Category Archives: Unwriting

Sebab Ini Bukan Lagi Soal Rivalitas Yang Hanya Berlangsung Selama 90 Menit

prsija

Pada tanggal 22 Juli kemarin publik dari kedua kota yang terpisah oleh ruas Tol Cipularang mengalami lagi sebuah ajang adu gengsi lewat kancah persepakbolaan tanah air. Kedua kesebelasan dari kedua kota tersebut beradu peluh didalam lapangan guna memperbaiki posisi aman didalam klasemen Liga besutan kerjasama antar korporat ojek online dan aplikasi gawai penyedia piknik.

Pertandingan berlangsung sangat panas, tempo permainan dipaksa keras, pemain antar dua kesebelasan pun saling beradu ego antar satu sama lain. Ya wajar sih namanya juga Derby, skill mengecoh bola urusan belakang, yang penting lawan jadi tumbang (entah itu lawan tim yang bertanding  maupun para pendukungnya)

Sebetulnya menurut dari sudut pandang saya api rivalitas dari kedua kubu yang dipisah oleh adat istiadat berbeda ini sudah mencapai titik paling memuakkan. Bagaimana tidak, disetiap pertandingan Persija dan Persib melawan tim manapun kejadian pengroyokan oleh (mengambil istilah pak polisi) Oknum pasti selalu terdengar di semua kanal berita maupun social media, mereka yang hidup diantara kedua kota Jakarta dan Bandung maupun dikota-kota lain pun kena imbasnya, sialnya juga hampir rata-rata korban pengroyokan hanya salah sasaran Oknum yang terlanjur kalap. Tentunya banyak pihak yang dirugikan setiap kejadian tersebut terjadi, gaung gegap gempita perdamaian pun terdengar hanya seperti omong kosong belaka.

Tapi saya angkat topi tinggi-tinggi untuk para petinggi dari kedua pendukung kesebelasan tersebut..

Paska tiga hari sebelum pertandingan, ketua umum The Jak Mania Ir. Ferry Indrasjarief atau akrab disebut Bung Ferry menyambangi rumah pentolan Viking Bandung yaitu Heru Joko dengan niatan bersilahturahmi sekaligus nyekar ke makam salah satu korban kekerasan saat Derby Elclasico alm. Rangga dan juga dirigen bobotoh yg sangat disegani alm. Ayi Beutik. Menurut saya pertemuan ini adalah salah satu psy-war paling positif, kedua orang yang sangat dihormati dimasing-masing kubunya tersebut meninggalkan semua jubah ke egoan untuk kemudian bersatu dalam alam perdamaian tanpa sekalipun timbul hasrat untuk saling membunuh, yang kalo menurut bahasa John Lennon “I don’t believe in killing whatever the reason!”
Sebab rasa persatuan didalam balutan perdamaian adalah konsekuensi tanpa kompromi menurut mereka.

Tapi sejujurnya saya sangat menyayangkan sekali kejadian yang terjadi sehabis pertandingan itu, sehabis wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan tensi tinggi layaknya sehabis memakan daging kambing 2 Kilogram, salah satu penyerang Persib instan langsung memukul gelandang persija Sutanto Tan. Karena dipicu oleh tekel keras yang dilakukan Sutanto, semua official tim pun berjibaku ke dalam lapangan untuk saling baku hantam maupun melerai. Buntut dari kekisruhan didalam lapangan tersebut, para Bobotoh terpancing emosi, timpukan botol, flare, serta jutaan kata maki meluncur deras menuju kubu Persija Jakarta. Sungguh sebuah kejadian yang sangat memalukan, dimana seharusnya momen derby sarat adu gengsi ini menjadi wadah bagi publik kedua kota untuk bersatu, tapi malah seperti adegan Crow Zero versi suporter.

Nasi sudah menjadi bubur, dan tukang buburnya pun sudah menjadi haji. Cerita lama soal permusuhan ini mungkin akan bertahan hingga puluhan tahun mendatang, hingga papan nisan menjadi saksi bagaimana tindakan ala suku barbar tak lagi kompeten dalam menunjukan eksistensi diri.

Salam Jempol Telunjuk.

 

 

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Tingkat Akhir yang Kebablasan

Mahasiswa tingkat akhir? Hmm.. bukankah sebuah kata yang cukup “menyeramkan” bagi sebagian dari kalian yg sedang genting2nya mencari jati diri di umur 20-sekian?
Yak selamat, kamu never walk alone…

Bagaimana bisa begitu menyedihkannya coba, disaat kebutuhan pokok melambung tinggi, harga pasar tidak stabil yang selalu bikin rakyat miskin mati tercekik secara perlahan dibanding kita para mahasiswa akhir yang sudah pasti terpapar dengan kondisi ekonomi tersebut pasti terkadang ada pikiran yang membatin

“Duh, si anu sepatunya baru…”

“Hadeh ini tempat keren, liburan yuk!”

Dan segala macam keinginan lain-yang sialnya tak terlalu dibutuhkan. Nah, jika sudah begini maka hasrat endofermin {eh, bener gak sih?} yang tertimbun di lapisan otak paling belakang akan cepat berkerja untuk memaksimalkan hasrat kebendaan yang subhanallah duniawi sekali. Padahal dipikir-pikir lagi justru keinginan tersebut bikin kita jadi lebih semangat lagi untuk bekerja, serta memaksimalkan soft maupun hard skill {jika punya}.

Lalu hubungannya apa dengan Mahasiswa Tingkat Akhir?

Ingat wahai mahasiswa yang sedang diujung tanduk D.O…
Masygul peradaban maju ada ditangan kalian, kalianlah sang juru martyr, kalian penguasa matahari!
Mungkin aja kan jika kita lulus tepat waktu tidak ada penemuan baru yang tercipta? Dan ini mengacu kepada bung Bill Gates sang ekspatriat itu, beliau mungkin bukan yang terpandai diantara teman2nya, tapi atas izin Gusti Allah serta niat yang sudah kepalang gigih, beliau membuktikannya. Dan terbukti sekarang sebagian dari kita menjadi penjilat bagi produk2 beliau.

Tapi sebenernya peran universitas penting juga sih kalo dipikir-pikir lagi, bagaimana mungkin logikanya, nyusun skripsi yang maha dahsyat merepotkan itu harus berakhir menjadi barang kiloan sampah? Ya mungkin niatnya bagus, Recycle Use biar go green gitu lho.. etapi ya jangan skripsi juga kalik~ mungkin aja ya kan suatu hari nanti timbul dendam yang amat kesumat bagi Universitas? Disini saya dengan sangat sengaja tidak menulis nama “Universitas” yang dimaksud. Ditambah lagi mungkin Departemen Pendidikan kita belom terlalu tegas memberikan peraturan yang sifatnya untuk kebaikan mahasiswa itu sendiri, seperti contohnya; menghilangkan sistim kejar sks sesuai ipk, karena hal ini sangat menyusahkan mahasiswa waktu mengejar skripsi. Jadi solusi alternatif yang bisa saya berikan mungkin menerapkan peraturan tetap paket sks tidak mempengaruhi ipk, jadi seperti sekolah dulu. Niscaya jika itu diterapkan para koboy-koboy kampus yang rupa nya masya allah oldskool tersebut dapat menghirup udara bebas akademik, untuk sementara sebelum dilepas di belantara rimba kehidupan. Segala sektor di negri kita dipastikan bakal maju, karena fresh graduate nya {diharapkan} menerapkan ilmu yang didapat semasa kuliahnya kepada negara dan bangsa ini tanpa mau disebut sebagai nasionalis.

Yak, diantara segelintir pelik kehidupan yang ada, kita sebagai mahasiswa tua ini harus tetap semangat dalam menjalani kehidupan ini. Ingat, skripsi tidak akan selesai dengan sendirinya. Jumlah SKS tak akan bertambah sesuai harapan jika kita tidak menjalankan studi jam kuliah yang memuakkan.

Salam Kecebong!

Leave a comment

Filed under Uncategorized, Unmind, Unwriting

Cara Cerdas Melawan Permusuhan

Tulisan ini dikutip dari Mojok

 

Ada beragam cara membalas permusuhan, pelecehan, dan bullying.

Cara pertama dilakukan dengan sepadan: balas dengan telak. Cara ini berpotensi melahirkan dendam kesumat yang diwariskan turun-temurun. Secara psikologis, cara pertama ini juga kurang bagus karena bakal memunculkan paranoid, fobia, hingga trauma.

Cara kedua, balas dengan cinta kasih. Ini cara elegan nan cakep yang dilakukan oleh mereka yang punya mental baja dan ketahanan berproses. Di Liberia dan Sudan Selatan, ibu-ibu yang capek dengan konflik beraroma sektarian melakukan perlawanan dengan cara mogok seks. Mereka nggak bakal mau disetubuhi, kecuali papa-papa itu mau menimbun dulu bedilnya di luar kampung terlebih dulu. Jelas, bapak-bapak memilih kelonan dengan istrinya daripada mencumbu senapan. Aksi ini turut andil menghentikan perang saudara di negara kawasan Afrika tersebut.

Aksi lebih elegan juga dilakukan Nelson Mandela. Saat dilantik sebagai presiden, ia mengundang bekas sipir penjara yang dulu sering melecehkannya di bangku undangan paling depan.

Stok kisah semacam ini banyak kok. Sekali lagi, hanya mereka yang punya ketangguhan mental yang oke yang bisa melakukannya.

Cara ketiga: balas dengan kocak. Apabila balasan dengan senyuman belum cukup, keluarkan pertahanan humor. Ini cara yang sungguh-sungguh membangkitkan tawa sekaligus juga membuat jengkel pihak lawan. Soal ini Haji Agoes Salim, negarawan sepuh pendiri republik ini banyak melakukannya saat berkonfrontasi dengan kelompok komunis maupun dengan politisi negara asing. Spontanitas dan kecerdasannya bermain olah kata membuat pengejek mati kutu dan wajah memerah padam. Google menyimpan banyak kisah tentang kecerdasan Old Great Man ini. Cari saja sendiri.

Di lapangan hijau, Dani Alves melakukannya dengan elegan. Di saat ia bersiap-siap mengambil tendangan sudut, di belakangnya riuh suara pendukung Villareal menirukan suara monyet. Apakah bek Barcelona itu marah karena tindakan rasis suporter lawan yang juga melemparinya dengan pisang? Jelas, ia tersinggung. Tapi ia melakukan tindakan keren: ia ambil pisang yang nyaris mengenai dirinya, mengupasnya lalu menyantapnya. Kemudian ia melaksanakan tugas sebagai penendang sudut. Ini cara melawan rasisme lapangan hijau ala Alves di penghujung April 2014 silam, yang membuat petinggi FIFA angkat topi buat dirinya.

Sebelum Alves melakukan aksi cerdas ini, Samuel Eto’o sudah mengawalinya. Saat berkostum Barcelona dan bertandang di markas lawan, Eto’o adalah target utama rasisme. Ketika ia menggiring bola, teriakan ala monyet bersahutan di stadion. Apakah ia langsung ngambek lalu keluar lapangan seperti yang dilakukan Kevin Prince Boateng di AC Milan? Tidak. Eto’o malah menceploskan gol dan merayakannya dengan menirukan gerakan monyet di hadapan pengejeknya! Ahaaa, aksi tarian monyet ala Eto’o membungkam para suporter rasis.

Bagi saya, hanya mereka yang punya mental tangguh dan cita rasa humor berkelas yang punya gaya unik membalas cemoohan. Tahu bagaimana anak-anak Jokowi bermain olah kata saat di-bully di medsos? Kasihan juga nih orang, mereka di-bullyhanya karena mereka anak Jokowi.

Tapi, saya salut juga dengan cara mereka merespons para pembencinya. Saya ngakak membaca tindakan Gibran dan Kaesang dalam menghadapi kebencian yang dipadupadankan dengan cemoohan itu bukan hanya dengan santai, tapi dengan cerdas dan jenaka.

Papa Doyan Lontong adalah istilah dari Gibran untuk “membalas” tindakan dosen pengecut yang membuat tagar Papa Doyan Lonte. Ada juga istilah “kecebong”, “Oey Hong Liong”, dan “Herbertus”. Di foto terbaru, Kaesang malah pake topi bertuliskan “Kolektor Kecebong”. Pembela Jokowi dan Prabowo pasti sudah paham dengan istilah ini. Tapi, oleh anak-anak Jokowi, ketiga istilah ini malah digunakan secara kocak. Hahaha ….

Ada beragam cara menyikapi segenap kebencian dan serangan verbal. Bisa dengan serius bertele-tele, diiringi seringai dan emosi yang memuncak, atau dengan kelembutan kasih sayang. Bisa juga dengan cara santai, tak terduga, kocak, dan membuat lawan merasa gemas. Cara terakhir ini yang bagi saya unik.

Kini, Kaesang yang lucu itu katanya dilaporkan kepada polisi soal penodaan agama gara-gara bilang “ndeso” saat melihat anak-anak kecil yang dikomando untuk bilang “Bunuh Ahok … bunuh Ahok”. Entah yang dinodai apanya. Sekalian dibikin film sajalah. Bintangnya siapa lagi kalau nggak Reza Rahadian dan Chuck Norris, sama adik saya Chelsea Islan atau sepupu saya si Natasha Wilona itu. Judulnya, “Kaesang yang Ternodai Laporan Polisi”.

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Menghidupkan Thukul Melalui Film

tirtoid-antarafoto-istirahatlah-kata-kata-180117-zk-3_ratio-16x9
Film tentang seorang penyair yang dihilangkan oleh rezim Soeharto, mengambil masa saat bersembunyi dari kejaran tentara dan intelijen Orde Baru. Personal sekaligus politis: menuntut negara untuk segera menuntaskan kasus kejahatan atas kemanusiaan.

“Film ini adalah pengeling-eling. Pengeling-eling bukan sekadar pengingat Wiji Thukul,” kata Yosep Anggi Noen, sutradara Istirahatlah Kata-Kata.

Pengeling-eling dalam bahasa Indonesia berarti pengingat, peringatan, atau kenangan. Namun bagi Anggi, yang lahir dan besar di Yogyakarta dan ketika peristiwa penculikan orang tahun 1997-98 berusia 14 tahun, kata pengeling-eling lebih dari sekadar makna harfiahnya.

“Pokoknya ini pengeling-eling, jangan diterjemahkan, ini maknanya lebih tinggi dari pengingat,” celetuk Anggi.

Sulit bagi Anggi untuk memaknai film Istirahatlah Kata-Kata itu. Kesulitan itu lantaran sosok Wiji Thukul, lakon utama film tersebut, tidak pernah dikenalnya secara langsung. Seperti kebanyakan anak Indonesia generasi tahun 1980-an dan sesudahnya, Anggi mengenal Thukul lewat puisi-puisinya, dan segelintir orang lagi yang tahu Thukul hanya lewat cerita mulut ke mulut para sahabatnya.

Thukul adalah seniman sekaligus aktivis. Ia bagian dari mayoritas masyarakat Indonesia dari pulau Jawa yang miskin, tinggal di pinggiran Kota Solo, yang punya cita-cita keadilan bagi seluruh rakyat di negara kepulauan ini. Ia terlibat dalam satu gelombang besar dari semua kalangan—mahasiswa, pemuda, intelektual, seniman, kalangan terdidik, orang-orang terkenal dan orang-orang tanpa nama—dalam organisasi maupun bukan, yang melihat Indonesia saat itu, sebuah negara yang digerakkan oleh rezim otoriter, telah seenaknya diatur untuk menopang kekayaan pribadi dan jaringan kekuasaan Soeharto sejak 1967.

Kekuasaan itu bernama Orde Baru dan ia ditopang oleh istana, tangsi militer, dan partai tunggal penguasa. Kekuasaan ini lahir lewat pembantaian massal pada 1965-1967, dan selama 30 tahun berikutnya menciptakan pola pembangunan dengan membungkam suara kritis lewat pemenjaraan bahkan pembunuhan. Orang seperti Thukul melihat simbol kekuasaan saat itu, Soeharto, harus ditumbangkan.

Momennya krusial. Pada 1997 krisis finansial menghajar Asia. Indonesia-nya Orde Baru, yang bergantung pada modal asing, sempoyongan menghadapi krisis ekonomi tersebut. Nilai tukar rupiah ke dolar empat kali lebih rendah dari tahun sebelumnya. Inflasi meroket, harga pangan melonjak, dan nilai tukar rupiah terjerembab. Indonesia menghadapi dua agenda politik besar: Pemilu 1997 dan Sidang Umum pada Maret 1998.

Kelompok pro-demokrasi, yang tumbuh pada 1980-an, melihat perlu ada kebebasan politik yang lebih besar.

Thukul dihilangkan pada kurun gelombang protes anti-Orde Baru pada akhir 1990-an itu. Ketika Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, ia tidak terlihat dalam ratusan ribu mahasiswa dan rakyat biasa yang merayakan keruntuhan simbol rezim otoriter itu dengan gegap-gempita. Namanya muncul dalam pemberitaan saat teman-temannya, dan organisasi hak asasi manusia, mulai menyoroti kasus penghilangan secara paksa pada 1997-1998.

Sampai sekarang, bersama 12 aktivis, pemuda, dan mahasiswa lainnya, Thukul tak pernah kembali. Pria berperawakan ceking dengan gigi tonggos dan rambut ikal itu tak pernah dikembalikan oleh negara—institusi yang paling bertanggung jawab untuk menyelidiki kasus ini kepada publik dan terutama bagi keluarga korban.

Saat sebagian besar orang Indonesia membicarakannya, Wiji Thukul adalah nama, tetapi sosoknya sendiri tidak ada.

Bagi Yosep Anggi Noen, apa yang sulit itu—dalam menghadirkan Thukul lewat layar lebar—adalah masa yang hilang justru ketika seharusnya Thukul bisa menikmati kebebasan yang ia cita-citakan. Karenanya, di tengah kampanye agar negara secepatnya melakukan proses pencarian kasus penghilangan orang secara paksa, di saat orang membicarakan puisi-puisi Thukul, Anggi mengambil pilihan yang lebih personal. Ia melihat, bagaimanapun, Thukul ialah manusia biasa.

“Wiji mengalami ketakutan, kesepian, dia punya cinta untuk anak dan istrinya,” ujar Anggi.

Justru karena Thukul adalah manusia biasa, film berdurasi 97 menit yang menceritakan pelarian Thukul di Pontianak itu lahir. Ia juga menjadi sebuah tuntutan agar kasus-kasus kejahatan terhadap kemanusiaan di masa lalu segera dituntaskan.

Riset di Balik Film

Gagasan memfilmkan Wiji Thukul semula datang dari Yulia Evina Bhara, Tunggal Pawestri, dan Okky Madasari.

“Pada 2014, Wiji mendapat penghargaan dari ASEAN Literasi Award. Dari situ kita berpikir, kenapa kita enggak bikin film Wiji? Okky yang punya ide. Saya dan Tunggal langsung setuju,” ujar Yulia Evina Bhara, produser Istirahatlah Kata-Kata usai penayangan perdana di Epicentrum, 16 Januari lalu.

Sebelum ide itu diwujudkan, mereka bertiga mengajak sejumlah aktivis untuk mengapresiasi karya-karya Thukul. Pada 2015, bersama adik Thukul, Wahyu Susilo, mereka terlibat dalam gerakan “Barisan Pengingat”. Ide gerakan ini mengampanyekan kasus penghilangan paksa lewat simbol Wiji Thukul dengan membuat mural di sejumlah titik di Jakarta.

Banyak aktivis yang bergabung dalam gerakan itu. Beberapa diskusi soal Thukul digelar. Puisi-puisi Thukul dibacakan. Gerakan ini juga menerbitkan buku kumpulan puisi Wiji Thukul berjudul Nyanyian Akar Rumput, terbit pada Maret 2014.

Setelah ide membuat film itu muncul, Ebe—sapaan akrab Yulia Evina Bhara—dan teman-temannya melakukan riset tentang Thukul. Mereka mencari literasi yang membahas Thukul, menemui para sahabat, dan mengumpulkan sejumlah puisi Thukul.

Sebelum memulai riset, mereka sudah sepakat menunjuk Yosep Anggi Noen sebagai sutradara.

Pemilihan Anggi tanpa perdebatan. Perdebatan panjang justru terjadi di saat riset, yang memakan waktu nyaris 1,5 tahun sebelum naskah film ditulis Anggi.

Riset itu akhirnya mengarah pada satu fragmen hidup Thukul ketika bersembunyi di Pontianak dari kejaran para tentara dan intelijen Orde Baru. Thukul dicari-cari penguasa karena dituduh “pembuat onar” pada peristiwa 27 Juli 1996—dikenal “Kudatuli”, sebuah serangan yang direncanakan oleh orang-orang pro-Soeharto terhadap kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

“Fragmen saat Wiji di Pontianak ini menunjukkan kegelisahannya, ketakutan. Di situ terlihat bahwa Wiji itu manusia biasa, sama seperti kita,” tutur Anggi.

Untuk mendapat cerita tentang kehidupan Thukul di Pontianak, tim produksi film menemui Martin Siregar, sahabat Thukul, aktivis yang menyembunyikan Thukul di Pontianak. Martin menjadi saksi hidup bagaimana kehidupan Thukul selama di sana.

Dari Martin, tim produksi mendapat banyak cerita. Salah satunya tentang ketakutan Thukul saat bertemu dengan tentara di tempat potong rambut. Thukul yang menyamar dengan nama Paul cuma diam ketika ditanya si tentara tentang asalnya. Fragmen itu tergambar dalam film Istirahatlah Kata-Kata.

Berbeda dengan riset yang berselang lama, pengambilan gambar justru berlangsung 15 hari. Ada dua tempat yang dipakai: Pontianak dan Yogyakarta. Selama 12 hari, kru film mengambil latar Kota Pontianak dan Sungai Kakap. Sementara syuting di Yogyakarta berlangsung dua hari di Kali Duren dan Terban.

“Ada beberapa titik di Pontianak. Kalau di Yogyakarta di kampungnya Anggi. Kalau di Pontianak dipilih karena memang ceritanya tentang Pontianak. Kecuali di Yogyakarta itu karena faktor lebih mudah menjangkaunya,” ungkap Ebe.

Menghidupkan Thukul Melalui Film

Pemilihan Pemeran

Satu malam pada awal tahun 2016, Marissa Anita menerima satu pesan singkat dari Yosep Anggi Noen: “Mar, kamu bisa bahasa Jawa, kan?”

“Iya bisa, kenapa, Nggi? Kamu mau ngajak aku main film?” jawab Marissa.

Tanpa basa-basi, Anggi langsung menawari Marissa untuk memerankan salah satu tokoh dalam film itu. Marissa langsung mengiyakan tanpa pikir panjang begitu mengetahui film tersebut mengangkat sosok Wiji Thukul.

“Saya waktu itu ditawari peran pembantu saja, bukan Sipon, istrinya Wiji. Saya tetap saja mau, karena ini tentang Wiji Thukul. Adalah kehormatan bagi saya bisa terlibat dalam film ini,” kata Marisa sesudah penayangan perdana Istirahatlah Kata-Kata.

Namun, saat proses lokakarya bersama para pemeran lain, Anggi justru meminta Marissa memerankan Sipon. Marissa kaget.

“Saya bilang ke Anggi, ‘Enggak bisa gitu, dong. Ini, kan, peran besar. Enggak bisa gitu saja.’ Tapi Anggi meyakinkan saya, pokoknya bisa,” ujar Marissa.

Marisa memang tidak ada mirip-miripnya dengan Sipon. Sipon bertubuh semok, sedangkan Marissa lebih ramping. Dialek bahasa mereka berbeda. Sipon dengan logat Solo, Marissa akrab dengan dialek Surabaya yang lebih lugas. Perbedaan itu sempat membuat Marissa khawatir. Anggi sendiri meminta Marissa untuk tidak meniru Sipon.

“Saya bahkan tidak boleh bertemu dengan Mbak Sipon supaya saya tidak mengimitasi. Saya diberi kebebasan untuk menginterpretasikan perasaan lakon,” kata Marissa.

Sementara untuk pemeran Wiji Thukul, Anggi mempercayakan kepada Gunawan ‘Cindil’ Maryanto, penulis dan pelakon teater Garasi di Yogyakarta. Dari perawakan, Cindil sedikit mirip dengan Thukul. Mukanya sama-sama terkesan tengil, rambutnya sama ikalnya. Bedanya, Cindil sedikit lebih pendek dan lebih berisi dibanding Thukul yang kerempeng. Untuk lebih membuat mirip, dokter memasang gigi tonggos palsu pada Cindil. Gigi palsu itu membuat Gunawan menjadi cadel, persis seperti Thukul.

Dua peran penting dalam film itu dipilih Anggi karena alasan yang sama. Keduanya sama-sama menguasai panggung. “Marissa sudah terbiasa di depan kamera. Mas Gunawan, enggak usah ditanya, dia itu salah satu pendiri teater Garasi,” ujar Anggi.

Untuk pemeran lain, Anggi menerapkan kriteria yang sama. Edwart ‘Edo’ Boang Manalu, yang memeran Martin, juga pemain teater. Edo sudah terbiasa tampil di panggung. Begitupula Melanie Subono yang memerankan tokoh Ida, istri Martin. Melanie sudah terbiasa di atas panggung sebagai musisi.

“Edo itu memeran Martin menjiwai sekali, bahkan saat adegan ngelap motor, enggak ada falsnya,” kata Anggi.

Melipatgandakan Wiji Thukul

Setelah melalui proses panjang dan memakan waktu nyaris tiga tahun, film Istirahatlah Kata-Kata akhirnya tayang perdana di Festival Film Locarno pada Agustus 2016. Berturut-turtu film lalu diputar di beberapa festival film, di antaranya The Pacific Meridian International Film Festival, Filmfest Hamburg, Festival Des 3 Contines, dan International Film Festival Rotterdam.

Di Locarno, film ini mendapatkan sambutan cukup meriah. Anggi mengungkapkan, ada banyak penonton yang mengikuti sesi diskusi usai pemutaran film. “Kebanyakan mereka penasaran soal siapa itu Wiji Thukul, bagaimana sekarang kasusnya?” ujar Anggi.

Pada saat penayangan perdana di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, film ini mendapat perhatian dari sejumlah pejabat, aktivis, dan selebritas. Beberapa pejabat di antaranya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, dan Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid. Dari kalangan artis ada Dian Sastrowardoyo, Fadli Padi, Sarah Sechan, dan Hannah Al Rashid.

Pemutaran perdana itu untuk menyambut penayangan serentak pada 19 Januari di 15 kota di 19 bioskop. Lima belas kota ialah Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Mojokerto, Makasar, Kupang, Pontianak, Medan, Purwokerto, dan Denpasar.

Konsekuensi pemutaran Istirahatlah Kata-Kata di bioskop komersial: ia harus mendapatkan banyak penonton. Jika tidak, napas tayang di bioskop takkan panjang. Karena itu Anggi mengajak warga Indonesia, khususnya anak muda, untuk berbondong-bondong ke bioskop menyaksikan film ini.

“Setelah tidak di bioskop, film ini masih akan terus berjuang untuk bertemu dengan para penonton. Karena itu ajaklah orang-orang terkasih untuk menonton, sebab sejatinya film ini bercerita tentang kehilangan orang yang kita cintai,” ujar Anggi.

Kalaupun film ini tidak bertahan lama di bioskop komersial, Anggi tetap percaya bahwa film Thukul akan memberikan sesuatu bagi demokrasi di Indonesia. Anggi yakin film ini tidak hanya menghidupkan Thukul, tapi juga melipatgandakan sosok Wiji Thukul.

“Ia akan tetap ada dan berlipat ganda,” tutur Anggi.

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

Antisipasi Paham ISIS dengan Pemahaman Toleransi Islam

 

Antisipasi tersebut dilakukan dengan memasukkan pemahaman ajaran Islam yang toleran, saling menghormati, dan menghargai nilai-nilai keberagaman dalam kurikulum wajib.

tokoh lintas agama,isis,konferensi persTokoh lintas agama perwakilan HKBP Philadelphia Pendeta Palty Panjaitan, Jamaah Ahmadiyah Indonesia Maulana Zafrullah Pontoh, Ketua Dewan Syura Ijabi-Syiah Jallaludin Rakhmat, Forum Masyarakat Kristiani Indonesia Jerry Rumahtalu, dan Ketua Persatuan Gereja Indonesia Pendeta Phil Erari (kanan ke kiri) mengangkat poster anti-Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dalam konferensi pers penolakan kehadiran ISIS di Indonesia, Senin (4/8) (Dany Permana/Tribunnews).

Seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mengantisipasi munculnya gerakan radikal negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Antisipasi tersebut dilakukan dengan memasukkan pemahaman ajaran Islam yang toleran, saling menghormati, dan menghargai nilai-nilai keberagaman suku, agama, ras, dan budaya, dalam kurikulum wajib di semua lembaga pendidikan.

“Dalam kurikulum kita, ada mata pelajaran wajib yang kita ajarkan yakni Islam Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja). Di mana, pola pikir yang diajarkan terutama untuk pemahamaan agama, yakni dengan cara mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli dengan kaum ekstrim naqli. Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur’an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik,” kata M Syaeful Bahar, Ketua LP Maarif NU Bondowoso, Minggu (10/8).

Diharapkan kata dia, dengan cara berpikir seperti itu, kaum muda NU tidak mudah tergoyahkan dengan paham-paham keagaamaan baru, yang masuk ke Indonesia.

“Jadi memang akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan pemahaman agama Islam “impor” yang sangat radikal, jauh dari wajah Islam yang sesungguhnya. Islam yang menghargai sebuah perbedaan, Islam yang mengajarkan sikap toleransi, sikap saling menghormati, dan tidak memaksakan suatu kehendak. Untuk itu kita proteksi sejak dini, dengan memberikan pemahaman Islam, yang Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi semua manusia dan alam), bukan Islam garis keras,” ujar alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid ini.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) LP Maarif NU Bondowoso, Daris Wibisono, membenarkan jika seluruh lembaga pendidikan di bawah LP Maarif NU sudah menerapkan pelajaran Aswaja dalam kegiatan belajar mengajar.

“Kami sudah mengajarkan mata pelajaran (Aswaja) di seluruh lembaga pendidikan kamu. Saat ini tercatat ada 32 lembaga pendidikan formal yang berdiri dibawah LP Maarif NU. Lembaga itu mulai dari tingkat SD hingga SMA,” ucap dia.

Daris berharap, dengan mata pelajaran Aswaja yang diajarkan di seluruh lembaga pendidikan NU, seluruh peserta didiknya mampu berfikir luas, sehingga tidak mudah dimasuki dengan paham-paham Islam baru.

(Ahmad Winarno/Kompas.com)

dikutip dari NatGeo Indonesia

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting

South Bronx NYPD – 1976 The Police Tapes [Review]

Remember Bronx River rollin thick
With Kool DJ Red Alert and Chuck Chillout on the mix
When Afrika Islam was rockin the jams
And on the other side of town was a kid named Flash
Patterson and Millbrook projects
Casanova all over, ya couldn’t stop it…
– South Bronx – Boogie Down Productions, 1987

Penemuan mayat di sudut jalan, seorang ibu yang diperangkap oleh anaknya yang sakit jiwa, suara track Kool Herc dari speaker di depan toko kelontong, pembakaran gedung oleh sang tuan tanah, seorang anak yang ditampar ibunya dengan kapak, beat-beat breakdance di penghujung malam, wajah mabuk anggota geng dengan nanar dendam, sinar redup toko makanan yang sehari sebelumnya dirampok.

Saya jarang meresensi film, terlebih film dokumenter, tapi yang satu ini terlalu istimewa untuk tidak dibagi-bagi, meski ‘agak’ terlambat. 1976 The Police Tapes adalah film dokumenter hitam putih dibuat oleh Alan & Susan Raymond.  Dua orang ini selama berbulan-bulan dengan rajin mengikuti keseharian polisi dari departemen 44th precinct of the South Bronx, area dengan tingkat kejahatan paling tinggi di NY saat itu, mengusut kasus-kasus pembunuhan, perang geng, pemerkosaan, pembakaran gedung dan kasus horor sejenis yang sudah menjadi bagian akrab dari South Bronx. Tak ada narasi, raw and rugged. Kalian hanya akan menemukan keterkaitan satu dan lainnya melalui komentar-komentar dari wawancara Anthony Bouza, Bronx Borough Commander departemen polisi lokal.

Yang membuatnya menarik adalah bagaimana dokumenter ini menangkap aura NY tahun-tahun primitif awal hiphop dilahirkan. Potret urban yang sering divisualisasikan Henry Chalfant dalam foto-fotonya; aura dari musik yang diputar dijalanan dari Kool Herc, DJ Flowers hingga Jazzy Jay, tembok-tembok ber-graffiti khas era tersebut dan fashion jalanan menakjubkan dari mereka-mereka yang di interogasi. Pula tentunya, kalian tak ingin melewatkan dandanan polisi era sekian dengan kumis tebal ala detektif 70-an, rambut mullet dan afro para gangster dan yang paling utama sebuah faktor signifikan yang melahirkan musik-musik hebat seperti punk dan hiphop: kekalutan, keputusasaan dan keterasingan.

Sangat menakjubkan bagaimana anak-anak muda Bronx yang dalam kesehariannya dikelilingi drugs, miras, kejahatan tingkat tinggi, perang gang dan lain sebagainya, dapat menghasilkan artform seperti hiphop. Henry Chalfant dalam sebuah tulisannya sempat pula mendeskripsikan kekagumannanya pada generasi pelopor 70-an ini, bagaimana, di antara gedung-gedung bobrok, sekumpulan anak muda bermain basket dan menggelar matres dan bertari kejang ria dengan riang gembira. Seolah mereka muak dan tak ambil pusing dengan keadaan bobrok sekeliling mereka, dan yang mereka pedulikan adalah menyempurnakan tarian mereka bersiap menantang crew B-Boy oponen mereka di sore harinya, sekaligus mengingatkan kita betapa bombastisnya album debut Boogie Down Production di tahun 1987. Thats hiphop on the purest form.

Mengutip komentar Kapolsek South Bronx, Anthony Bouza yang menjawab latar belakang tingginya angka kriminal disana era itu: “Kemiskinanlah yang membuat ini semua terjadi, Kita semua memproduksi para kriminal, kita semua memproduksi kebrutalan”. Sesuatu yang ironis, mengingat hari ini hiphop adalah komodifikasi kultur yang menghasilkan milyaran dollar, namun keadaan masyarakat dimana kultur itu lahir tidak banyak berubah. Tetap terasing, terbelakang dengan angka kriminal tinggi dan tetap miskin.

Review dari morgue vanguard

Leave a comment

Filed under Download, Unwriting

Mengenal Si Penulis “Kitab Suci” Nazi

Alfred Rosenberg adalah penulis buku

The Myth of the Twentieth Century

yang menjadi “kitab suci” pergerakan Nazi.

alfred rosenberg,hitler
Alfred Rosenberg (kiri) bersama Adolf Hitler
saat inagurasi peringatan perang pada tahun 1923.
(Dok. Dr. Wilfried Bahnmüller, Imagebroker/Alamy/National Geographic News).

Nama Alfred Rosenberg, kaki tangan pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler, kembali terdengar.

Tersebab, buku hariannya yang baru ditemukan pada tahun 2010, akan segera dikupas.

Menurut pihak Pemerintah Amerika Serikat dan Museum Holocaust di AS,

penaksiran isi buku harian ini akan membuka tabir rantai tertinggi kepemimpinan Nazi.

Detil mengenai buku harian ini diungkap dalam jumpa pers, Kamis (13/6) di Wilmington, Delaware, AS.

Diary ini sendiri tadinya sempat hilang pascahukuman mati Rosenberg pada tahun 1946. Lalu, siapa sebenarnya pria bernama lengkap Alfred Ernst Rosenberg ini?

Rosenberg memandang dirinya sendiri sebagai intelektual dan setingkat dengan para petinggi Nazi macam Hitler, Rudolf Hess, dan Hermann Goering.

Namun, prestasi terbaik Rosenberg sebenarnya adalah menulis buku The Myth of the Twentieth Century yang menjadi “kitab suci” pergerakan Nazi.

Terjemahan buku ini laris manis terjual ke penjuru Eropa dan menumbuhkan antisemit.

Bahasa penulisannya dibesar-besarkan dan rumit, penuh dengan pseudo-scientific (sains mengada-ada), dan prinsip semi-mistik.

Teksnya berisi kebencian pada kaum Yahudi, bangsa Rusia, Polandia, Ceko, dan bangsa manapun yang dianggapnya “di bawah manusia”.

Menurut salah satu menteri di kabinet saat itu, Albert Speer, Hitler menganggap buku itu sebagai “sesuatu yang tidak bisa dimengerti siapa pun”.

Ironisnya, Rosenberg sendiri dianggap sebagai orang asing oleh sesama Jerman.

Ia lahir di Estonia, menuntut ilmu di Moskow dan bangga atas gelar diplomanya dalam bidang arsitektur.

alfred rosenberg
Alfred Rosenberg. (Wikimedia Commons)

Ini membuat musuh-musuhnya di Nazi menyebarkan rumor bahwa Rosenberg bukanlah orang Jerman asli.

Meski demikian, Rosenberg pernah dipercaya Hitler untuk memegang tampuk kekuasaan Nazi ketika ia dipenjara saat gagal mengkudeta Jerman pada 1923.

Namun, Hitler mengkritiknya sebagai pemimpin malas dan tidak cocok memimpin. Tapi, sekali lagi, Hitler tetap mempercayainya sebagai pendidik spiritual dan filosofi Nazi pada 1934. Ia memunculkan ide ekspansi ke Timur, perang tanpa ampun pada warga Slavia, dan gagasan “lebensraum” (tinggal di luar angkasa).

Tahun 1946, pengadilan internasional di Nuremberg, Jerman, memutuskan bahwa Rosenberg bersalah dalam kejahatan kemanusiaan. Ia dianggap sebagai pembentuk ideologi Nazi dan mendapat hukuman gantung.

Menurut salah satu jurnalis AS yang hadir saat eksekusinya, Rosenberg merupakan satu-satunya petinggi Nazi yang menolak mengucapkan pernyataan terakhir.

(Charles Fenyvesi. National Geographic News)

Leave a comment

Filed under Unwriting