Monthly Archives: July 2017

Sebab Ini Bukan Lagi Soal Rivalitas Yang Hanya Berlangsung Selama 90 Menit

prsija

Pada tanggal 22 Juli kemarin publik dari kedua kota yang terpisah oleh ruas Tol Cipularang mengalami lagi sebuah ajang adu gengsi lewat kancah persepakbolaan tanah air. Kedua kesebelasan dari kedua kota tersebut beradu peluh didalam lapangan guna memperbaiki posisi aman didalam klasemen Liga besutan kerjasama antar korporat ojek online dan aplikasi gawai penyedia piknik.

Pertandingan berlangsung sangat panas, tempo permainan dipaksa keras, pemain antar dua kesebelasan pun saling beradu ego antar satu sama lain. Ya wajar sih namanya juga Derby, skill mengecoh bola urusan belakang, yang penting lawan jadi tumbang (entah itu lawan tim yang bertanding  maupun para pendukungnya)

Sebetulnya menurut dari sudut pandang saya api rivalitas dari kedua kubu yang dipisah oleh adat istiadat berbeda ini sudah mencapai titik paling memuakkan. Bagaimana tidak, disetiap pertandingan Persija dan Persib melawan tim manapun kejadian pengroyokan oleh (mengambil istilah pak polisi) Oknum pasti selalu terdengar di semua kanal berita maupun social media, mereka yang hidup diantara kedua kota Jakarta dan Bandung maupun dikota-kota lain pun kena imbasnya, sialnya juga hampir rata-rata korban pengroyokan hanya salah sasaran Oknum yang terlanjur kalap. Tentunya banyak pihak yang dirugikan setiap kejadian tersebut terjadi, gaung gegap gempita perdamaian pun terdengar hanya seperti omong kosong belaka.

Tapi saya angkat topi tinggi-tinggi untuk para petinggi dari kedua pendukung kesebelasan tersebut..

Paska tiga hari sebelum pertandingan, ketua umum The Jak Mania Ir. Ferry Indrasjarief atau akrab disebut Bung Ferry menyambangi rumah pentolan Viking Bandung yaitu Heru Joko dengan niatan bersilahturahmi sekaligus nyekar ke makam salah satu korban kekerasan saat Derby Elclasico alm. Rangga dan juga dirigen bobotoh yg sangat disegani alm. Ayi Beutik. Menurut saya pertemuan ini adalah salah satu psy-war paling positif, kedua orang yang sangat dihormati dimasing-masing kubunya tersebut meninggalkan semua jubah ke egoan untuk kemudian bersatu dalam alam perdamaian tanpa sekalipun timbul hasrat untuk saling membunuh, yang kalo menurut bahasa John Lennon “I don’t believe in killing whatever the reason!”
Sebab rasa persatuan didalam balutan perdamaian adalah konsekuensi tanpa kompromi menurut mereka.

Tapi sejujurnya saya sangat menyayangkan sekali kejadian yang terjadi sehabis pertandingan itu, sehabis wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan tensi tinggi layaknya sehabis memakan daging kambing 2 Kilogram, salah satu penyerang Persib instan langsung memukul gelandang persija Sutanto Tan. Karena dipicu oleh tekel keras yang dilakukan Sutanto, semua official tim pun berjibaku ke dalam lapangan untuk saling baku hantam maupun melerai. Buntut dari kekisruhan didalam lapangan tersebut, para Bobotoh terpancing emosi, timpukan botol, flare, serta jutaan kata maki meluncur deras menuju kubu Persija Jakarta. Sungguh sebuah kejadian yang sangat memalukan, dimana seharusnya momen derby sarat adu gengsi ini menjadi wadah bagi publik kedua kota untuk bersatu, tapi malah seperti adegan Crow Zero versi suporter.

Nasi sudah menjadi bubur, dan tukang buburnya pun sudah menjadi haji. Cerita lama soal permusuhan ini mungkin akan bertahan hingga puluhan tahun mendatang, hingga papan nisan menjadi saksi bagaimana tindakan ala suku barbar tak lagi kompeten dalam menunjukan eksistensi diri.

Salam Jempol Telunjuk.

 

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Tingkat Akhir yang Kebablasan

Mahasiswa tingkat akhir? Hmm.. bukankah sebuah kata yang cukup “menyeramkan” bagi sebagian dari kalian yg sedang genting2nya mencari jati diri di umur 20-sekian?
Yak selamat, kamu never walk alone…

Bagaimana bisa begitu menyedihkannya coba, disaat kebutuhan pokok melambung tinggi, harga pasar tidak stabil yang selalu bikin rakyat miskin mati tercekik secara perlahan dibanding kita para mahasiswa akhir yang sudah pasti terpapar dengan kondisi ekonomi tersebut pasti terkadang ada pikiran yang membatin

“Duh, si anu sepatunya baru…”

“Hadeh ini tempat keren, liburan yuk!”

Dan segala macam keinginan lain-yang sialnya tak terlalu dibutuhkan. Nah, jika sudah begini maka hasrat endofermin {eh, bener gak sih?} yang tertimbun di lapisan otak paling belakang akan cepat berkerja untuk memaksimalkan hasrat kebendaan yang subhanallah duniawi sekali. Padahal dipikir-pikir lagi justru keinginan tersebut bikin kita jadi lebih semangat lagi untuk bekerja, serta memaksimalkan soft maupun hard skill {jika punya}.

Lalu hubungannya apa dengan Mahasiswa Tingkat Akhir?

Ingat wahai mahasiswa yang sedang diujung tanduk D.O…
Masygul peradaban maju ada ditangan kalian, kalianlah sang juru martyr, kalian penguasa matahari!
Mungkin aja kan jika kita lulus tepat waktu tidak ada penemuan baru yang tercipta? Dan ini mengacu kepada bung Bill Gates sang ekspatriat itu, beliau mungkin bukan yang terpandai diantara teman2nya, tapi atas izin Gusti Allah serta niat yang sudah kepalang gigih, beliau membuktikannya. Dan terbukti sekarang sebagian dari kita menjadi penjilat bagi produk2 beliau.

Tapi sebenernya peran universitas penting juga sih kalo dipikir-pikir lagi, bagaimana mungkin logikanya, nyusun skripsi yang maha dahsyat merepotkan itu harus berakhir menjadi barang kiloan sampah? Ya mungkin niatnya bagus, Recycle Use biar go green gitu lho.. etapi ya jangan skripsi juga kalik~ mungkin aja ya kan suatu hari nanti timbul dendam yang amat kesumat bagi Universitas? Disini saya dengan sangat sengaja tidak menulis nama “Universitas” yang dimaksud. Ditambah lagi mungkin Departemen Pendidikan kita belom terlalu tegas memberikan peraturan yang sifatnya untuk kebaikan mahasiswa itu sendiri, seperti contohnya; menghilangkan sistim kejar sks sesuai ipk, karena hal ini sangat menyusahkan mahasiswa waktu mengejar skripsi. Jadi solusi alternatif yang bisa saya berikan mungkin menerapkan peraturan tetap paket sks tidak mempengaruhi ipk, jadi seperti sekolah dulu. Niscaya jika itu diterapkan para koboy-koboy kampus yang rupa nya masya allah oldskool tersebut dapat menghirup udara bebas akademik, untuk sementara sebelum dilepas di belantara rimba kehidupan. Segala sektor di negri kita dipastikan bakal maju, karena fresh graduate nya {diharapkan} menerapkan ilmu yang didapat semasa kuliahnya kepada negara dan bangsa ini tanpa mau disebut sebagai nasionalis.

Yak, diantara segelintir pelik kehidupan yang ada, kita sebagai mahasiswa tua ini harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan ini. Ingat, skripsi tidak akan selesai dengan sendirinya. Jumlah SKS tak akan bertambah sesuai harapan jika kita tidak menjalankan studi jam kuliah yang memuakkan.

Salam Kecebong!

Leave a comment

Filed under Uncategorized, Unmind, Unwriting

Cara Cerdas Melawan Permusuhan

Tulisan ini dikutip dari Mojok

 

Ada beragam cara membalas permusuhan, pelecehan, dan bullying.

Cara pertama dilakukan dengan sepadan: balas dengan telak. Cara ini berpotensi melahirkan dendam kesumat yang diwariskan turun-temurun. Secara psikologis, cara pertama ini juga kurang bagus karena bakal memunculkan paranoid, fobia, hingga trauma.

Cara kedua, balas dengan cinta kasih. Ini cara elegan nan cakep yang dilakukan oleh mereka yang punya mental baja dan ketahanan berproses. Di Liberia dan Sudan Selatan, ibu-ibu yang capek dengan konflik beraroma sektarian melakukan perlawanan dengan cara mogok seks. Mereka nggak bakal mau disetubuhi, kecuali papa-papa itu mau menimbun dulu bedilnya di luar kampung terlebih dulu. Jelas, bapak-bapak memilih kelonan dengan istrinya daripada mencumbu senapan. Aksi ini turut andil menghentikan perang saudara di negara kawasan Afrika tersebut.

Aksi lebih elegan juga dilakukan Nelson Mandela. Saat dilantik sebagai presiden, ia mengundang bekas sipir penjara yang dulu sering melecehkannya di bangku undangan paling depan.

Stok kisah semacam ini banyak kok. Sekali lagi, hanya mereka yang punya ketangguhan mental yang oke yang bisa melakukannya.

Cara ketiga: balas dengan kocak. Apabila balasan dengan senyuman belum cukup, keluarkan pertahanan humor. Ini cara yang sungguh-sungguh membangkitkan tawa sekaligus juga membuat jengkel pihak lawan. Soal ini Haji Agoes Salim, negarawan sepuh pendiri republik ini banyak melakukannya saat berkonfrontasi dengan kelompok komunis maupun dengan politisi negara asing. Spontanitas dan kecerdasannya bermain olah kata membuat pengejek mati kutu dan wajah memerah padam. Google menyimpan banyak kisah tentang kecerdasan Old Great Man ini. Cari saja sendiri.

Di lapangan hijau, Dani Alves melakukannya dengan elegan. Di saat ia bersiap-siap mengambil tendangan sudut, di belakangnya riuh suara pendukung Villareal menirukan suara monyet. Apakah bek Barcelona itu marah karena tindakan rasis suporter lawan yang juga melemparinya dengan pisang? Jelas, ia tersinggung. Tapi ia melakukan tindakan keren: ia ambil pisang yang nyaris mengenai dirinya, mengupasnya lalu menyantapnya. Kemudian ia melaksanakan tugas sebagai penendang sudut. Ini cara melawan rasisme lapangan hijau ala Alves di penghujung April 2014 silam, yang membuat petinggi FIFA angkat topi buat dirinya.

Sebelum Alves melakukan aksi cerdas ini, Samuel Eto’o sudah mengawalinya. Saat berkostum Barcelona dan bertandang di markas lawan, Eto’o adalah target utama rasisme. Ketika ia menggiring bola, teriakan ala monyet bersahutan di stadion. Apakah ia langsung ngambek lalu keluar lapangan seperti yang dilakukan Kevin Prince Boateng di AC Milan? Tidak. Eto’o malah menceploskan gol dan merayakannya dengan menirukan gerakan monyet di hadapan pengejeknya! Ahaaa, aksi tarian monyet ala Eto’o membungkam para suporter rasis.

Bagi saya, hanya mereka yang punya mental tangguh dan cita rasa humor berkelas yang punya gaya unik membalas cemoohan. Tahu bagaimana anak-anak Jokowi bermain olah kata saat di-bully di medsos? Kasihan juga nih orang, mereka di-bullyhanya karena mereka anak Jokowi.

Tapi, saya salut juga dengan cara mereka merespons para pembencinya. Saya ngakak membaca tindakan Gibran dan Kaesang dalam menghadapi kebencian yang dipadupadankan dengan cemoohan itu bukan hanya dengan santai, tapi dengan cerdas dan jenaka.

Papa Doyan Lontong adalah istilah dari Gibran untuk “membalas” tindakan dosen pengecut yang membuat tagar Papa Doyan Lonte. Ada juga istilah “kecebong”, “Oey Hong Liong”, dan “Herbertus”. Di foto terbaru, Kaesang malah pake topi bertuliskan “Kolektor Kecebong”. Pembela Jokowi dan Prabowo pasti sudah paham dengan istilah ini. Tapi, oleh anak-anak Jokowi, ketiga istilah ini malah digunakan secara kocak. Hahaha ….

Ada beragam cara menyikapi segenap kebencian dan serangan verbal. Bisa dengan serius bertele-tele, diiringi seringai dan emosi yang memuncak, atau dengan kelembutan kasih sayang. Bisa juga dengan cara santai, tak terduga, kocak, dan membuat lawan merasa gemas. Cara terakhir ini yang bagi saya unik.

Kini, Kaesang yang lucu itu katanya dilaporkan kepada polisi soal penodaan agama gara-gara bilang “ndeso” saat melihat anak-anak kecil yang dikomando untuk bilang “Bunuh Ahok … bunuh Ahok”. Entah yang dinodai apanya. Sekalian dibikin film sajalah. Bintangnya siapa lagi kalau nggak Reza Rahadian dan Chuck Norris, sama adik saya Chelsea Islan atau sepupu saya si Natasha Wilona itu. Judulnya, “Kaesang yang Ternodai Laporan Polisi”.

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting