Tag Archives: persija

Sebab Ini Bukan Lagi Soal Rivalitas Yang Hanya Berlangsung Selama 90 Menit

prsija

Pada tanggal 22 Juli kemarin publik dari kedua kota yang terpisah oleh ruas Tol Cipularang mengalami lagi sebuah ajang adu gengsi lewat kancah persepakbolaan tanah air. Kedua kesebelasan dari kedua kota tersebut beradu peluh didalam lapangan guna memperbaiki posisi aman didalam klasemen Liga besutan kerjasama antar korporat ojek online dan aplikasi gawai penyedia piknik.

Pertandingan berlangsung sangat panas, tempo permainan dipaksa keras, pemain antar dua kesebelasan pun saling beradu ego antar satu sama lain. Ya wajar sih namanya juga Derby, skill mengecoh bola urusan belakang, yang penting lawan jadi tumbang (entah itu lawan tim yang bertanding  maupun para pendukungnya)

Sebetulnya menurut dari sudut pandang saya api rivalitas dari kedua kubu yang dipisah oleh adat istiadat berbeda ini sudah mencapai titik paling memuakkan. Bagaimana tidak, disetiap pertandingan Persija dan Persib melawan tim manapun kejadian pengroyokan oleh (mengambil istilah pak polisi) Oknum pasti selalu terdengar di semua kanal berita maupun social media, mereka yang hidup diantara kedua kota Jakarta dan Bandung maupun dikota-kota lain pun kena imbasnya, sialnya juga hampir rata-rata korban pengroyokan hanya salah sasaran Oknum yang terlanjur kalap. Tentunya banyak pihak yang dirugikan setiap kejadian tersebut terjadi, gaung gegap gempita perdamaian pun terdengar hanya seperti omong kosong belaka.

Tapi saya angkat topi tinggi-tinggi untuk para petinggi dari kedua pendukung kesebelasan tersebut..

Paska tiga hari sebelum pertandingan, ketua umum The Jak Mania Ir. Ferry Indrasjarief atau akrab disebut Bung Ferry menyambangi rumah pentolan Viking Bandung yaitu Heru Joko dengan niatan bersilahturahmi sekaligus nyekar ke makam salah satu korban kekerasan saat Derby Elclasico alm. Rangga dan juga dirigen bobotoh yg sangat disegani alm. Ayi Beutik. Menurut saya pertemuan ini adalah salah satu psy-war paling positif, kedua orang yang sangat dihormati dimasing-masing kubunya tersebut meninggalkan semua jubah ke egoan untuk kemudian bersatu dalam alam perdamaian tanpa sekalipun timbul hasrat untuk saling membunuh, yang kalo menurut bahasa John Lennon “I don’t believe in killing whatever the reason!”
Sebab rasa persatuan didalam balutan perdamaian adalah konsekuensi tanpa kompromi menurut mereka.

Tapi sejujurnya saya sangat menyayangkan sekali kejadian yang terjadi sehabis pertandingan itu, sehabis wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan tensi tinggi layaknya sehabis memakan daging kambing 2 Kilogram, salah satu penyerang Persib instan langsung memukul gelandang persija Sutanto Tan. Karena dipicu oleh tekel keras yang dilakukan Sutanto, semua official tim pun berjibaku ke dalam lapangan untuk saling baku hantam maupun melerai. Buntut dari kekisruhan didalam lapangan tersebut, para Bobotoh terpancing emosi, timpukan botol, flare, serta jutaan kata maki meluncur deras menuju kubu Persija Jakarta. Sungguh sebuah kejadian yang sangat memalukan, dimana seharusnya momen derby sarat adu gengsi ini menjadi wadah bagi publik kedua kota untuk bersatu, tapi malah seperti adegan Crow Zero versi suporter.

Nasi sudah menjadi bubur, dan tukang buburnya pun sudah menjadi haji. Cerita lama soal permusuhan ini mungkin akan bertahan hingga puluhan tahun mendatang, hingga papan nisan menjadi saksi bagaimana tindakan ala suku barbar tak lagi kompeten dalam menunjukan eksistensi diri.

Salam Jempol Telunjuk.

 

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under Unmind, Unwriting