat dihormati dimasing-masing kubunya tersebut meninggalkan semua jubah ke egoan untuk kemudian bersatu dalam alam perdamaian tanpa sekalipun timbul hasrat untuk saling membunuh, yang kalo menurut bahasa John Lennon “I don’t believe in killing whatever the reason!”
Sebab rasa persatuan didalam balutan perdamaian adalah konsekuensi tanpa kompromi menurut mereka.

Tapi sejujurnya saya sangat menyayangkan sekali kejadian yang terjadi sehabis pertandingan itu, sehabis wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan tensi tinggi layaknya sehabis memakan daging kambing 2 Kilogram, salah satu penyerang Persib instan langsung memukul gelandang persija Sutanto Tan. Karena dipicu oleh tekel keras yang dilakukan Sutanto, semua official tim pun berjibaku ke dalam lapangan untuk saling baku hantam maupun melerai. Buntut dari kekisruhan didalam lapangan tersebut, para Bobotoh terpancing emosi, timpukan botol, flare, serta jutaan kata maki meluncur deras menuju kubu Persija Jakarta. Sungguh sebuah kejadian yang sangat memalukan, dimana seharusnya momen derby sarat adu gengsi ini menjadi wadah bagi publik kedua kota untuk bersatu, tapi malah seperti adegan Crow Zero versi suporter.

Nasi sudah menjadi bubur, dan tukang buburnya pun sudah menjadi haji. Cerita lama soal permusuhan ini mungkin akan bertahan hingga puluhan tahun mendatang, hingga papan nisan menjadi saksi bagaimana tindakan ala suku barbar tak lagi kompeten dalam menunjukan eksistensi diri.

Salam Jempol Telunjuk.

 

 

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Tingkat Akhir yang Kebablasan

Mahasiswa tingkat akhir? Hmm.. bukankah sebuah kata yang cukup “menyeramkan” bagi sebagian dari kalian yg sedang genting2nya mencari jati diri di umur 20-sekian?
Yak selamat, kamu never walk alone…

Bagaimana bisa begitu menyedihkannya coba, disaat kebutuhan pokok melambung tinggi, harga pasar tidak stabil yang selalu bikin rakyat miskin mati tercekik secara perlahan dibanding kita para mahasiswa akhir yang sudah pasti terpapar dengan kondisi ekonomi tersebut pasti terkadang ada pikiran yang membatin

“Duh, si anu sepatunya baru…”

“Hadeh ini tempat keren, liburan yuk!”

Dan segala macam keinginan lain-yang sialnya tak terlalu dibutuhkan. Nah, jika sudah begini maka hasrat endofermin {eh, bener gak sih?} yang tertimbun di lapisan otak paling belakang akan cepat berkerja untuk memaksimalkan hasrat kebendaan yang subhanallah duniawi sekali. Padahal dipikir-pikir lagi justru keinginan tersebut bikin kita jadi lebih semangat lagi untuk bekerja, serta memaksimalkan soft maupun hard skill {jika punya}.

Lalu hubungannya apa dengan Mahasiswa Tingkat Akhir?

Ingat wahai mahasiswa yang sedang diujung tanduk D.O…
Masygul peradaban maju ada ditangan kalian, kalianlah sang juru martyr, kalian penguasa matahari!
Mungkin aja kan jika kita lulus tepat waktu tidak ada penemuan baru yang tercipta? Dan ini mengacu kepada bung Bill Gates sang ekspatriat itu, beliau mungkin bukan yang terpandai diantara teman2nya, tapi atas izin Gusti Allah serta niat yang sudah kepalang gigih, beliau membuktikannya. Dan terbukti sekarang sebagian dari kita menjadi penjilat bagi produk2 beliau.

Tapi sebenernya peran universitas penting juga sih kalo dipikir-pikir lagi, bagaimana mungkin logikanya, nyusun skripsi yang maha dahsyat merepotkan itu harus berakhir menjadi barang kiloan sampah? Ya mungkin niatnya bagus, Recycle Use biar go green gitu lho.. etapi ya jangan skripsi juga kalik~ mungkin aja ya kan suatu hari nanti timbul dendam yang amat kesumat bagi Universitas? Disini saya dengan sangat sengaja tidak menulis nama “Universitas” yang dimaksud. Ditambah lagi mungkin Departemen Pendidikan kita belom terlalu tegas memberikan peraturan yang sifatnya untuk kebaikan mahasiswa itu sendiri, seperti contohnya; menghilangkan sistim kejar sks sesuai ipk, karena hal ini sangat menyusahkan mahasiswa waktu mengejar skripsi. Jadi solusi alternatif yang bisa saya berikan mungkin menerapkan peraturan tetap paket sks tidak mempengaruhi ipk, jadi seperti sekolah dulu. Niscaya jika itu diterapkan para koboy-koboy kampus yang rupa nya masya allah oldskool tersebut dapat menghirup udara bebas akademik, untuk sementara sebelum dilepas di belantara rimba kehidupan. Segala sektor di negri kita dipastikan bakal maju, karena fresh graduate nya {diharapkan} menerapkan ilmu yang didapat semasa kuliahnya kepada negara dan bangsa ini tanpa mau disebut sebagai nasionalis.

Yak, diantara segelintir pelik kehidupan yang ada, kita sebagai mahasiswa tua ini harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan ini. Ingat, skripsi tidak akan selesai dengan sendirinya. Jumlah SKS tak akan bertambah sesuai harapan jika kita tidak menjalankan studi jam kuliah yang memuakkan.

Salam Kecebong!

Leave a comment

Filed under Uncategorized, Unmind, Unwriting

Cara Cerdas Melawan Permusuhan

Tulisan ini dikutip dari Mojok

 

Ada beragam cara membalas permusuhan, pelecehan, dan bullying.

Cara pertama dilakukan dengan sepadan: balas dengan telak. Cara ini berpotensi melahirkan dendam kesumat yang diwariskan turun-temurun. Secara psikologis, cara pertama ini juga kurang bagus karena bakal memunculkan paranoid, fobia, hingga trauma.

Cara kedua, balas dengan cinta kasih. Ini cara elegan nan cakep yang dilakukan oleh mereka yang punya mental baja dan ketahanan berproses. Di Liberia dan Sudan Selatan, ibu-ibu yang capek dengan konflik beraroma sektarian melakukan perlawanan dengan cara mogok seks. Mereka nggak bakal mau disetubuhi, kecuali papa-papa itu mau menimbun dulu bedilnya di luar kampung terlebih dulu. Jelas, bapak-bapak memilih kelonan dengan istrinya daripada mencumbu senapan. Aksi ini turut andil menghentikan perang saudara di negara kawasan Afrika tersebut.

Aksi lebih elegan juga dilakukan Nelson Mandela. Saat dilantik sebagai presiden, ia mengundang bekas sipir penjara yang dulu sering melecehkannya di bangku undangan paling depan.

Stok kisah semacam ini banyak kok. Sekali lagi, hanya mereka yang punya ketangguhan mental yang oke yang bisa melakukannya.

Cara ketiga: balas dengan kocak. Apabila balasan dengan senyuman belum cukup, keluarkan pertahanan humor. Ini cara yang sungguh-sungguh membangkitkan tawa sekaligus juga membuat jengkel pihak lawan. Soal ini Haji Agoes Salim, negarawan sepuh pendiri republik ini banyak melakukannya saat berkonfrontasi dengan kelompok komunis maupun dengan politisi negara asing. Spontanitas dan kecerdasannya bermain olah kata membuat pengejek mati kutu dan wajah memerah padam. Google menyimpan banyak kisah tentang kecerdasan Old Great Man ini. Cari saja sendiri.

Di lapangan hijau, Dani Alves melakukannya dengan elegan. Di saat ia bersiap-siap mengambil tendangan sudut, di belakangnya riuh suara pendukung Villareal menirukan suara monyet. Apakah bek Barcelona itu marah karena tindakan rasis suporter lawan yang juga melemparinya dengan pisang? Jelas, ia tersinggung. Tapi ia melakukan tindakan keren: ia ambil pisang yang nyaris mengenai dirinya, mengupasnya lalu menyantapnya. Kemudian ia melaksanakan tugas sebagai penendang sudut. Ini cara melawan rasisme lapangan hijau ala Alves di penghujung April 2014 silam, yang membuat petinggi FIFA angkat topi buat dirinya.

Sebelum Alves melakukan aksi cerdas ini, Samuel Eto’o sudah mengawalinya. Saat berkostum Barcelona dan bertandang di markas lawan, Eto’o adalah target utama rasisme. Ketika ia menggiring bola, teriakan ala monyet bersahutan di stadion. Apakah ia langsung ngambek lalu keluar lapangan seperti yang dilakukan Kevin Prince Boateng di AC Milan? Tidak. Eto’o malah menceploskan gol dan merayakannya dengan menirukan gerakan monyet di hadapan pengejeknya! Ahaaa, aksi tarian monyet ala Eto’o membungkam para suporter rasis.

Bagi saya, hanya mereka yang punya mental tangguh dan cita rasa humor berkelas yang punya gaya unik membalas cemoohan. Tahu bagaimana anak-anak Jokowi bermain olah kata saat di-bully di medsos? Kasihan juga nih orang, mereka di-bullyhanya karena mereka anak Jokowi.

Tapi, saya salut juga dengan cara mereka merespons para pembencinya. Saya ngakak membaca tindakan Gibran dan Kaesang dalam menghadapi kebencian yang dipadupadankan dengan cemoohan itu bukan hanya dengan santai, tapi dengan cerdas dan jenaka.

Papa Doyan Lontong adalah istilah dari Gibran untuk “membalas” tindakan dosen pengecut yang membuat tagar Papa Doyan Lonte. Ada juga istilah “kecebong”, “Oey Hong Liong”, dan “Herbertus”. Di foto terbaru, Kaesang malah pake topi bertuliskan “Kolektor Kecebong”. Pembela Jokowi dan Prabowo pasti sudah paham dengan istilah ini. Tapi, oleh anak-anak Jokowi, ketiga istilah ini malah digunakan secara kocak. Hahaha ….

Ada beragam cara menyikapi segenap kebencian dan serangan verbal. Bisa dengan serius bertele-tele, diiringi seringai dan emosi yang memuncak, atau dengan kelembutan kasih sayang. Bisa juga dengan cara santai, tak terduga, kocak, dan membuat lawan merasa gemas. Cara terakhir ini yang bagi saya unik.

Kini, Kaesang yang lucu itu katanya dilaporkan kepada polisi soal penodaan agama gara-gara bilang “ndeso” saat melihat anak-anak kecil yang dikomando untuk bilang “Bunuh Ahok … bunuh Ahok”. Entah yang dinodai apanya. Sekalian dibikin film sajalah. Bintangnya siapa lagi kalau nggak Reza Rahadian dan Chuck Norris, sama adik saya Chelsea Islan atau sepupu saya si Natasha Wilona itu. Judulnya, “Kaesang yang Ternodai Laporan Polisi”.

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Menghidupkan Thukul Melalui Film

tirtoid-antarafoto-istirahatlah-kata-kata-180117-zk-3_ratio-16x9
Film tentang seorang penyair yang dihilangkan oleh rezim Soeharto, mengambil masa saat bersembunyi dari kejaran tentara dan intelijen Orde Baru. Personal sekaligus politis: menuntut negara untuk segera menuntaskan kasus kejahatan atas kemanusiaan.

“Film ini adalah pengeling-eling. Pengeling-eling bukan sekadar pengingat Wiji Thukul,” kata Yosep Anggi Noen, sutradara Istirahatlah Kata-Kata.

Pengeling-eling dalam bahasa Indonesia berarti pengingat, peringatan, atau kenangan. Namun bagi Anggi, yang lahir dan besar di Yogyakarta dan ketika peristiwa penculikan orang tahun 1997-98 berusia 14 tahun, kata pengeling-eling lebih dari sekadar makna harfiahnya.

“Pokoknya ini pengeling-eling, jangan diterjemahkan, ini maknanya lebih tinggi dari pengingat,” celetuk Anggi.

Sulit bagi Anggi untuk memaknai film Istirahatlah Kata-Kata itu. Kesulitan itu lantaran sosok Wiji Thukul, lakon utama film tersebut, tidak pernah dikenalnya secara langsung. Seperti kebanyakan anak Indonesia generasi tahun 1980-an dan sesudahnya, Anggi mengenal Thukul lewat puisi-puisinya, dan segelintir orang lagi yang tahu Thukul hanya lewat cerita mulut ke mulut para sahabatnya.

Thukul adalah seniman sekaligus aktivis. Ia bagian dari mayoritas masyarakat Indonesia dari pulau Jawa yang miskin, tinggal di pinggiran Kota Solo, yang punya cita-cita keadilan bagi seluruh rakyat di negara kepulauan ini. Ia terlibat dalam satu gelombang besar dari semua kalangan—mahasiswa, pemuda, intelektual, seniman, kalangan terdidik, orang-orang terkenal dan orang-orang tanpa nama—dalam organisasi maupun bukan, yang melihat Indonesia saat itu, sebuah negara yang digerakkan oleh rezim otoriter, telah seenaknya diatur untuk menopang kekayaan pribadi dan jaringan kekuasaan Soeharto sejak 1967.

Kekuasaan itu bernama Orde Baru dan ia ditopang oleh istana, tangsi militer, dan partai tunggal penguasa. Kekuasaan ini lahir lewat pembantaian massal pada 1965-1967, dan selama 30 tahun berikutnya menciptakan pola pembangunan dengan membungkam suara kritis lewat pemenjaraan bahkan pembunuhan. Orang seperti Thukul melihat simbol kekuasaan saat itu, Soeharto, harus ditumbangkan.

Momennya krusial. Pada 1997 krisis finansial menghajar Asia. Indonesia-nya Orde Baru, yang bergantung pada modal asing, sempoyongan menghadapi krisis ekonomi tersebut. Nilai tukar rupiah ke dolar empat kali lebih rendah dari tahun sebelumnya. Inflasi meroket, harga pangan melonjak, dan nilai tukar rupiah terjerembab. Indonesia menghadapi dua agenda politik besar: Pemilu 1997 dan Sidang Umum pada Maret 1998.

Kelompok pro-demokrasi, yang tumbuh pada 1980-an, melihat perlu ada kebebasan politik yang lebih besar.

Thukul dihilangkan pada kurun gelombang protes anti-Orde Baru pada akhir 1990-an itu. Ketika Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, ia tidak terlihat dalam ratusan ribu mahasiswa dan rakyat biasa yang merayakan keruntuhan simbol rezim otoriter itu dengan gegap-gempita. Namanya muncul dalam pemberitaan saat teman-temannya, dan organisasi hak asasi manusia, mulai menyoroti kasus penghilangan secara paksa pada 1997-1998.

Sampai sekarang, bersama 12 aktivis, pemuda, dan mahasiswa lainnya, Thukul tak pernah kembali. Pria berperawakan ceking dengan gigi tonggos dan rambut ikal itu tak pernah dikembalikan oleh negara—institusi yang paling bertanggung jawab untuk menyelidiki kasus ini kepada publik dan terutama bagi keluarga korban.

Saat sebagian besar orang Indonesia membicarakannya, Wiji Thukul adalah nama, tetapi sosoknya sendiri tidak ada.

Bagi Yosep Anggi Noen, apa yang sulit itu—dalam menghadirkan Thukul lewat layar lebar—adalah masa yang hilang justru ketika seharusnya Thukul bisa menikmati kebebasan yang ia cita-citakan. Karenanya, di tengah kampanye agar negara secepatnya melakukan proses pencarian kasus penghilangan orang secara paksa, di saat orang membicarakan puisi-puisi Thukul, Anggi mengambil pilihan yang lebih personal. Ia melihat, bagaimanapun, Thukul ialah manusia biasa.

“Wiji mengalami ketakutan, kesepian, dia punya cinta untuk anak dan istrinya,” ujar Anggi.

Justru karena Thukul adalah manusia biasa, film berdurasi 97 menit yang menceritakan pelarian Thukul di Pontianak itu lahir. Ia juga menjadi sebuah tuntutan agar kasus-kasus kejahatan terhadap kemanusiaan di masa lalu segera dituntaskan.

Riset di Balik Film

Gagasan memfilmkan Wiji Thukul semula datang dari Yulia Evina Bhara, Tunggal Pawestri, dan Okky Madasari.

“Pada 2014, Wiji mendapat penghargaan dari ASEAN Literasi Award. Dari situ kita berpikir, kenapa kita enggak bikin film Wiji? Okky yang punya ide. Saya dan Tunggal langsung setuju,” ujar Yulia Evina Bhara, produser Istirahatlah Kata-Kata usai penayangan perdana di Epicentrum, 16 Januari lalu.

Sebelum ide itu diwujudkan, mereka bertiga mengajak sejumlah aktivis untuk mengapresiasi karya-karya Thukul. Pada 2015, bersama adik Thukul, Wahyu Susilo, mereka terlibat dalam gerakan “Barisan Pengingat”. Ide gerakan ini mengampanyekan kasus penghilangan paksa lewat simbol Wiji Thukul dengan membuat mural di sejumlah titik di Jakarta.

Banyak aktivis yang bergabung dalam gerakan itu. Beberapa diskusi soal Thukul digelar. Puisi-puisi Thukul dibacakan. Gerakan ini juga menerbitkan buku kumpulan puisi Wiji Thukul berjudul Nyanyian Akar Rumput, terbit pada Maret 2014.

Setelah ide membuat film itu muncul, Ebe—sapaan akrab Yulia Evina Bhara—dan teman-temannya melakukan riset tentang Thukul. Mereka mencari literasi yang membahas Thukul, menemui para sahabat, dan mengumpulkan sejumlah puisi Thukul.

Sebelum memulai riset, mereka sudah sepakat menunjuk Yosep Anggi Noen sebagai sutradara.

Pemilihan Anggi tanpa perdebatan. Perdebatan panjang justru terjadi di saat riset, yang memakan waktu nyaris 1,5 tahun sebelum naskah film ditulis Anggi.

Riset itu akhirnya mengarah pada satu fragmen hidup Thukul ketika bersembunyi di Pontianak dari kejaran para tentara dan intelijen Orde Baru. Thukul dicari-cari penguasa karena dituduh “pembuat onar” pada peristiwa 27 Juli 1996—dikenal “Kudatuli”, sebuah serangan yang direncanakan oleh orang-orang pro-Soeharto terhadap kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

“Fragmen saat Wiji di Pontianak ini menunjukkan kegelisahannya, ketakutan. Di situ terlihat bahwa Wiji itu manusia biasa, sama seperti kita,” tutur Anggi.

Untuk mendapat cerita tentang kehidupan Thukul di Pontianak, tim produksi film menemui Martin Siregar, sahabat Thukul, aktivis yang menyembunyikan Thukul di Pontianak. Martin menjadi saksi hidup bagaimana kehidupan Thukul selama di sana.

Dari Martin, tim produksi mendapat banyak cerita. Salah satunya tentang ketakutan Thukul saat bertemu dengan tentara di tempat potong rambut. Thukul yang menyamar dengan nama Paul cuma diam ketika ditanya si tentara tentang asalnya. Fragmen itu tergambar dalam film Istirahatlah Kata-Kata.

Berbeda dengan riset yang berselang lama, pengambilan gambar justru berlangsung 15 hari. Ada dua tempat yang dipakai: Pontianak dan Yogyakarta. Selama 12 hari, kru film mengambil latar Kota Pontianak dan Sungai Kakap. Sementara syuting di Yogyakarta berlangsung dua hari di Kali Duren dan Terban.

“Ada beberapa titik di Pontianak. Kalau di Yogyakarta di kampungnya Anggi. Kalau di Pontianak dipilih karena memang ceritanya tentang Pontianak. Kecuali di Yogyakarta itu karena faktor lebih mudah menjangkaunya,” ungkap Ebe.

Menghidupkan Thukul Melalui Film

Pemilihan Pemeran

Satu malam pada awal tahun 2016, Marissa Anita menerima satu pesan singkat dari Yosep Anggi Noen: “Mar, kamu bisa bahasa Jawa, kan?”

“Iya bisa, kenapa, Nggi? Kamu mau ngajak aku main film?” jawab Marissa.

Tanpa basa-basi, Anggi langsung menawari Marissa untuk memerankan salah satu tokoh dalam film itu. Marissa langsung mengiyakan tanpa pikir panjang begitu mengetahui film tersebut mengangkat sosok Wiji Thukul.

“Saya waktu itu ditawari peran pembantu saja, bukan Sipon, istrinya Wiji. Saya tetap saja mau, karena ini tentang Wiji Thukul. Adalah kehormatan bagi saya bisa terlibat dalam film ini,” kata Marisa sesudah penayangan perdana Istirahatlah Kata-Kata.

Namun, saat proses lokakarya bersama para pemeran lain, Anggi justru meminta Marissa memerankan Sipon. Marissa kaget.

“Saya bilang ke Anggi, ‘Enggak bisa gitu, dong. Ini, kan, peran besar. Enggak bisa gitu saja.’ Tapi Anggi meyakinkan saya, pokoknya bisa,” ujar Marissa.

Marisa memang tidak ada mirip-miripnya dengan Sipon. Sipon bertubuh semok, sedangkan Marissa lebih ramping. Dialek bahasa mereka berbeda. Sipon dengan logat Solo, Marissa akrab dengan dialek Surabaya yang lebih lugas. Perbedaan itu sempat membuat Marissa khawatir. Anggi sendiri meminta Marissa untuk tidak meniru Sipon.

“Saya bahkan tidak boleh bertemu dengan Mbak Sipon supaya saya tidak mengimitasi. Saya diberi kebebasan untuk menginterpretasikan perasaan lakon,” kata Marissa.

Sementara untuk pemeran Wiji Thukul, Anggi mempercayakan kepada Gunawan ‘Cindil’ Maryanto, penulis dan pelakon teater Garasi di Yogyakarta. Dari perawakan, Cindil sedikit mirip dengan Thukul. Mukanya sama-sama terkesan tengil, rambutnya sama ikalnya. Bedanya, Cindil sedikit lebih pendek dan lebih berisi dibanding Thukul yang kerempeng. Untuk lebih membuat mirip, dokter memasang gigi tonggos palsu pada Cindil. Gigi palsu itu membuat Gunawan menjadi cadel, persis seperti Thukul.

Dua peran penting dalam film itu dipilih Anggi karena alasan yang sama. Keduanya sama-sama menguasai panggung. “Marissa sudah terbiasa di depan kamera. Mas Gunawan, enggak usah ditanya, dia itu salah satu pendiri teater Garasi,” ujar Anggi.

Untuk pemeran lain, Anggi menerapkan kriteria yang sama. Edwart ‘Edo’ Boang Manalu, yang memeran Martin, juga pemain teater. Edo sudah terbiasa tampil di panggung. Begitupula Melanie Subono yang memerankan tokoh Ida, istri Martin. Melanie sudah terbiasa di atas panggung sebagai musisi.

“Edo itu memeran Martin menjiwai sekali, bahkan saat adegan ngelap motor, enggak ada falsnya,” kata Anggi.

Melipatgandakan Wiji Thukul

Setelah melalui proses panjang dan memakan waktu nyaris tiga tahun, film Istirahatlah Kata-Kata akhirnya tayang perdana di Festival Film Locarno pada Agustus 2016. Berturut-turtu film lalu diputar di beberapa festival film, di antaranya The Pacific Meridian International Film Festival, Filmfest Hamburg, Festival Des 3 Contines, dan International Film Festival Rotterdam.

Di Locarno, film ini mendapatkan sambutan cukup meriah. Anggi mengungkapkan, ada banyak penonton yang mengikuti sesi diskusi usai pemutaran film. “Kebanyakan mereka penasaran soal siapa itu Wiji Thukul, bagaimana sekarang kasusnya?” ujar Anggi.

Pada saat penayangan perdana di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, film ini mendapat perhatian dari sejumlah pejabat, aktivis, dan selebritas. Beberapa pejabat di antaranya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, dan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid. Dari kalangan artis ada Dian Sastrowardoyo, Fadli Padi, Sarah Sechan, dan Hannah Al Rashid.

Pemutaran perdana itu untuk menyambut penayangan serentak pada 19 Januari di 15 kota di 19 bioskop. Lima belas kota ialah Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Mojokerto, Makasar, Kupang, Pontianak, Medan, Purwokerto, dan Denpasar.

Konsekuensi pemutaran Istirahatlah Kata-Kata di bioskop komersial: ia harus mendapatkan banyak penonton. Jika tidak, napas tayang di bioskop takkan panjang. Karena itu Anggi mengajak warga Indonesia, khususnya anak muda, untuk berbondong-bondong ke bioskop menyaksikan film ini.

“Setelah tidak di bioskop, film ini masih akan terus berjuang untuk bertemu dengan para penonton. Karena itu ajaklah orang-orang terkasih untuk menonton, sebab sejatinya film ini bercerita tentang kehilangan orang yang kita cintai,” ujar Anggi.

Kalaupun film ini tidak bertahan lama di bioskop komersial, Anggi tetap percaya bahwa film Thukul akan memberikan sesuatu bagi demokrasi di Indonesia. Anggi yakin film ini tidak hanya menghidupkan Thukul, tapi juga melipatgandakan sosok Wiji Thukul.

“Ia akan tetap ada dan berlipat ganda,” tutur Anggi.

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Semua Ini Mulai Menyebalkan, Bukan?!

fuk

Sore itu kabut tipis mulai turun di atas punggungan sebuah bukit. Disertai embun yang tipis-tipis menampar wajah. Saya terus berjalan sambil memanggul ransel di punggung dan menenteng tas berisi tenda dome di tangan kanan. Melewati gerbang bambu yang berdesain artsy, memasuki sebuah tenda besar, lalu melintasi beberapa meja kayu yang ditata zig-zag. Ada banyak kesibukan di sana. Saya menyapa sejumlah kawan yang kebetulan berpapasan. Hai kawan, sehat?!…

Sampai akhirnya saya tiba di sebuah area terbuka dengan penampakan panggung musik di ujung sana. Kabut tipis masih memenuhi udara dan sedikit menggangggu pandangan. Hawa dingin mulai menerpa kulit. Pepohonan rindang, rerumputan hijau dan panorama pegunungan tersebar di sekelilingnya. Adem. Sejuk. Saat itu pula, sayup-sayup terdengar lagu “Hoppipolla”-nya Sigur Ros di telinga. Syahdu.

Sebentar, apakah saya sedang berada di dataran tinggi Islandia?!…

Seperti itu momen kedatangan saya pada acara Pena Hitam Art & Music Camp Fest, 24 Januari 2015 yang lalu. Terlalu sempurna, dan sulit untuk dilupakan. Saya hanya bisa berdiri diam dan menikmati lagu “Hoppipolla” hingga usai. Lalu berjalan lagi mencari lahan yang tepat untuk mendirikan tenda. Saya berencana menginap selama dua malam bersama beberapa teman baik. Kemping tipis-tipis.

Well, cerita seru serta ulasan soal kegiatan ini bisa anda telusuri lewat tulisan dan foto-foto milik teman-teman yang sudah dipublikasikan via internet. Coba googlingsaja, saya lagi malas sertakan tautannya. Ya, saya memahami penyesalan anda yang tidak bisa datang ke acara tersebut. So sorry about that.

Memang hidup itu tidak melulu indah seperti yang kita alami saat bersama-sama di Gunung Banyak, Paralayang Batu, kemarin. Pulang dari sana, kita toh kembali menjalani rutinitas yang menjemukan dan bergumul dengan kekacauan yang kerap bikin sebal. Lihat saja apa yang terjadi di sekeliling kita. We’re so fucked up, yeah?!…

Menurut Urban Dictionary, kata Fucked Up bisa diartikan sebagai “A level of status. Typically used in reference to being physically, mentally, morally/asthetically, performance-wise, or even theoretically damaged in some way. It, in and of itself has many gradient levels, such as ‘slightly fucked up’, or ‘extremely fucked up’, but all versions have to do with describing the level of damage. A wonderfully universal root word, to be sure.”

Sementara yang paling saya ingat, Fucked Up adalah band punk/hardcore asal Toronto Kanada yang cukup keren. Saya suka lagu-lagunya. Live-nya juga menarik. Beda dengan band punk/hardcore kebanyakan. Simak saja di YouTube kalau tidak percaya. Saya rekomendasikan semua albumnya, terutama David Comes To Life.

xxxxx

Oke, mari saya ceritakan sedikit soal kondisi kota yang biasanya nampak indah jika dilihat dari atas bukit tempat kami kemping kemarin. Sebuah kota yang sudah saya diami selama hampir seumur hidup saya hingga sekarang. Kota yang entah.

Belakangan, saya mulai sebal tinggal di kota Malang yang makin membingungkan. Yang paling terasa, mulai macet di sana-sini. Apalagi saat akhir pekan ketika para pelancong dari luar kota membanjiri setiap sudut jalan dan spot wisata – Halo Bandung dan Jogja, yuk toss dulu!

“Separah apa sih kemacetan di Malang kok elu sampai mengeluh kayak gitu? Itu sih santapan gua tiap hari di sini,” sindir kenalan saya yang hidup dan tinggal di Jakarta. Dia sinis menertawakan kegelisahan saya yang menurutnya itu adalah perilaku lemah dan cengeng penduduk kota kecil, yang tidak sebanding dengan kesemrawutan hidup di kota Jakarta.

Well, begini Bung, tentunya saya tidak mau menunggu kota Malang jadi ‘separah’ Jakarta, Bandung, Jogja, atau kota-kota besar lainnya untuk menyadari semua masalah itu. Minimal kudu ada yang aware kalau terdapat banyak ketidakberesan di kota ini yang perlu diatasi. Sebelum terlambat.

Di jalanan, kendaraan bermotor sudah terlalu banyak dan dikendarai dengan seenaknya sendiri. Tidak ada yang mau mengalah. Waspadalah dengan ibu-ibu yang mengendarai motor matic, begitu tweet kocak yang saya baca di Twitter kemarin. Zebra cross selalu ‘dimakan’ oleh roda-roda kendaraan, lampu masih kuning sudah pencet klakson berkali-kali. Hari ini, jangankan kita yang manusia, kucing saja sudah kesulitan untuk menyeberang jalan di kota ini.

Urusan rute lalu lintas saja bisa menjadi problem yang rumit dan hampir tak terpecahkan. Seperti rute di Lingkar UB; awalnya dua arah, lalu jadi satu arah, trus balik lagi jadi dua arah. Kemudian ditambah lagi polemik soal bis sekolah (Bus Halokes, kalau kata Pemkot). Sebenarnya itu ide yang bagus, jika tidak malah bikin siswa terlambat masuk kelas atau sudah dibicarakan baik-baik dengan (asosiasi) sopir angkot.

Di kota ini, jalur pedestrian juga semakin minim. Trotoar sudah banyak dikikis demi memberi ruang yang lebih lebar bagi para pengendara bermotor. Jadi siap-siap saja disenggol kendaraan saat berjalan kaki di tepi jalan atau trotoar. Atau mungkin, justru kita sendiri yang sering menyerobot hak para pejalan kaki itu?!

Belum lagi tata kota yang makin simpang-siur. Zonasinya tidak jelas. Ruko dan papan reklame di mana-mana. Pertumbuhan mini market sudah melampaui nalar belanja ibu-ibu di kompleks perumahan. Bangunan-bangunan tua yang bersejarah atau so-called-heritage itu juga kadang dirobohkan, beralih fungsi jadi bangunan modern yang tidak jelas. Perda soal tata ruang, bangunan tua atau cagar budaya seperti semacam mitos di sini.

Oke, mulai ada beberapa taman dan ruang publik di tengah kota. Itu bagus asal dikelola dengan baik dan tepat sasaran. Tapi belakangan saya baca di surat kabar kalau taman-taman itu juga kurang terawat dan fasilitasnya mulai rusak di sana-sini. Eh, ini kota yang berjuluk “Kota Bunga” tapi justru membeli bunga plastik seharga miliaran rupiah untuk tamannya, dipajang di depan gedung balai kota lagi.Huft. Cerdas!

Saya sempat baca komentar dari seorang pakar planologi yang bilang bahwa kota Malang ini semakin tidak jelas karakter dan identitasnya. Benar juga sih. Lha wongbranding-nya juga gak jelas. Jauh sekali dari angan-angan sebagai smart city,apalagi creative city. Sementara soal city branding hanya berakhir pada desain,hashtag, dan trending topic sesaat. Menuju kota yang bermartabat? Mmmh, entah mau dibawa ke mana kota ini sebenarnya…

Jumlah pelajar dan mahasiswa juga makin melimpah, memadati setiap sudut wilayah pendidikan di kota ini. Kampus-kampus hanya menarik mahasiswa sebanyak-banyaknya dengan biaya tinggi. Ada perguruan tinggi di mana rektornya bahkan tidak berani membela kebebasan akademik kampus dan independensi mahasiswanya. Mereka justru tunduk pada kekuatan yang entah, dan ikut serta mematikan daya nalar kritis anak didiknya. Salah satunya adalah “PT Brawijaya, Tbk”, istilah yang dipopulerkan oleh kawan saya yang suka ngopi dan menyanyi lagu-lagu balada, Iksan Skuter.

Di jalanan, mulai muncul ormas-ormas sayap kanan yang tidak jelas. Entah mereka dari mana datangnya. Mereka tiba-tiba saja suka ‘bermain tuhan’ dengan cara sweeping atau menolak apapun yang tidak enak di mata dan batin mereka. Akhir tahun lalu, sejumlah ormas dibantu dengan kekuatan ‘militer’ sukses membubarkan pemutaran film Senyap di beberapa titik.

Lalu juga ada acara diskusi film Samin vs Semen dan Alkinemokiye yang dibubarkan oleh Satpam atas nama petinggi kampus dengan argumen khas Orba Baru. Kampus itu sudah seperti Markas Kodam. Alasannya, muatan film tersebut dinilai tidak sesuai dengan ideologi kebangsaan dan ketuhanan? Paranoia yang tidak logis dan mengada-ada. My ass.

Disadari atau tidak, begitulah kurang lebih gambaran umum kota Malang, belakangan ini. Banyak yang gelisah dan mulai menggerutu. Keluhan itu mulai terdengar, meski pelan, di berbagai sudut-sudut kedai kopi, di ruang makan keluarga, di kantin kampus, hingga di kolom-kolom sosial media.

Ah, atau saya mungkin yang terlalu banyak mengeluh. Hanya bisa menggerutu tanpa kasih solusi. Ada baiknya saya segera menyeduh segelas kopi atau menambah sebotol bir lagi, sembari menaruh tiga lagu yang tepat di playlist; “Malang Nominor Sursum Moveor” (No Man’s Land), “Malang Yang Malang” (Iksan Skuter), atau “Puing” (Neurosesick). Tambahkan lagu-lagu berirama thrash metal agar semua ini semakin ‘fucked up’. Seperti misalnya, mmmh, Municipal Waste?!

xxxxx

Saya teringat sesi diskusi dan open mic yang terjadi di tenda besar dalam kondisi hujan deras pada hari kedua Pena Hitam Art & Music Camp Fest, 25 Januari 2015 lalu. Anak-anak muda dari berbagai daerah itu bergantian menyampaikan opini, kesan dan harapannya. Mereka berbicara banyak soal cara berjejaring, berkarya, bergerak, serta pengalaman mereka mengorganisir komunitasnya. Mereka adalah anak-anak muda yang kreatif, sedikit bandel dan susah diatur, tapi tulus berkarya, jarang mengeluh, serta tidak pernah mengemis pada penguasa.

Kalau sudah begini, siapa yang masih butuh negara atau pemerintah?!

Yeah, we’re gonna fucked ’em up. 

 

*Esai ini rencananya untuk sebuah kolom di Penahitam Fanzine edisi “Fucked Up” (2015), namun gagal muat karena tidak masuk kriteria redaksi. Saya bisa memahami alasannya dan memang kudu belajar (menulis) lebih banyak lagi. Oya, sketsa dasar tulisan ini juga berasal dari salah satu esai yang pernah ada di blog personal penulis.

 

Dikutip dari : sesikopipait.wordpress.com

Leave a comment

Filed under Uncategorized